Beranda » Keris Sepuh » Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit

Rp 30.000.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis Pusaka : Keris Leres
Dhapur : Tilam Upih
Pamor : Lar Gangsir
Tangguh : Tuban Majapahit
Warangka : Ladrang Jawa Timuran, Bahan Kayu Pandan Laut Kendit
Deder/Handle : Yudhawinatan, Bahan Kayu Cendana Wangi
Pendok : Blewah, Bahan Tembaga
Mendak : Kendhit, Bahan Perak

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit

Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir mempunyai perpaduan simbol yang menarik. Tilam Upih erat dengan filosofi ketenteraman, sandaran hidup, dan kesejahteraan keluarga, sedangkan Pamor Lar Gangsir secara tradisional dimaknai sebagai perlambang kelancaran jalan, kemampuan mencari peluang, dan kecerdikan menghadapi kehidupan.

Sementara itu, Tuban merupakan salah satu kawasan penting di pesisir utara Jawa yang mempunyai sejarah panjang sejak masa Hindu-Buddha hingga periode Islam. Karena itu, ketika membicarakan “keris Tuban Majapahit”, sebaiknya dibedakan antara konteks sejarah Tuban pada masa Majapahit dan klaim bahwa suatu bilah tertentu pasti dibuat pada zaman Majapahit.

Catatan: uraian filosofi pamor merupakan pemaknaan tradisional/budaya, bukan bukti kekuatan gaib. Penetapan tangguh sebuah keris juga memerlukan pemeriksaan langsung terhadap bilah dan seluruh ricikannya.


FILOSOFI DHAPUR TILAM UPIH

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa.

Nama Tilam Upih dapat direnungkan dari gambaran tilam dan upih.

TILAM

Tilam berarti tempat tidur atau alas untuk beristirahat.

Ia menjadi simbol:

  • ketenteraman,
  • kenyamanan,
  • tempat kembali,
  • keluarga,
  • dan ketenangan batin.

UPIH

Upih berkaitan dengan pelepah/pembungkus pada pohon pinang atau kelapa.

Secara simbolik, upih dapat dipandang sebagai sesuatu yang membungkus dan melindungi.

Maka Tilam Upih dapat dimaknai:

“Kehidupan yang mempunyai tempat bersandar dan perlindungan, sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan tenteram.”


TILAM UPIH DAN KELUARGA

Tempat tidur bukan hanya tempat beristirahat.

Dalam filosofi kehidupan Jawa, rumah merupakan tempat manusia:

berangkat → berjuang → pulang → beristirahat → mempersiapkan diri kembali.

Karena itu Tilam Upih sangat cocok dimaknai sebagai simbol:

ketenteraman rumah tangga dan keharmonisan keluarga.

Seberapa jauh seseorang pergi mencari penghidupan, pada akhirnya ia membutuhkan tempat untuk kembali.


FILOSOFI PAMOR LAR GANGSIR

Lar Gangsir merupakan salah satu nama pamor yang dikenal dalam tradisi perkerisan.

Secara bahasa, lar dapat dikaitkan dengan sayap, sedangkan gangsir dikenal sebagai nama binatang kecil yang membuat lubang atau menggali tanah.

Dari gambaran tersebut muncul pemaknaan simbolik yang menarik:

LAR

→ kemampuan bergerak dan mencari ruang.

GANGSIR

→ ketekunan, kecerdikan, dan kemampuan membuka jalan.

Maka Lar Gangsir dapat direnungkan sebagai:

“Kemampuan menemukan jalan kehidupan meskipun keadaan tidak selalu mudah.”


MAKNA “LAR” — SAYAP

Sayap merupakan simbol:

  • cita-cita,
  • kebebasan,
  • keberanian,
  • kemampuan bergerak,
  • dan kesempatan.

Manusia membutuhkan “sayap” untuk mengejar cita-cita.

Tetapi sayap saja tidak cukup.

Seseorang juga membutuhkan arah.

Karena itu:

“Jangan hanya mempunyai keinginan untuk terbang; ketahui ke mana harus menuju.”


MAKNA GANGSIR

Gangsir membuat jalan dengan ketekunan.

Ia tidak harus mempunyai kekuatan sebesar hewan besar untuk menciptakan ruang bagi dirinya.

Secara filosofi:

“Ketekunan dapat membuka jalan yang tidak dapat ditembus oleh kekuatan semata.”

Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan:

  • usaha kecil yang dilakukan terus-menerus,
  • kesabaran menghadapi kesulitan,
  • tidak mudah menyerah,
  • dan selalu mencari solusi.

LAR GANGSIR — REZEKI DAN USAHA

Lar Gangsir dapat dimaknai sebagai simbol seseorang yang:

melihat peluang → bergerak → bekerja → tekun → menemukan jalan.

Jadi jika dikaitkan dengan rezeki, filosofinya bukan rezeki datang tanpa usaha, melainkan:

“Rezeki harus dijemput dengan ikhtiar, kecerdikan, dan ketekunan.”


TILAM UPIH + LAR GANGSIR

Perpaduan kedua unsur tersebut menghasilkan filosofi yang sangat harmonis.

TILAM UPIH

→ rumah, ketenteraman, perlindungan.

LAR GANGSIR

→ usaha, kecerdikan, dan kemampuan mencari jalan.

Maka:

“Berjuanglah dengan sungguh-sungguh di luar rumah, tetapi jangan lupa tujuan perjuangan itu adalah membangun kehidupan yang tenteram.”

Dengan kata lain:

bekerja untuk hidup, bukan hidup hanya untuk mengejar harta.


SEJARAH TUBAN PADA MASA MAJAPAHIT

Tuban mempunyai posisi penting dalam sejarah pesisir utara Jawa.

Letaknya di pantai utara menjadikannya kawasan strategis untuk:

  • perdagangan,
  • pelayaran,
  • hubungan antarpulau,
  • dan pertukaran kebudayaan.

Pada masa Majapahit, Tuban dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting.

Sumber-sumber sejarah dan catatan perjalanan asing menunjukkan pentingnya jaringan pelabuhan Jawa dalam perdagangan regional pada masa tersebut.


TUBAN SEBAGAI BANDAR

Posisi Tuban membuatnya menjadi penghubung antara wilayah pedalaman Jawa dengan dunia maritim.

Dari pelabuhan, berbagai komoditas dapat bergerak menuju:

Jawa → Nusantara → Asia Tenggara → jaringan perdagangan Asia.

Kondisi tersebut membuat masyarakat Tuban berinteraksi dengan berbagai kebudayaan.

Karena itu Tuban mempunyai karakter budaya yang terbentuk dari pertemuan:

  • budaya Jawa,
  • tradisi pesisir,
  • perdagangan,
  • Hindu-Buddha,
  • kemudian Islam.

TUBAN DAN MAJAPAHIT

Hubungan Tuban dengan Majapahit sangat penting.

Tuban termasuk kawasan pesisir yang berada dalam jaringan politik dan ekonomi Majapahit.

Dalam sejumlah sumber sejarah, Tuban disebut sebagai salah satu daerah/pelabuhan yang mempunyai hubungan erat dengan kerajaan tersebut.

Karena itu, ketika berbicara mengenai keris Tuban gaya Majapahit, konteks yang paling aman adalah:

tradisi perkerisan Tuban yang berkembang dalam lingkungan sejarah Jawa pada masa Majapahit dan sesudahnya.

Tidak semua keris yang disebut “Tuban Majapahit” dapat dibuktikan secara arkeologis sebagai keris yang dibuat pada masa pemerintahan Majapahit.


TRADISI EMPU DAN PERKEMBANGAN KERIS

Keris merupakan produk budaya yang berkembang melalui perjalanan panjang.

Keris sudah dikenal di Jawa sebelum Majapahit.

Pada masa Majapahit, tradisi pengolahan logam dan pembuatan senjata berkembang semakin kompleks.

Salah satu bukti terkenal adalah Candi Sukuh, dari masa akhir Majapahit, yang memiliki relief menggambarkan aktivitas seorang empu menempa logam.

Relief tersebut sangat penting karena memperlihatkan bahwa pekerjaan pandai besi dan pembuatan senjata merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Jawa pada masa tersebut.


TUBAN DAN DUNIA PERKERISAN

Sebagai kawasan pesisir yang aktif, Tuban kemudian berkembang sebagai salah satu lingkungan budaya yang mempunyai tradisi pusaka sendiri.

Dalam tradisi tangguh perkerisan dikenal istilah:

Tangguh Tuban

yang menunjukkan karakter gaya/lingkungan pembuatan tertentu.

Namun tangguh Tuban tidak otomatis berarti sebuah keris pasti dibuat pada satu tahun tertentu.

Tangguh merupakan identifikasi tradisional berdasarkan kombinasi ciri.

Di antaranya:

  • bentuk bilah,
  • ricikan,
  • bahan besi,
  • pamor,
  • garap,
  • karakter bilah,
  • dan pasikutan.

KARAKTER TUBAN SEBAGAI BUDAYA PESISIR

Jika secara filosofis dikaitkan dengan lingkungan Tuban, terdapat karakter yang menarik:

terbuka terhadap dunia luar, tetapi tetap mempunyai akar tradisi sendiri.

Pelabuhan membuat masyarakat pesisir berhubungan dengan berbagai bangsa dan kebudayaan.

Namun interaksi tersebut tidak berarti kehilangan identitas.

Justru terjadi proses:

menerima pengaruh → mengolah → menyesuaikan → membentuk identitas lokal.


PERALIHAN MAJAPAHIT MENUJU ISLAM

Tuban juga penting dalam sejarah perubahan budaya Jawa dari masa Hindu-Buddha menuju Islam.

Sebagai bandar pesisir, Tuban kemudian menjadi salah satu kawasan penting dalam perkembangan Islam di Jawa.

Karena itu sejarah Tuban tidak berhenti pada masa Majapahit.

Ia menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang:

Jawa Hindu-Buddha → pesisir Islam → kerajaan Islam → tradisi Jawa-Islam.

Tradisi keris pun ikut mengalami perkembangan dan pewarisan.


FILOSOFI TUBAN DAN TILAM UPIH

Jika sejarah Tuban disatukan dengan filosofi Tilam Upih, muncul sebuah pesan menarik.

Tuban adalah tempat orang datang dan pergi.

Pedagang datang membawa barang.

Pelaut berangkat mencari penghidupan.

Kapal datang membawa berita dan kebudayaan.

Namun setiap perjalanan membutuhkan tempat untuk kembali.

Di sinilah filosofi Tilam Upih menjadi relevan:

“Sejauh apa pun seseorang pergi mencari rezeki, jangan sampai kehilangan tempat untuk pulang.”


7 FILOSOFI UTAMA

KETENTERAMAN

Bangun kehidupan yang memberikan ketenangan bagi keluarga.

PERLINDUNGAN

Jaga apa yang menjadi amanah.

KETEKUNAN

Jangan mudah menyerah ketika jalan terasa sulit.

KECERDIKAN

Tidak semua masalah harus dilawan dengan kekuatan.

IKHTIAR

Rezeki harus dijemput melalui usaha.

ADAPTASI

Mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.

KESEIMBANGAN

Kejar keberhasilan, tetapi jangan mengorbankan keluarga dan ketenteraman batin.

Tags:

Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 8 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja