Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit
| Stok | Habis |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis Pusaka : Keris Leres
Dhapur : Tilam Upih
Pamor : Lar Gangsir
Tangguh : Tuban Majapahit
Warangka : Ladrang Jawa Timuran, Bahan Kayu Pandan Laut Kendit
Deder/Handle : Yudhawinatan, Bahan Kayu Cendana Wangi
Pendok : Blewah, Bahan Tembaga
Mendak : Kendhit, Bahan Perak
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir mempunyai perpaduan simbol yang menarik. Tilam Upih erat dengan filosofi ketenteraman, sandaran hidup, dan kesejahteraan keluarga, sedangkan Pamor Lar Gangsir secara tradisional dimaknai sebagai perlambang kelancaran jalan, kemampuan mencari peluang, dan kecerdikan menghadapi kehidupan.
Sementara itu, Tuban merupakan salah satu kawasan penting di pesisir utara Jawa yang mempunyai sejarah panjang sejak masa Hindu-Buddha hingga periode Islam. Karena itu, ketika membicarakan “keris Tuban Majapahit”, sebaiknya dibedakan antara konteks sejarah Tuban pada masa Majapahit dan klaim bahwa suatu bilah tertentu pasti dibuat pada zaman Majapahit.
Catatan: uraian filosofi pamor merupakan pemaknaan tradisional/budaya, bukan bukti kekuatan gaib. Penetapan tangguh sebuah keris juga memerlukan pemeriksaan langsung terhadap bilah dan seluruh ricikannya.
FILOSOFI DHAPUR TILAM UPIH

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa.
Nama Tilam Upih dapat direnungkan dari gambaran tilam dan upih.
TILAM
Tilam berarti tempat tidur atau alas untuk beristirahat.
Ia menjadi simbol:
- ketenteraman,
- kenyamanan,
- tempat kembali,
- keluarga,
- dan ketenangan batin.
UPIH
Upih berkaitan dengan pelepah/pembungkus pada pohon pinang atau kelapa.
Secara simbolik, upih dapat dipandang sebagai sesuatu yang membungkus dan melindungi.
Maka Tilam Upih dapat dimaknai:
“Kehidupan yang mempunyai tempat bersandar dan perlindungan, sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan tenteram.”
TILAM UPIH DAN KELUARGA
Tempat tidur bukan hanya tempat beristirahat.
Dalam filosofi kehidupan Jawa, rumah merupakan tempat manusia:
berangkat → berjuang → pulang → beristirahat → mempersiapkan diri kembali.
Karena itu Tilam Upih sangat cocok dimaknai sebagai simbol:
ketenteraman rumah tangga dan keharmonisan keluarga.
Seberapa jauh seseorang pergi mencari penghidupan, pada akhirnya ia membutuhkan tempat untuk kembali.
FILOSOFI PAMOR LAR GANGSIR

Lar Gangsir merupakan salah satu nama pamor yang dikenal dalam tradisi perkerisan.
Secara bahasa, lar dapat dikaitkan dengan sayap, sedangkan gangsir dikenal sebagai nama binatang kecil yang membuat lubang atau menggali tanah.
Dari gambaran tersebut muncul pemaknaan simbolik yang menarik:
LAR
→ kemampuan bergerak dan mencari ruang.
GANGSIR
→ ketekunan, kecerdikan, dan kemampuan membuka jalan.
Maka Lar Gangsir dapat direnungkan sebagai:
“Kemampuan menemukan jalan kehidupan meskipun keadaan tidak selalu mudah.”
MAKNA “LAR” — SAYAP
Sayap merupakan simbol:
- cita-cita,
- kebebasan,
- keberanian,
- kemampuan bergerak,
- dan kesempatan.
Manusia membutuhkan “sayap” untuk mengejar cita-cita.
Tetapi sayap saja tidak cukup.
Seseorang juga membutuhkan arah.
Karena itu:
“Jangan hanya mempunyai keinginan untuk terbang; ketahui ke mana harus menuju.”
MAKNA GANGSIR
Gangsir membuat jalan dengan ketekunan.
Ia tidak harus mempunyai kekuatan sebesar hewan besar untuk menciptakan ruang bagi dirinya.
Secara filosofi:
“Ketekunan dapat membuka jalan yang tidak dapat ditembus oleh kekuatan semata.”
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan:
- usaha kecil yang dilakukan terus-menerus,
- kesabaran menghadapi kesulitan,
- tidak mudah menyerah,
- dan selalu mencari solusi.
LAR GANGSIR — REZEKI DAN USAHA
Lar Gangsir dapat dimaknai sebagai simbol seseorang yang:
melihat peluang → bergerak → bekerja → tekun → menemukan jalan.
Jadi jika dikaitkan dengan rezeki, filosofinya bukan rezeki datang tanpa usaha, melainkan:
“Rezeki harus dijemput dengan ikhtiar, kecerdikan, dan ketekunan.”
TILAM UPIH + LAR GANGSIR
Perpaduan kedua unsur tersebut menghasilkan filosofi yang sangat harmonis.
TILAM UPIH
→ rumah, ketenteraman, perlindungan.
LAR GANGSIR
→ usaha, kecerdikan, dan kemampuan mencari jalan.
Maka:
“Berjuanglah dengan sungguh-sungguh di luar rumah, tetapi jangan lupa tujuan perjuangan itu adalah membangun kehidupan yang tenteram.”
Dengan kata lain:
bekerja untuk hidup, bukan hidup hanya untuk mengejar harta.
SEJARAH TUBAN PADA MASA MAJAPAHIT
Tuban mempunyai posisi penting dalam sejarah pesisir utara Jawa.
Letaknya di pantai utara menjadikannya kawasan strategis untuk:
- perdagangan,
- pelayaran,
- hubungan antarpulau,
- dan pertukaran kebudayaan.
Pada masa Majapahit, Tuban dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting.
Sumber-sumber sejarah dan catatan perjalanan asing menunjukkan pentingnya jaringan pelabuhan Jawa dalam perdagangan regional pada masa tersebut.
TUBAN SEBAGAI BANDAR
Posisi Tuban membuatnya menjadi penghubung antara wilayah pedalaman Jawa dengan dunia maritim.
Dari pelabuhan, berbagai komoditas dapat bergerak menuju:
Jawa → Nusantara → Asia Tenggara → jaringan perdagangan Asia.
Kondisi tersebut membuat masyarakat Tuban berinteraksi dengan berbagai kebudayaan.
Karena itu Tuban mempunyai karakter budaya yang terbentuk dari pertemuan:
- budaya Jawa,
- tradisi pesisir,
- perdagangan,
- Hindu-Buddha,
- kemudian Islam.
TUBAN DAN MAJAPAHIT
Hubungan Tuban dengan Majapahit sangat penting.
Tuban termasuk kawasan pesisir yang berada dalam jaringan politik dan ekonomi Majapahit.
Dalam sejumlah sumber sejarah, Tuban disebut sebagai salah satu daerah/pelabuhan yang mempunyai hubungan erat dengan kerajaan tersebut.
Karena itu, ketika berbicara mengenai keris Tuban gaya Majapahit, konteks yang paling aman adalah:
tradisi perkerisan Tuban yang berkembang dalam lingkungan sejarah Jawa pada masa Majapahit dan sesudahnya.
Tidak semua keris yang disebut “Tuban Majapahit” dapat dibuktikan secara arkeologis sebagai keris yang dibuat pada masa pemerintahan Majapahit.
TRADISI EMPU DAN PERKEMBANGAN KERIS
Keris merupakan produk budaya yang berkembang melalui perjalanan panjang.
Keris sudah dikenal di Jawa sebelum Majapahit.
Pada masa Majapahit, tradisi pengolahan logam dan pembuatan senjata berkembang semakin kompleks.
Salah satu bukti terkenal adalah Candi Sukuh, dari masa akhir Majapahit, yang memiliki relief menggambarkan aktivitas seorang empu menempa logam.
Relief tersebut sangat penting karena memperlihatkan bahwa pekerjaan pandai besi dan pembuatan senjata merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Jawa pada masa tersebut.
TUBAN DAN DUNIA PERKERISAN
Sebagai kawasan pesisir yang aktif, Tuban kemudian berkembang sebagai salah satu lingkungan budaya yang mempunyai tradisi pusaka sendiri.
Dalam tradisi tangguh perkerisan dikenal istilah:
Tangguh Tuban
yang menunjukkan karakter gaya/lingkungan pembuatan tertentu.
Namun tangguh Tuban tidak otomatis berarti sebuah keris pasti dibuat pada satu tahun tertentu.
Tangguh merupakan identifikasi tradisional berdasarkan kombinasi ciri.
Di antaranya:
- bentuk bilah,
- ricikan,
- bahan besi,
- pamor,
- garap,
- karakter bilah,
- dan pasikutan.
KARAKTER TUBAN SEBAGAI BUDAYA PESISIR
Jika secara filosofis dikaitkan dengan lingkungan Tuban, terdapat karakter yang menarik:
terbuka terhadap dunia luar, tetapi tetap mempunyai akar tradisi sendiri.
Pelabuhan membuat masyarakat pesisir berhubungan dengan berbagai bangsa dan kebudayaan.
Namun interaksi tersebut tidak berarti kehilangan identitas.
Justru terjadi proses:
menerima pengaruh → mengolah → menyesuaikan → membentuk identitas lokal.
PERALIHAN MAJAPAHIT MENUJU ISLAM
Tuban juga penting dalam sejarah perubahan budaya Jawa dari masa Hindu-Buddha menuju Islam.
Sebagai bandar pesisir, Tuban kemudian menjadi salah satu kawasan penting dalam perkembangan Islam di Jawa.
Karena itu sejarah Tuban tidak berhenti pada masa Majapahit.
Ia menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang:
Jawa Hindu-Buddha → pesisir Islam → kerajaan Islam → tradisi Jawa-Islam.
Tradisi keris pun ikut mengalami perkembangan dan pewarisan.
FILOSOFI TUBAN DAN TILAM UPIH
Jika sejarah Tuban disatukan dengan filosofi Tilam Upih, muncul sebuah pesan menarik.
Tuban adalah tempat orang datang dan pergi.
Pedagang datang membawa barang.
Pelaut berangkat mencari penghidupan.
Kapal datang membawa berita dan kebudayaan.
Namun setiap perjalanan membutuhkan tempat untuk kembali.
Di sinilah filosofi Tilam Upih menjadi relevan:
“Sejauh apa pun seseorang pergi mencari rezeki, jangan sampai kehilangan tempat untuk pulang.”
7 FILOSOFI UTAMA
KETENTERAMAN
Bangun kehidupan yang memberikan ketenangan bagi keluarga.
PERLINDUNGAN
Jaga apa yang menjadi amanah.
KETEKUNAN
Jangan mudah menyerah ketika jalan terasa sulit.
KECERDIKAN
Tidak semua masalah harus dilawan dengan kekuatan.
IKHTIAR
Rezeki harus dijemput melalui usaha.
ADAPTASI
Mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.
KESEIMBANGAN
Kejar keberhasilan, tetapi jangan mengorbankan keluarga dan ketenteraman batin.
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 38 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jenis : Keris Luk 13 Dhapur : Sengkelat Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo
*Harga Hubungi CSKeris Sabuk Inten Luk 11 Pamor Wos Wutah Tangguh Banten merupakan salah satu pusaka agung Nusantara yang dikenal sebagai simbol kejayaan, kekayaan, kewibawaan, dan kemapanan hidup. Keris ini tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga sarat makna filosofi serta dipercaya memiliki tuah kuat dalam urusan derajat, rezeki, dan kepemimpinan. Sabuk Inten termasuk dhapur keris yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFILOSOFI KERIS JALAK SANGU TUMPENG Jalak Sangu Tumpeng adalah nama dhapur, yaitu bentuk/ricikan bilah keris. Jadi Jalak Sangu Tumpeng berbeda pengertiannya dengan tangguh HB/Yogyakarta atau pamor. Dalam ilmu keris, bentuk bilah, pamor, dan tangguh merupakan aspek yang dibaca secara terpisah. Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diurai: Jalak → burung yang aktif mencari makananSangu → bekalTumpeng… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Sabuk Inten Keris Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris paling populer dan berwibawa dalam tradisi Jawa. Nama Sabuk (ikat pinggang) dan Inten (berlian) mengandung makna: ikatan kehormatan, pengendalian diri, kemuliaan dan keteguhan hati. Secara filosofis, Sabuk Inten melambangkan: pemimpin yang mampu mengikat kekuatan lahir dan batin secara seimbang. Keris Sabuk Inten sering diasosiasikan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Tilam Upih Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan filosofi yang sangat kuat tentang ketenteraman keluarga, kecukupan rezeki, kemampuan menjaga hasil usaha, dan kehidupan yang seimbang. Jika dikaitkan dengan Mataram Sultan Agung, pusaka ini dapat dibaca sebagai simbol manusia yang kuat dalam prinsip, tekun bekerja, mampu mengelola kemakmuran, serta mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat…. selengkapnya
Rp 6.555.000 Rp 8.111.000KERIS TILAM UPIH Keris Tilam Upih – Dalam kisah tutur yang hidup di masyarakat Jawa, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan dawuh yang hingga kini menjadi pitutur luhur dalam dunia tosan aji: keris pertama yang sebaiknya dimiliki seseorang adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, dawuh ini terasa janggal. Mengapa bukan keris-keris agung yang secara visual lebih memikat dan… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.999.000Filosofi Naga Sapta Naga dalam simbolisme Nusantara dan Jawa sering hadir sebagai perlambang kekuatan, penjagaan, kewibawaan, kesuburan, serta daya hidup. Sementara Sapta berarti tujuh. Angka tujuh dalam kebudayaan Jawa mempunyai banyak lapisan simbolik dan dapat direnungkan sebagai perjalanan menuju keselarasan dan kematangan diri. Dengan demikian, Naga Sapta dapat dimaknai sebagai: kekuatan yang harus disertai kesadaran,… selengkapnya
Rp 150.000.000Filosofi Keris Regol Karno Tinanding Karno Tinanding atau Karno Tanding secara tradisional dimaknai sebagai sesuatu yang berhadapan atau bertanding. Dalam tradisi pewayangan, nama Karno juga mengingatkan pada Adipati Karna, tokoh Mahabharata yang terkenal dengan keberanian, kesetiaan, harga diri, dan keteguhan memegang amanah. Dalam tradisi perkerisan, Karno Tinanding sering diberi filosofi: manusia harus berani menghadapi lawan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang relatif sederhana. Sumber kebudayaan pemerintah juga mencantumkan Tilam Upih sebagai salah satu ragam dhapur leres. Secara filosofis, kesederhanaan Tilam Upih dapat dimaknai sebagai: Kesahajaan — tidak perlu berlebihan untuk memiliki nilai. Ketenangan — kehidupan yang baik tidak selalu harus penuh gejolak. Ketenteraman… selengkapnya
Rp 3.555.000Filosofi Dhapur Nogo Sosro Nama Nogo Sosro atau Naga Sasra sangat erat dengan gambaran naga sebagai makhluk simbolik yang memiliki kekuatan dan kewibawaan. Dalam kebudayaan Jawa, naga dapat dimaknai sebagai perlambang: kekuatan, penjagaan, kewibawaan, keberanian, dan kekuasaan yang besar. Namun kekuatan naga bukan berarti kekuatan yang harus selalu ditunjukkan. Justru filosofi yang lebih dalam adalah… selengkapnya
Rp 120.000.000









TEGEK BALMOND 360 450 540 CARBON
Keris Carang Soka Luk 9 Tangguh Blambangan
Keris Anoman Luk 5 Pamor Keleng
Keris Kala Dete Mataram Sultan Agung
Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.