Beranda » Keris Sepuh » Keris Parungsari Luk 13 Mataram Senopaten
click image to preview activate zoom
Diskon
19%

Keris Parungsari Luk 13 Mataram Senopaten

Rp 6.500.000 Rp 8.000.000
Hemat Rp 1.500.000
KodeTAG
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh
Jenis: Keris Luk 13
Dhapur Parungsari
Pamor Udan Mas Tiban
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Eboni
Deder/Handle : Krajan, Bahan Kayu Kemuning Werut
Pendok : Bunton Slorok Topengan, Bahan Kuningan
Mendak : Untu Walang, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Parungsari Luk 13 Mataram Senopaten

Keris Parungsari Luk 13 Pamor Udan Mas Tiban memiliki perpaduan simbolik yang kuat: Parungsari menggambarkan keindahan, keteguhan dan perjalanan hidup; luk 13 membawa makna kedewasaan menghadapi banyak liku kehidupan; sedangkan Udan Mas Tiban secara tradisional dikaitkan dengan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak disangka-sangka.

Sementara Mataram Senopaten merupakan fase awal Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Mataram berkembang dari wilayah Mentaok/Kotagede menjadi kekuatan politik baru di Jawa.

Catatan: filosofi dan pemaknaan tuah keris merupakan bagian dari tradisi budaya perkerisan. Ia sebaiknya dipahami sebagai simbol dan nilai kehidupan, bukan sebagai kekuatan yang telah terbukti secara ilmiah.


FILOSOFI KERIS PARUNGSARI

Parungsari merupakan salah satu dhapur keris luk 13. Dalam sumber perkerisan, Parungsari mempunyai beberapa ricikan, antara lain kembang kacang, jalen, dua lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, pejetan dan greneng. Salah satu pembeda penting dengan Sengkelat adalah Parungsari memiliki dua lambe gajah, sedangkan Sengkelat umumnya satu.

Nama Parungsari sering ditafsirkan dari:

Parung → deretan lereng bukit dan lembah.
Sari → bunga atau inti keindahan.

Secara simbolik dapat dibayangkan sebagai:

“Hamparan kehidupan yang terdiri dari bukit, lembah dan bunga.”

Artinya kehidupan tidak selalu datar.

Ada masa:

naik → turun → sulit → mudah → kemudian kembali menemukan keindahan.


PARUNG: BUKIT DAN LEMBAH

Bukit dan lembah merupakan gambaran perjalanan hidup manusia.

Bukit melambangkan:

  • keberhasilan,
  • pencapaian,
  • kebahagiaan,
  • kemenangan.

Lembah melambangkan:

  • cobaan,
  • kegagalan,
  • kesulitan,
  • masa-masa rendah dalam kehidupan.

Namun tidak ada bukit tanpa lembah.

Karena itu filosofi Parungsari:

“Jangan takut ketika berada di lembah, karena perjalanan menuju puncak memang melewati jalan yang naik dan turun.”


SARI: KEINDAHAN YANG DICAPAI

Sari dapat dimaknai sebagai inti atau sesuatu yang paling baik.

Jika dikaitkan dengan kehidupan, manusia hendaknya mampu mengambil sari atau pelajaran dari setiap pengalaman.

Kegagalan jangan hanya menjadi kesedihan.

Ambillah:

pengalaman → pelajaran → kebijaksanaan.

Dengan demikian, setiap perjalanan akan menghasilkan “sari”.


MAKNA LUK 13

Luk 13 menunjukkan bilah dengan tiga belas luk.

Angka luk dalam tradisi keris mempunyai berbagai pemaknaan, sehingga tidak ada satu tafsir tunggal yang mutlak.

Untuk pembacaan filosofis, 13 dapat dijadikan simbol perjalanan yang panjang, penuh liku dan membutuhkan kematangan diri.

Semakin banyak lengkungan, semakin jelas bahwa perjalanan tidak selalu lurus.

“Jalan hidup boleh berliku, tetapi tujuan harus tetap jelas.”


FILOSOFI PAMOR UDAN MAS TIBAN

Udan Mas berarti secara harfiah:

“Hujan emas.”

Dalam tradisi pamor, Udan Mas terkenal sebagai simbol yang berkaitan dengan rezeki, kemakmuran dan keberkahan. Polanya umumnya berupa bulatan-bulatan yang tersebar pada bilah. Pada Udan Mas Tiban, susunan bulatan dapat muncul secara tidak teratur di antara pola pamor lain, berbeda dengan Udan Mas rekan yang dibuat lebih teratur.


MAKNA “HUJAN”

Hujan mempunyai sifat:

turun dari langit → membasahi bumi → menyuburkan tanaman → menghasilkan kehidupan.

Karena itu hujan dapat menjadi simbol:

  • datangnya rezeki,
  • kesuburan,
  • kehidupan,
  • keberkahan,
  • dan pertumbuhan.

Tetapi hujan tidak hanya turun untuk satu orang.

Ia membasahi bumi secara luas.

Maka terdapat pesan moral:

“Rezeki yang baik bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi orang lain.”


MAKNA “MAS”

Mas berarti emas.

Emas secara simbolik menggambarkan sesuatu yang:

  • bernilai,
  • berharga,
  • tahan lama,
  • dan menjadi lambang kemakmuran.

Sehingga:

UDAN + MAS

dapat dimaknai:

“Datangnya rezeki dan keberkahan yang mempunyai nilai serta manfaat.”


UDAN MAS TIBAN

Kata Tiban dalam tradisi perkerisan menunjukkan pamor yang diyakini muncul secara tidak dirancang secara khusus oleh empu, berbeda dari pamor rekan yang memang dirancang menurut pola tertentu.

Karena itu secara simbolik Udan Mas Tiban sering menarik dimaknai sebagai:

“Rezeki yang datang tidak selalu dapat diprediksi dari mana asalnya.”

Bukan berarti seseorang cukup menunggu keberuntungan.

Justru maknanya lebih dalam:

Berusaha sebaik mungkin, lalu bersiap menerima hasil yang datang melalui jalan yang tidak selalu kita duga.


PARUNGSARI + UDAN MAS

Perpaduan keduanya sangat menarik.

PARUNGSARI

Perjalanan hidup yang naik turun.

UDAN MAS

Rezeki dan keberkahan yang menyuburkan kehidupan.

Maka:

“Dalam perjalanan hidup yang penuh bukit dan lembah, jangan berhenti berusaha. Karena setelah melewati kesulitan, selalu ada kemungkinan datangnya kesempatan dan keberkahan.”


SEJARAH MATARAM SENOPATEN

Mataram Senopaten merujuk pada periode awal Mataram Islam yang berkaitan dengan pemerintahan Panembahan Senopati.

Mataram berawal dari tanah Mentaok yang diberikan Sultan Hadiwijaya dari Pajang kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai penghargaan atas jasanya. Wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi pusat kekuasaan Mataram di kawasan Kotagede.

Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, kepemimpinan diteruskan oleh putranya:

Danang Sutawijaya

yang kemudian dikenal sebagai:

Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama.

Ia menjadi tokoh utama dalam berdirinya Mataram sebagai kekuatan politik yang semakin mandiri dari Pajang.


PANEMBAHAN SENOPATI

Panembahan Senopati merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah awal Mataram.

Pada masa pemerintahannya, Mataram berkembang dari wilayah yang relatif kecil menjadi kerajaan yang semakin kuat.

Ia memperluas pengaruh Mataram ke berbagai daerah Jawa.

Sumber sejarah kebudayaan Yogyakarta mencatat bahwa wilayah yang berhasil dikuasai atau dipengaruhi Mataram pada masa Senopati mencakup antara lain Kedu, Bagelen, Pajang, Mangiran, Blora, Madiun, Pasuruan, Ponorogo, serta sebagian wilayah pesisir utara seperti Jepara, Demak dan Pati.


SENOPATI DAN PAJANG

Hubungan Mataram dengan Pajang menjadi salah satu bagian penting dari sejarah awal kerajaan ini.

Setelah wafatnya Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya semakin memperkuat kedudukan Mataram.

Kemudian terjadi konflik politik yang membuat Mataram semakin mandiri.

Pada akhirnya, Mataram tumbuh menjadi kekuatan yang jauh lebih besar daripada kedudukan awalnya sebagai wilayah bawahan Pajang.


KOTAGEDE

Kotagede menjadi pusat awal pemerintahan Mataram.

Dari tempat inilah Mataram berkembang menjadi kerajaan besar.

Kotagede kemudian menjadi salah satu kawasan yang sangat penting dalam sejarah budaya Mataram.

Di kawasan tersebut pula terdapat makam Panembahan Senopati dan tokoh-tokoh awal Mataram. Panembahan Senopati wafat pada 1601 M dan dimakamkan di Kotagede.


KERIS MATARAM SENOPATEN

Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Mataram Senopaten merupakan salah satu pembabakan penting dalam perkembangan keris Mataram.

Tradisi perkerisan juga mengenal pembagian periode Mataram menjadi antara lain:

  • Mataram Senopaten
  • Mataram Sultan Agung
  • Mataram Amangkurat
  • dan periode berikutnya seperti Kartasura.

Kajian mengenai keris era Mataram juga mencatat bahwa tradisi Mataram mempunyai hubungan perkembangan dengan tradisi keris sebelumnya, termasuk warisan empu dan gaya dari masa Majapahit.


KARAKTER MATARAM SENOPATEN

Dalam literatur dan tradisi perkerisan, Tangguh Mataram Senopaten sering digambarkan mempunyai kesan:

  • prigel,
  • sereg,
  • kokoh,
  • kuat,
  • besi cenderung gelap,
  • dan pamor yang tegas.

Salah satu sumber perkerisan menyebut kesan pasikutan Mataram Senopaten sebagai prigel dan sereg, dengan besi kebiruan/kehitaman serta pamor yang tampak tegas.

Namun ciri tersebut merupakan pakem atau pembacaan tradisional, bukan metode ilmiah yang secara sendirian dapat memastikan usia sebuah bilah.


EMPU PADA ERA MATARAM AWAL

Perkembangan keris Mataram tidak muncul dari ruang kosong.

Tradisi pembuatan keris sudah berkembang jauh sebelumnya.

Sebagian empu dan tradisi pande besi dari masa sebelumnya diyakini turut memengaruhi perkembangan keris Mataram.

Karena itu keris Mataram Senopaten dapat dilihat sebagai bagian dari kesinambungan panjang tradisi tosan aji Jawa, bukan sebagai tradisi yang tiba-tiba muncul ketika Mataram berdiri.

Tags:

Keris Parungsari Luk 13 Mataram Senopaten

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 15 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja