Keris Santan Luk 11 Pamor Pandito Bolo Pandito Mataram Amangkurat
Rp 8.555.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 11
Dhapur : Santan
Pamor : Pandita Bala Pandita
Tangguh : Mataram Amangkurat
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho
Pendok : Blewah, Bahan Kuningan
Deder : Yudhawinatan, Kayu Kemuning
Mendak : Parijatha, Bahan Tembaga
Keris Santan Luk 11 Pamor Pandito Bolo Pandito Mataram Amangkurat
Filosofi Dhapur Santan

Nama Santan dapat direnungkan melalui makna santan sebagai sesuatu yang berasal dari inti atau sari. Dalam kehidupan, seseorang tidak cukup hanya melihat sesuatu dari luarnya; diperlukan kemampuan untuk mengambil sari atau inti dari setiap pengalaman.
Filosofinya adalah tentang kematangan dalam menyaring kehidupan.
Manusia mengalami berbagai peristiwa: keberhasilan, kegagalan, pujian, hinaan, keuntungan, maupun kehilangan. Orang yang matang bukanlah orang yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan orang yang mampu mengambil hikmah dan sari kehidupan dari setiap pengalaman tersebut.
“Jangan hanya mengumpulkan pengalaman, tetapi ambillah sarinya agar pengalaman menjadi kebijaksanaan.”
Bilah yang lurus juga dapat direnungkan sebagai lambang kelurusan niat, kejujuran, dan keteguhan prinsip.
Makna Luk 11

Luk 11 memberikan kesan karakter yang dinamis dan penuh perjalanan. Secara filosofis, setiap lekukan dapat dipandang sebagai gambaran ujian dan perubahan yang harus dilalui manusia dalam mencapai kematangan.
Sebelas dapat direnungkan sebagai perjalanan yang telah melewati banyak tahapan, tetapi masih menuntut kewaspadaan agar manusia tidak terlena oleh pencapaian.
“Semakin panjang perjalanan, semakin banyak pengalaman yang harus dipertanggungjawabkan.”
Luk 11 dengan demikian dapat dimaknai sebagai simbol keteguhan menghadapi perubahan, kemampuan beradaptasi, dan kedewasaan dalam mengambil keputusan.
Filosofi Pamor Pandito Bala Pandito
Nama Pandito Bala Pandito sangat kuat nuansa filosofisnya.
Pandito dapat dipahami sebagai figur pertapa, orang yang mendalami ilmu dan kebijaksanaan, serta seseorang yang berusaha mengendalikan hawa nafsu dan kehidupan batinnya.
Sementara bala dapat dikaitkan dengan kekuatan atau daya pendukung.
Secara simbolik, Pandito Bala Pandito dapat direnungkan sebagai:
kekuatan yang lahir dari kebijaksanaan.
Bukan kekuatan karena kekuasaan atau kedudukan, tetapi kekuatan batin yang muncul karena seseorang mampu menguasai dirinya sendiri.
Seorang pandito tidak harus selalu berada di pertapaan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menjadi “pandito” ketika mampu:
- berpikir sebelum bertindak,
- mengendalikan amarah,
- tidak mudah tergoda pujian,
- tidak mabuk kekuasaan,
- berani mengakui kesalahan,
- dan menggunakan ilmu untuk kebaikan.
Pandito sebagai simbol guru kehidupan
Pamor ini juga dapat direnungkan sebagai ajaran bahwa ilmu seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan.
Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin rendah hati dirinya.
“Ilmu yang tinggi bukan yang membuat seseorang merasa paling tahu, tetapi yang membuatnya semakin sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari.”
Makna Santan Luk 11 Pamor Pandito Bala Pandito
Jika ketiga unsur tersebut disatukan:
Santan → mengambil sari dan hikmah kehidupan.
Luk 11 → perjalanan panjang menuju kematangan.
Pandito Bala Pandito → kekuatan batin yang lahir dari kebijaksanaan.
Maka filosofi keseluruhannya dapat dirumuskan:
“Jalani kehidupan dengan teguh, ambillah sari dari setiap pengalaman, dan jadikan ilmu sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Sebab kekuatan yang paling tinggi bukan kemampuan menguasai orang lain, melainkan kemampuan menguasai diri sendiri.”
Sejarah Mataram Amangkurat

Yang dimaksud dengan Mataram Amangkurat umumnya merujuk pada periode pemerintahan Amangkurat I, putra Sultan Agung. Ia memerintah Mataram pada 1646–1677.
Amangkurat I lahir sebagai Raden Mas Sayyidin dan merupakan putra Sultan Agung. Setelah Sultan Agung wafat, ia naik takhta dan meneruskan pemerintahan Mataram.
Berbeda dengan masa Sultan Agung yang dikenal sebagai periode ekspansi besar Mataram, pemerintahan Amangkurat I lebih banyak diwarnai oleh konsolidasi kekuasaan, konflik internal, serta pemberontakan. Salah satu tujuan utamanya adalah memusatkan administrasi dan kekuasaan kerajaan di tangan raja.
Pindahnya pusat kerajaan ke Plered
Salah satu perubahan penting pada masa Amangkurat I adalah pemindahan pusat pemerintahan dari Karta ke Plered.
Pembangunan Plered dimulai setelah Amangkurat I naik takhta. Keraton baru menggunakan batu bata, berbeda dengan pusat kerajaan sebelumnya di Karta yang lebih banyak menggunakan kayu. Plered kemudian berkembang menjadi kompleks kerajaan dengan tembok, masjid, fasilitas air, dan berbagai bangunan pendukung.
Perpindahan tersebut bukan hanya perubahan tempat tinggal raja, tetapi juga menunjukkan usaha Amangkurat I untuk membangun pusat kekuasaan baru yang lebih terkonsolidasi.
Amangkurat I dan Ujian Kekuasaan
Masa pemerintahannya tidak berjalan tenang.
Amangkurat I menghadapi berbagai konflik dengan anggota keluarga kerajaan, bangsawan, kelompok keagamaan, serta kekuatan daerah. Penelitian sejarah mencatat konflik dengan Pangeran Alit, Adipati Anom, Raden Kajoran, dan kemudian Trunojoyo.
Pada masa yang sama, Amangkurat I menjalin hubungan dengan VOC, termasuk kerja sama politik dan perdagangan. Hubungan tersebut menjadi bagian penting dari dinamika politik Mataram pada periode tersebut.
Ketegangan yang semakin besar akhirnya mencapai titik kritis melalui pemberontakan Trunojoyo. Plered berhasil dikuasai pemberontak pada 1677 dan Amangkurat I terpaksa meninggalkan keraton. Ia kemudian wafat dalam perjalanan pada tahun yang sama.
Setelah itu, putranya naik takhta sebagai Amangkurat II.
Tags: Filosofi Dhapur Santan, Filosofi Pamor Pandito Bala Pandito, Keris Santan Luk 11 Pamor Pandito Bolo Pandito Mataram Amangkurat, Makna Luk 11, Sejarah Mataram Amangkurat
Keris Santan Luk 11 Pamor Pandito Bolo Pandito Mataram Amangkurat
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 4 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Filosofi Dhapur Panimbal Nama Panimbal dapat direnungkan dari kata timbal, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan timbal balik, menjawab, atau memenuhi panggilan. Secara filosofis, Panimbal dapat dimaknai sebagai ajaran bahwa manusia harus mampu menjawab panggilan kehidupan—baik panggilan tanggung jawab, keluarga, masyarakat, maupun panggilan batin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pusaka ini seolah mengajarkan: “Ketika kehidupan… selengkapnya
Rp 18.555.000Filosofi Keris Naga Singa Luk 9 Kinatah Emas Keris Naga Singa Luk 9 Kinatah Emas merupakan pusaka yang secara simbolik memadukan tiga unsur kuat: Naga, Singa, dan Emas, ditambah karakter Luk 9. Dalam tradisi perkerisan, makna filosofis seperti ini sebaiknya dibaca sebagai simbol dan piwulang budaya, bukan sebagai kepastian tentang tuah gaib. 1. Naga —… selengkapnya
Rp 44.444.000Dhapur Kebo Lajer Keris Kebo Lajer merupakan salah satu dhapur keris lurus tertua dan paling disegani dalam dunia perkerisan Jawa. Kata kebo melambangkan: kekuatan besar, kesabaran, daya tahan, pengabdian tanpa pamrih. Sedangkan lajer berarti lurus dan polos, mencerminkan: kejujuran, kesederhanaan, dan kekuatan sejati yang tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan. Secara pakem, Kebo Lajer sering disebut… selengkapnya
Rp 35.555.000 Rp 38.500.000Keris Sabuk Inten Luk 11 Pamor Wos Wutah Tangguh Banten merupakan salah satu pusaka agung Nusantara yang dikenal sebagai simbol kejayaan, kekayaan, kewibawaan, dan kemapanan hidup. Keris ini tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga sarat makna filosofi serta dipercaya memiliki tuah kuat dalam urusan derajat, rezeki, dan kepemimpinan. Sabuk Inten termasuk dhapur keris yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal luas dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama Tilam Upih dapat direnungkan sebagai gambaran tempat beristirahat yang sederhana, sehingga dekat dengan nilai ketenteraman, kecukupan, kenyamanan, dan kesejahteraan. Tilam berkaitan dengan tempat berbaring atau beristirahat, sedangkan upih merujuk pada pelepah pembungkus atau… selengkapnya
Rp 8.555.000Dhapur Tilam Upih Keris Tilam Upih sangat populer karena bentuknya sederhana, gagah, dan sarat makna kesetiaan rumah tangga. Kehidupan manusia dibingkai oleh tiga peristiwa sakral: Metu (kelahiran), Manten (perkawinan), dan Mati (kematian). Tahap Manten menempati posisi yang sangat penting, sebab pada momen inilah seorang manusia memasuki gerbang kedewasaan. Meninggalkan masa lajang dan memulai perjalanan rumah… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Dhapur Panji Anom Keris Panji Anom berasal dari kata: Panji → pemimpin, tanda kebesaran, panutan Anom → muda, penerus, generasi baru Dalam tradisi Jawa, Panji Anom melambangkan: figur pemimpin muda yang cerdas, berani, dan sah secara moral maupun adat untuk meneruskan kekuasaan atau tanggung jawab besar. Dhapur ini sering dikaitkan dengan: pewaris tahta, calon pemimpin,… selengkapnya
Rp 24.444.000 Rp 26.555.000Keris Jalak Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan yang menarik antara filosofi Jalak Tilam Sari yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, ketenteraman dan kecukupan, dengan Pamor Pendaringan Kebak yang secara simbolik menggambarkan tempat penyimpanan atau lumbung yang penuh. Dalam pembacaan keris, perlu dibedakan antara dhapur, pamor, dan tangguh: dhapur menjelaskan bentuk bilah, pamor menjelaskan pola… selengkapnya
Rp 15.555.000 Rp 17.555.000Filosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih secara filosofis sering dikaitkan dengan tempat beristirahat dan alas yang sederhana, sehingga memiliki hubungan dengan makna ketenteraman, kenyamanan, kecukupan, dan kehidupan yang mapan. Kata tilam dapat dimaknai sebagai tempat untuk berbaring atau beristirahat,… selengkapnya
Rp 12.555.000Jenis : Lurus Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng Pamor : Wengkon Isen Tangguh : Tuban Majapahit Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Trembalo Pisang Pendok : Bunton Polos Bahan : Tembaga Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur keris lurus yang berukuran sedang. Nama ini berasal dari simbol burung jalak… selengkapnya
*Harga Hubungi CS









Keris Jalak Tilam Sari Pamor Lar Gangsir
Papan Nama Meja Ukir Garuda
TEGEK KOLONG ZOOM ORCA PRIME
Logo Bayern München Ukiran Kayu Jati
Keris Jalak Ngore HB VII
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.