Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon Era Sultan Agung
Rp 12.500.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis Pusaka :Keris Leres
Dhapur : Jalak Tilam Sari
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Cirebon Era Sultan Agung
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Trembalo
Deder/Handle : Putri Kinurung, Bahan Kayu Trembalo
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Parijatha, Bahan Kuningan
Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon Era Sultan Agung
Keris Jalak Tilam Sari Pamor Wos Wutah memiliki perpaduan filosofi yang kuat tentang ketenteraman rumah tangga, kecukupan rezeki, kesederhanaan, dan kemampuan menerima hasil kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Jika dikaitkan dengan Cirebon pada masa Sultan Agung, perlu diberi sedikit kehati-hatian secara sejarah: Sultan Agung adalah penguasa Mataram (1613–1645), bukan penguasa Cirebon. Hubungan Cirebon–Mataram pada masa itu lebih tepat dibahas dalam konteks hubungan politik, keagamaan, kebudayaan, dan jaringan kekuasaan Jawa. Jadi, istilah “keris Cirebon era Sultan Agung” tidak otomatis berarti keris tersebut dibuat oleh atau atas perintah Sultan Agung.
Catatan: filosofi pamor dan dhapur berikut merupakan pemaknaan tradisional dalam budaya perkerisan, bukan klaim bahwa keris memiliki kekuatan gaib yang terbukti secara ilmiah.
FILOSOFI KERIS JALAK TILAM SARI

Jalak Tilam Sari dapat dipahami sebagai perpaduan simbolik antara Jalak dan Tilam Sari.
Dalam tradisi perkerisan, nama Jalak pada sejumlah dhapur keris sering dikaitkan dengan sosok burung jalak. Burung tersebut dapat dijadikan perlambang kesederhanaan, kewaspadaan, kelincahan, dan kemampuan hidup menyesuaikan keadaan.
Sedangkan Tilam Sari mengandung unsur:
Tilam → tempat beristirahat atau tempat tidur.
Sari → inti, bagian terbaik, atau sesuatu yang bernilai.
Secara filosofis:
“Menjadikan kehidupan rumah dan keluarga sebagai tempat kembali yang penuh ketenteraman.”
TILAM SARI: RUMAH SEBAGAI TEMPAT KEMBALI
Manusia boleh mengejar:
- pekerjaan,
- usaha,
- kedudukan,
- harta,
- ilmu,
- maupun pengalaman.
Namun semua pencapaian tersebut akan terasa kurang apabila tidak menghasilkan ketenteraman di rumah.
Karena itu Tilam Sari dapat dimaknai:
“Keberhasilan hidup bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang ketenteraman yang dirasakan ketika kembali kepada keluarga.”
MAKNA “SARI”
Sari dapat dipahami sebagai inti atau bagian yang paling berharga.
Dalam kehidupan, seseorang hendaknya mampu mengambil sari dari setiap pengalaman:
kesulitan → pengalaman → pelajaran → kebijaksanaan.
Kegagalan tidak harus menjadi sesuatu yang sia-sia.
Selama seseorang mengambil pelajaran darinya, pengalaman tersebut telah menghasilkan sari kehidupan.
FILOSOFI JALAK
Jalak merupakan burung yang dekat dengan lingkungan kehidupan manusia dan dikenal mudah beradaptasi.
Secara simbolik hal tersebut dapat menggambarkan:
WASPADA
Tidak hidup secara ceroboh.
ADAPTIF
Mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.
SEDERHANA
Tidak selalu membutuhkan sesuatu yang berlebihan.
MANDIRI
Berusaha memenuhi kebutuhan dengan kemampuan sendiri.
Maka filosofi Jalak Tilam Sari dapat dirangkum:
“Jadilah manusia yang sederhana, waspada dan mampu menyesuaikan diri, tetapi tetap menjadikan keluarga sebagai tempat utama untuk menemukan ketenteraman.”
FILOSOFI PAMOR WOS WUTAH

Wos Wutah adalah salah satu pamor yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa.
Wos berarti beras, sedangkan Wutah berarti tumpah.
Secara harfiah:
“Beras yang tumpah.”
Beras bagi masyarakat agraris Jawa bukan sekadar makanan.
Beras merupakan simbol:
- kehidupan,
- kebutuhan pokok,
- kecukupan,
- hasil bumi,
- dan kesejahteraan.
Karena itu Wos Wutah sering dimaknai sebagai perlambang rezeki yang melimpah dan kebutuhan hidup yang tercukupi.
BERAS SEBAGAI SIMBOL KEHIDUPAN
Dalam masyarakat agraris, beras melewati perjalanan panjang:
benih → sawah → tumbuh → panen → gabah → beras → makanan.
Tidak ada hasil tanpa proses.
Maka Wos Wutah mengandung pesan penting:
“Rezeki yang melimpah tetap membutuhkan kerja, kesabaran dan proses.”
Bukan berarti seseorang cukup menunggu datangnya rezeki.
Justru filosofi ini mengingatkan agar seseorang:
bekerja → menjaga hasil → bersyukur → berbagi.
WOS WUTAH DAN RASA CUKUP
Beras yang tumpah menggambarkan keadaan ketika persediaan begitu banyak sehingga sebagian keluar dari tempatnya.
Secara simbolik dapat dibaca sebagai:
“Jangan sampai kekurangan membuat kita lupa bersyukur, dan jangan sampai keberlimpahan membuat kita lupa berbagi.”
Jadi makna Wos Wutah tidak hanya kekayaan, tetapi juga kemurahan hati.
JALAK TILAM SARI + WOS WUTAH
Perpaduan keduanya mempunyai filosofi yang sangat cocok untuk pusaka keluarga.
JALAK
Waspada, sederhana, dan mampu beradaptasi.
TILAM SARI
Ketenteraman dan keluarga.
WOS WUTAH
Kecukupan dan keberlimpahan rezeki.
Jika disatukan:
“Carilah rezeki dengan tekun, kelolalah dengan bijaksana, dan gunakan keberlimpahan untuk membangun keluarga yang tenteram.”
SEJARAH KERIS CIREBON

Cirebon mempunyai posisi yang sangat penting dalam sejarah perkembangan Islam dan kebudayaan Jawa di pesisir utara.
Cirebon berkembang sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di Jawa Barat dan memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Demak, Banten, Pajang, Mataram, serta jaringan perdagangan dan keagamaan Nusantara.
Tokoh penting dalam sejarah awal Cirebon adalah:
Sunan Gunung Jati / Syarif Hidayatullah
Beliau merupakan salah satu tokoh utama penyebaran Islam di Jawa Barat dan kemudian menjadi tokoh sentral dalam sejarah Kesultanan Cirebon.
KESULTANAN CIREBON
Cirebon berkembang menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat keagamaan dan kebudayaan.
Dari lingkungan keraton berkembang berbagai seni tradisional, termasuk:
- ukiran,
- batik,
- wayang,
- seni bangunan,
- pusaka,
- dan tradisi pembuatan keris.
Keris Cirebon kemudian memiliki karakter tersendiri karena berkembang dalam lingkungan budaya Jawa pesisir, Sunda, Islam, dan tradisi keraton.
CIREBON DAN JARINGAN ISLAM JAWA
Salah satu karakter penting Cirebon adalah posisinya sebagai titik pertemuan berbagai kebudayaan.
Cirebon berada di antara:
Jawa Barat ↔ Jawa Tengah ↔ jalur perdagangan pesisir.
Karena itu kebudayaan Cirebon berkembang dengan karakter yang relatif terbuka.
Pengaruh Jawa dan Sunda bertemu dengan kebudayaan Islam serta tradisi perdagangan.
Kondisi tersebut ikut membentuk karakter seni dan pusaka Cirebon.
CIREBON DAN MATARAM
Pada abad ke-17, Mataram di bawah Sultan Agung menjadi kekuatan politik besar di Jawa.
Sementara Cirebon berada dalam lingkungan politik yang kompleks karena berhubungan dengan berbagai kekuatan di Jawa Barat dan pesisir.
Hubungan Cirebon dan Mataram tidak tepat disederhanakan sebagai hubungan “Cirebon adalah bagian dari Mataram”.
Lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari dinamika politik dan jaringan kekuasaan Jawa pada abad ke-17.
SULTAN AGUNG DAN CIREBON
Sultan Agung Hanyakrakusuma memerintah Mataram pada 1613–1645.
Pada periode tersebut Mataram memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah Jawa.
Cirebon mempunyai hubungan sejarah yang cukup penting dengan Mataram, termasuk melalui hubungan politik dan perkawinan yang mengikat elite kedua lingkungan kerajaan.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa semua keris Cirebon pada masa tersebut otomatis merupakan keris Mataram.
Keris tetap perlu dibedakan berdasarkan:
- gaya garap,
- bentuk,
- ricikan,
- bahan,
- pamor,
- lingkungan pembuatannya,
- dan tradisi tangguh.
KERIS CIREBON

Keris Cirebon berkembang dalam lingkungan budaya keraton pesisir.
Karakter keris Cirebon dalam tradisi perkerisan sering dipandang memiliki hubungan dengan perkembangan keris Jawa, tetapi sekaligus menunjukkan ciri lokal Cirebon.
Cirebon mempunyai tradisi pusaka yang berkaitan erat dengan:
Keraton
Pusaka menjadi bagian dari simbol kewibawaan kerajaan.
Agama
Keris berada dalam lingkungan budaya Islam Jawa.
Leluhur
Pusaka diwariskan sebagai pengingat sejarah keluarga dan kerajaan.
Seni
Keris menjadi media ekspresi keindahan dan keterampilan empu.
KERIS DAN KERATON CIREBON
Dalam lingkungan keraton, pusaka bukan hanya benda yang memiliki nilai material.
Ia menjadi bagian dari identitas sejarah kerajaan.
Pusaka dapat menjadi pengingat:
siapa leluhurnya, dari mana asalnya, dan nilai apa yang harus dijaga.
Karena itu keberadaan keris di lingkungan Cirebon harus dilihat dalam konteks yang lebih luas daripada sekadar senjata.
Tags: FILOSOFI KERIS JALAK TILAM SARI, keris cirebon, Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon Era Sultan Agung, Pamor Wos Wutah, SEJARAH KERIS CIREBON
Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon Era Sultan Agung
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 6 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Panji Anom Keris Panji Anom berasal dari kata: Panji → pemimpin, tanda kebesaran, panutan Anom → muda, penerus, generasi baru Dalam tradisi Jawa, Panji Anom melambangkan: figur pemimpin muda yang cerdas, berani, dan sah secara moral maupun adat untuk meneruskan kekuasaan atau tanggung jawab besar. Dhapur ini sering dikaitkan dengan: pewaris tahta, calon pemimpin,… selengkapnya
Rp 24.444.000 Rp 26.555.000Dhapur Panji Anom — Simbol Perjuangan Kesatria Muda Keris Panji Anom (Panji Nom) adalah salah satu dhapur lurus yang sejak masa lampau hingga kini tetap dicari oleh para pecinta dan kolektor keris. Secara visual, bilahnya lurus dengan karakter sedikit membungkuk alus, panjang sedang, dan permukaan bilah nggigir sapi, menandakan besi yang padat, matang, dan berisi…. selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Anoman Luk 5 Pamor Keleng merupakan perpaduan yang kuat secara simbolik. Anoman membawa filosofi keberanian, kesetiaan, kecerdikan, dan pengabdian; luk 5 sering dimaknai sebagai keseimbangan dan kemampuan mengendalikan diri; sedangkan pamor Keleng memberikan kesan kesederhanaan, keteguhan, dan kekuatan yang tidak perlu dipamerkan. Sementara itu, Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Jawa dan… selengkapnya
Rp 12.500.000 Rp 14.500.000Jenis : Keris Luk 13 Dhapur : Sengkelat Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo
*Harga Hubungi CSKeris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan adalah sebuah mahakarya seni pusaka yang mengundang decak kagum. Keris ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan suatu warisan budaya yang memancarkan keanggunan dan keunikan. Sebagai salah satu permata koleksi kami, keberadaan keris ini merambah wilayah legendaris dan fenomenal. Daya tarik utama dari Keris Nogo Sosro Luk 9… selengkapnya
Rp 100.000.000 Rp 115.000.000Keris Pamor Udan Mas Asli Di antara sekian banyak ragam pamor dalam dunia perkerisan, Pamor Udan Mas menempati posisi istimewa karena kelangkaan, tingkat kesulitan pembuatannya, keindahan tata pamornya, serta kedalaman maknanya. Banyak kolektor, spiritualis, hingga peminat budaya menjadikan Udan Mas sebagai salah satu pamor impian dalam perjalanan laku. Keistimewaan Pamor Udan Mas Pamor Udan Mas… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Tilam Upih Keris Tilam Upih sangat populer karena bentuknya sederhana, gagah, dan sarat makna kesetiaan rumah tangga. Kehidupan manusia dibingkai oleh tiga peristiwa sakral: Metu (kelahiran), Manten (perkawinan), dan Mati (kematian). Tahap Manten menempati posisi yang sangat penting, sebab pada momen inilah seorang manusia memasuki gerbang kedewasaan. Meninggalkan masa lajang dan memulai perjalanan rumah… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Keris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo merupakan perpaduan yang menarik antara dhapur Tilam Upih yang sederhana dan lurus dengan pamor Jung Isi Dunyo yang dalam tradisi perkerisan sering dikaitkan dengan kelimpahan rezeki. Dalam salah satu kajian populer, Jung Isi Dunyo digolongkan sebagai pamor tiban dan dipercaya memiliki tuah yang baik untuk kerezekian. Sementara Tuban… selengkapnya
Rp 4.500.000 Rp 6.000.000Keris Tilam Sari Keris Tilam Sari termasuk salah satu dhapur keris lurus yang halus, berwibawa, dan sarat makna simbolik. Kata tilam berarti alas tidur, tempat beristirahat, sedangkan sari berarti inti, esensi, atau yang paling utama. Secara filosofis, Tilam Sari dimaknai sebagai tempat bersemayamnya inti kehidupan, pusat ketenangan lahir dan batin. Dalam tradisi Jawa, dhapur ini… selengkapnya
*Harga Hubungi CS










Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Sultan Agung TUS
Keris Tilam Upih Tangguh Tuban
TEGEK MUZHIMU ZZTPY SHANDING SIDE WHITE PRO
Keris Brojol Pamor Dwi Warno Segaluh
Keris Jalak Tilam Sari Brojoguno II
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.