Keris Sepang Pamor Wos Wutah Kasultanan Cirebon
Rp 17.777.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis Pusaka : Keris Leres
Dhapur : Sepang
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Kasultanan Cirebon
Warangka : Gayaman Khas Cirebon, Bahan Kayu Timoho
Deder/Handle : Ukir Buto
Pendok : -
Mendak : Parijatha, Bahan Tembaga
Keris Sepang Pamor Wos Wutah Kasultanan Cirebon
Keris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan yang kuat, tenteram, dan bermanfaat bagi keluarga serta masyarakat.
FILOSOFI DHAPUR SEPANG

Sepang merupakan salah satu nama dhapur keris lurus yang dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa.
Nama Sepang dapat direnungkan melalui makna simboliknya sebagai sesuatu yang memiliki pemisah, batas, atau dua sisi yang berhadapan.
Dari sini lahir filosofi:
“Manusia harus mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang perlu dilakukan dan yang harus ditinggalkan.”
Sepang mengajarkan tentang kemampuan menentukan sikap.
Dalam kehidupan, seseorang sering berada di antara dua pilihan:
benar atau salah
jujur atau berbohong
sabar atau emosi
kepentingan pribadi atau kepentingan bersama
Karena itu filosofi Sepang dapat dikaitkan dengan ketegasan dalam mengambil keputusan.
SEPANG DAN KESEIMBANGAN
Dua sisi yang berbeda tidak selalu berarti pertentangan.
Keduanya dapat menciptakan keseimbangan.
Seperti:
siang ↔ malam
panas ↔ dingin
keras ↔ lembut
berani ↔ bijaksana
Manusia juga membutuhkan keseimbangan tersebut.
“Jangan terlalu keras sehingga melukai, tetapi jangan terlalu lembut sehingga mudah dimanfaatkan.”
Inilah salah satu pesan filosofis yang dapat diambil dari nama Sepang.
FILOSOFI PAMOR WOS WUTAH

Wos Wutah merupakan salah satu pamor yang sangat dikenal dalam tradisi keris Jawa.
Secara bahasa:
Wos → beras
Wutah → tumpah
Sehingga secara simbolik:
Wos Wutah = beras yang tumpah
Beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat agraris Jawa.
Karena itu pamor ini secara tradisional sering dimaknai sebagai perlambang:
- kecukupan,
- kelimpahan,
- kemakmuran,
- rezeki,
- dan kesejahteraan.
MAKNA BERAS
Beras tidak muncul dengan sendirinya.
Ada proses panjang:
menanam → merawat → menunggu → panen → mengolah → menjadi makanan.
Karena itu Wos Wutah memberikan pesan bahwa:
“Keberlimpahan adalah hasil dari proses yang harus dijaga.”
Rezeki yang diperoleh perlu:
dicari → dikelola → disyukuri → digunakan dengan bijaksana.
WOS WUTAH DAN BERBAGI
Beras yang tumpah juga dapat menjadi simbol keberlimpahan.
Namun keberlimpahan bukan alasan untuk menjadi serakah.
Justru:
“Semakin penuh lumbung, semakin besar pula kesempatan untuk berbagi.”
Filosofi ini mengajarkan bahwa rezeki yang baik bukan hanya memberikan kenyamanan kepada diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat kepada:
- keluarga,
- saudara,
- tetangga,
- dan masyarakat.
SEPANG + WOS WUTAH
Jika kedua unsur tersebut disatukan:
SEPANG
→ ketegasan, batas, keseimbangan.
WOS WUTAH
→ rezeki, kecukupan, kemakmuran.
Maka makna keseluruhannya:
“Jadilah manusia yang tegas dalam prinsip, seimbang dalam mengambil keputusan, dan bijaksana dalam mengelola rezeki.”
Rezeki yang banyak membutuhkan batas dan pengendalian agar tidak berubah menjadi keserakahan.
SEJARAH KASULTANAN CIREBON

Cirebon merupakan salah satu pusat penting perkembangan Islam di Jawa bagian barat.
Letaknya di pesisir utara membuat Cirebon menjadi tempat bertemunya berbagai jaringan:
perdagangan → agama → politik → budaya.
Cirebon berkembang dari lingkungan pelabuhan dan komunitas pesisir menjadi pusat pemerintahan Islam.
SUNAN GUNUNG JATI
Tokoh yang sangat penting dalam sejarah Cirebon adalah:
Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati
Beliau merupakan salah satu tokoh utama dalam perkembangan Islam di Jawa Barat dan menjadi figur sentral dalam tradisi sejarah Kesultanan Cirebon.
Perannya tidak hanya dikaitkan dengan penyebaran Islam, tetapi juga dengan perkembangan Cirebon sebagai pusat kekuasaan dan kebudayaan.
CIREBON SEBAGAI KESULTANAN
Cirebon berkembang menjadi pusat pemerintahan Islam dengan lingkungan keraton yang mempunyai tradisi budaya tersendiri.
Kehidupan keraton kemudian melahirkan dan mempertahankan berbagai warisan budaya:
- pusaka,
- keris,
- wayang,
- batik,
- seni ukir,
- arsitektur,
- tradisi keagamaan,
- dan berbagai upacara adat.
Keris dalam lingkungan keraton tidak hanya berfungsi sebagai senjata.
Ia juga menjadi:
PUSAKA
Warisan yang dijaga dan diwariskan.
LAMBANG KEWIBAWAAN
Bagian dari simbol kedudukan.
IDENTITAS
Penanda hubungan seseorang dengan lingkungan budaya dan keluarganya.
KARYA SENI
Hasil keterampilan empu dan pengrajin.
CIREBON DAN DUNIA PESISIR
Cirebon mempunyai karakter budaya pesisir.
Pesisir berarti terbuka terhadap pertemuan berbagai masyarakat.
Pedagang dari berbagai daerah datang dan pergi.
Islam berkembang melalui jaringan perdagangan dan ulama.
Budaya Jawa dan Sunda juga saling berinteraksi.
Karena itu Cirebon menjadi contoh menarik bagaimana berbagai unsur budaya dapat bertemu dan membentuk identitas baru.
CIREBON DAN KERIS
Tradisi pusaka Cirebon berkembang dalam lingkungan budaya yang berbeda dengan pedalaman Jawa.
Ada pengaruh:
- Jawa,
- Sunda,
- Islam,
- pesisir,
- dan tradisi keraton.
Hal tersebut memberikan karakter tersendiri pada kebudayaan pusaka Cirebon.
Keris kemudian tidak hanya dipandang sebagai benda senjata, tetapi sebagai bagian dari warisan leluhur dan identitas keraton.
HUBUNGAN CIREBON DENGAN JAWA
Dalam perjalanan sejarahnya, Cirebon berhubungan dengan berbagai pusat kekuasaan di Jawa.
Hubungan tersebut meliputi:
Demak → Pajang → Mataram
serta hubungan dengan wilayah Banten dan Pajajaran.
Karena posisinya sebagai wilayah peralihan antara Jawa dan Sunda, Cirebon memainkan peran penting dalam dinamika politik dan kebudayaan Jawa Barat.
CIREBON DAN MATARAM
Pada abad ke-17, hubungan Cirebon dengan Mataram menjadi bagian dari dinamika politik Jawa.
Mataram di bawah Sultan Agung menjadi kekuatan besar di Jawa.
Namun Cirebon tidak tepat dipandang sekadar sebagai wilayah Mataram.
Cirebon mempunyai struktur dan tradisi politiknya sendiri.
Hubungannya dengan Mataram lebih tepat dilihat sebagai bagian dari jaringan hubungan politik, keluarga, agama, dan kebudayaan pada masa tersebut.
WOS WUTAH DALAM FILOSOFI CIREBON
Jika filosofi Wos Wutah dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Cirebon, maknanya dapat diperluas menjadi:
“Kekuatan sebuah negeri tidak hanya diukur dari luas wilayah dan kekuasaan, tetapi dari kemampuan memberikan kehidupan yang cukup bagi masyarakatnya.”
Beras menjadi simbol kebutuhan dasar.
Kerajaan yang kuat membutuhkan:
rakyat yang tenteram → pangan yang cukup → perdagangan yang berjalan → kehidupan yang stabil.
SEPANG DAN KEPEMIMPINAN CIREBON
Filosofi Sepang juga dapat dibaca sebagai prinsip kepemimpinan.
Seorang pemimpin harus mampu:
- membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan rakyat,
- bersikap tegas,
- menjaga keseimbangan,
- tidak mudah dipengaruhi,
- dan mengambil keputusan dengan pertimbangan matang.
Maka:
“Pemimpin bukan orang yang selalu memenangkan kehendaknya sendiri, tetapi orang yang mampu menjaga keseimbangan kepentingan banyak orang.”
7 FILOSOFI UTAMA
① KETEGASAN
Berani menentukan pilihan yang benar.
② KESEIMBANGAN
Tidak berlebihan dalam bersikap.
③ KECUKUPAN
Menghargai rezeki yang sudah diperoleh.
④ KEMAKMURAN
Mengusahakan kehidupan yang baik bagi keluarga.
⑤ KEBIJAKSANAAN
Tidak menggunakan kekayaan dan kedudukan secara sembarangan.
⑥ BERBAGI
Keberlimpahan hendaknya memberikan manfaat.
⑦ JATI DIRI
Menjaga warisan budaya dan nilai leluhur.
Keris Sepang Pamor Wos Wutah Kasultanan Cirebon
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Kebo Lajer Keris Kebo Lajer merupakan salah satu dhapur keris lurus tertua dan paling disegani dalam dunia perkerisan Jawa. Kata kebo melambangkan: kekuatan besar, kesabaran, daya tahan, pengabdian tanpa pamrih. Sedangkan lajer berarti lurus dan polos, mencerminkan: kejujuran, kesederhanaan, dan kekuatan sejati yang tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan. Secara pakem, Kebo Lajer sering disebut… selengkapnya
Rp 35.555.000 Rp 38.500.000Keris Korowelang Luk 13 merupakan salah satu dhapur keris klasik yang sarat nilai kepemimpinan, kewibawaan, dan keteguhan batin. Keris ini dikenal memiliki tampilan gagah dan berkelas, terlebih dengan kinatah emas pada ricikan tertentu yang menegaskan statusnya sebagai pusaka kaum bangsawan dan pejabat tinggi. Dipadukan dengan pamor Kulit Semangka yang halus dan merata, keris ini memancarkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKERIS DHAPUR BUTO IJO Keris Buto Ijo dalam jagat perkerisan bukan sekadar bentuk artistik, melainkan manifestasi simbolik watak kekuatan besar. Kekuatan yang bila dikendalikan akan menjadi pelindung, namun bila dilepas dapat berubah menjadi kehancuran. Keris ini hadir dengan karakter keras, wingit, dan berwibawa, mencerminkan fase awal kebangkitan Mataram Islam yang masih berakar kuat pada tradisi… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat sarat makna filosofi. Kata jalak merujuk pada burung jalak, simbol kecerdikan dan kewaspadaan. Sangu berarti bekal, sedangkan tumpeng melambangkan puncak doa, kemakmuran, dan rasa syukur. Secara simbolik, Jalak Sangu Tumpeng dimaknai sebagai: pusaka bekal perjalanan hidup, simbol kecukupan lahir… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Luk 5 Dhapur : Bakung Pamor : Wos Wutah Ceprit Tangguh : Pajang Era Mataram Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Bahan : Kayu Trembalo Deder : Kayu Kemuning Mendak : Parijata, Bahan Perak Pendok : Blewah Kemalo Merah Sejarah dan Filosofi Keris Bakung 1. Sejarah Dhapur Bakung Keris Bakung termasuk… selengkapnya
Rp 25.000.000 Rp 28.750.000Dhapur Keris Parungsari Keris Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas yang memiliki karakter sangat anggun. Panjang bilah umumnya sedang dengan ricikan lengkap: Kembang kacang Lambe gajah dua (ciri pembeda utama dengan dhapur Sengkelat yang hanya satu) Sraweyan Sogokan rangkap Pejetan Greneng Menurut berbagai serat dan penuturan ahli keris, dhapur ini diasosiasikan… selengkapnya
Rp 21.111.000 Rp 24.277.650Filosofi Keris Tilam Upih Keris Tilam Upih termasuk salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih memiliki makna simbolis yang dekat dengan ketenteraman, kecukupan, kesejahteraan, dan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Dalam pemaknaan tradisional, tilam berkaitan dengan tempat beristirahat atau alas tidur, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang/areca… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis: Keris Lurus Dhapur: Jalak Ngore Pamor: Ron Genduru Winengku Tangguh: Mataram Amangkurat Warangka: Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras Filosofi Dhapur Jalak Ngore Dhapur Jalak Ngore dikenal sederhana namun sarat makna. Ricikannya meliputi: Gandik lugas Tikel alis Pejetan Greneng bersusun Burung jalak sejak lama menjadi simbol kejujuran, kejernihan hati, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Pesan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Pamor Udan Mas Asli Di antara sekian banyak ragam pamor dalam dunia perkerisan, Pamor Udan Mas menempati posisi istimewa karena kelangkaan, tingkat kesulitan pembuatannya, keindahan tata pamornya, serta kedalaman maknanya. Banyak kolektor, spiritualis, hingga peminat budaya menjadikan Udan Mas sebagai salah satu pamor impian dalam perjalanan laku. Keistimewaan Pamor Udan Mas Pamor Udan Mas… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Carito Keprabon Luk 11 merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki karakter simbolik kuat. Perpaduan dhapur Carito Keprabon, Luk 11, dan Pamor Pendaringan Kebak dapat dibaca sebagai perlambang perjalanan hidup, kepemimpinan, kecukupan rezeki, serta tanggung jawab menjaga kehidupan agar tetap seimbang. Secara tradisional, dhapur keris ditentukan oleh bentuk bilah, jumlah luk, dan ricikan yang… selengkapnya
Rp 35.500.000










Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran
TEGEK KOLONG ZOOM ORCA OLYMPUS
Keris Panji Anom Pajang Mataram
Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Sultan Agung TUS
TEGEK THREEFISH XI TAO XI YING XI CHUN 360 450 540
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.