Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon
Rp 15.555.000 Rp 17.555.000| Kode | PG |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Jalak Tilam Sari
Pamor : Pedaringan Kebak
Tangguh : Cirebon
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Timoho
Deder/Handle : Krajan, Bahan Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan Sepuh Perak
Mendak : Untu Walang, Bahan Kuningan
Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon
Keris Jalak Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan yang menarik antara filosofi Jalak Tilam Sari yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, ketenteraman dan kecukupan, dengan Pamor Pendaringan Kebak yang secara simbolik menggambarkan tempat penyimpanan atau lumbung yang penuh.
Dalam pembacaan keris, perlu dibedakan antara dhapur, pamor, dan tangguh: dhapur menjelaskan bentuk bilah, pamor menjelaskan pola pada bilah, sedangkan tangguh merupakan konsep tradisional untuk membaca gaya pembuatan yang dikaitkan dengan zaman, wilayah, dan empu.
FILOSOFI KERIS JALAK TILAM SARI

Jalak Tilam Sari merupakan dhapur keris lurus yang mempunyai karakter filosofis berbeda dari Tilam Upih.
Nama tersebut dapat dibaca melalui tiga unsur:
JALAK
Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makan dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.
Secara simbolik, Jalak menggambarkan:
- keuletan,
- kegigihan,
- kecerdikan,
- kemampuan mencari penghidupan,
- dan tanggung jawab.
Dalam salah satu kajian filosofi keris, Jalak Tilam Sari bahkan dimaknai sebagai harapan agar kepala keluarga pandai mencari rezeki serta mampu membahagiakan keluarganya.
TILAM
Tilam dimaknai sebagai tempat tidur atau tempat beristirahat.
Filosofinya adalah:
Setelah bekerja dan berjuang, manusia membutuhkan tempat untuk kembali dan mendapatkan ketenteraman.
SARI
Sari dapat dimaknai sebagai inti, keharuman, atau sesuatu yang baik dan bernilai.
Maka Tilam Sari dapat dimaknai sebagai:
tempat kembali yang nyaman, penuh keharmonisan dan membawa keharuman nama baik keluarga.
JALAK TILAM SARI: FILOSOFI KEPALA KELUARGA
Jika ketiga unsur tersebut disatukan:
Jalak → mencari penghidupan.
Tilam → tempat pulang.
Sari → kehidupan yang baik dan harum.
Maka pesannya:
“Bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk mencari rezeki, tetapi jangan lupa bahwa tujuan utama bekerja adalah menciptakan kehidupan keluarga yang tenteram dan bermartabat.”
Inilah salah satu filosofi yang membuat Jalak Tilam Sari sering dianggap cocok sebagai pusaka keluarga.
PAMOR PENDARINGAN KEBAK

Nama Pendaringan Kebak mempunyai makna yang sangat kuat.
Pendaringan dapat dipahami sebagai tempat menyimpan bahan pangan atau persediaan kehidupan.
Sedangkan:
Kebak → penuh.
Maka secara harfiah dapat dimaknai:
“Tempat penyimpanan yang penuh.”
Dalam tradisi pemaknaan pamor, Pendaringan Kebak dikaitkan dengan harapan kemakmuran, kecukupan, kesejahteraan dan persediaan rezeki yang tidak mudah habis.
PENDARINGAN SEBAGAI LUMBUNG KEHIDUPAN
Pada masyarakat agraris masa lalu, lumbung atau tempat penyimpanan bahan pangan mempunyai arti yang sangat besar.
Lumbung penuh berarti:
keluarga dapat makan → kebutuhan terpenuhi → masa depan lebih aman.
Karena itu filosofi Pendaringan Kebak bukan hanya:
“banyak uang”
tetapi lebih luas:
“kebutuhan hidup selalu tercukupi.”
Rezeki dapat berupa:
- pangan,
- pekerjaan,
- usaha,
- keluarga,
- kesehatan,
- ilmu,
- sahabat,
- kesempatan,
- dan ketenteraman.
MAKNA “KEBAK”
Kata kebak atau penuh memberikan pesan tentang kecukupan.
Namun ada filosofi yang lebih dalam:
Penuh bukan berarti berlebihan.
Seseorang yang mempunyai banyak harta tetapi selalu merasa kurang sebenarnya belum merasakan kemakmuran.
Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana tetapi kebutuhannya tercukupi dan hatinya tenteram dapat disebut hidup berkecukupan.
Maka Pendaringan Kebak dapat menjadi pengingat:
“Carilah kecukupan, bukan keserakahan.”
JALAK + PENDARINGAN KEBAK
Perpaduan ini mempunyai hubungan filosofis yang sangat kuat.
JALAK
Aktif mencari rezeki.
PENDARINGAN KEBAK
Menyimpan dan menjaga hasil rezeki.
Pesannya:
“Bukan hanya pandai mencari rezeki, tetapi juga harus pandai menjaga, mengelola dan mensyukurinya.”
Ini merupakan filosofi ekonomi keluarga yang sangat relevan bahkan sampai sekarang.
TILAM SARI + PENDARINGAN KEBAK
Kemudian ditambahkan unsur Tilam Sari.
JALAK
Mencari.
TILAM
Tempat kembali.
SARI
Keharuman dan kebaikan.
PENDARINGAN KEBAK
Kecukupan dan persediaan.
Maka keseluruhan filosofi:
“Bekerjalah dengan tekun, kumpulkan rezeki dengan cara yang baik, kelola dengan bijaksana, dan gunakan hasilnya untuk menciptakan keluarga yang tenteram serta nama baik yang harum.”
SEJARAH KERIS CIREBON

Sekarang masuk ke bagian sejarah.
Cirebon memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah keris karena wilayah ini menjadi titik pertemuan berbagai kebudayaan:
Jawa → Sunda → Islam → pesisir → perdagangan → Tiongkok → Arab → budaya keraton.
Cirebon pada awalnya berkembang dari kawasan pesisir yang dikenal sebagai Muarajati.
Sumber kebudayaan pemerintah menyebut Muarajati sebagai desa nelayan yang kemudian berkembang menjadi pelabuhan yang ramai didatangi nelayan dan pedagang dari berbagai wilayah.
CIREBON SEBAGAI KOTA PELABUHAN
Posisi Cirebon sangat strategis.
Pelabuhan menjadi tempat bertemunya:
- pedagang,
- ulama,
- bangsawan,
- seniman,
- pandai besi,
- dan berbagai kebudayaan.
Karena itu budaya Cirebon sejak awal mempunyai karakter terbuka terhadap pengaruh luar.
Kondisi tersebut juga membantu menjelaskan mengapa tradisi benda pusaka di Cirebon mempunyai karakter yang khas dan tidak sepenuhnya sama dengan tradisi keris pedalaman Jawa.
CIREBON DAN PAJAJARAN
Cirebon pada awal perkembangannya mempunyai hubungan dengan Kerajaan Sunda/Pajajaran.
Sumber Balai Pelestarian Kebudayaan menyebut Ki Gedeng Alang-Alang mendapat tugas dari Kerajaan Galuh untuk menangani keamanan wilayah Pelabuhan Muarajati.
Kemudian Pangeran Walangsungsang, yang dalam tradisi Cirebon disebut putra Prabu Siliwangi, menjadi Adipati Cirebon dengan gelar Cakrabuana. Pada masa inilah pusat pemerintahan Cirebon mulai berkembang.
CIREBON DAN SUNAN GUNUNG JATI
Perkembangan Cirebon kemudian semakin kuat pada masa Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Pada masa beliau, Islam berkembang pesat di Cirebon dan Cirebon semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan politik dan pusat penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.
Dalam tradisi sejarah Cirebon, perkembangan ini kemudian berhubungan dengan berakhirnya keterikatan politik Cirebon dengan Pajajaran.
Tanggal 2 April 1482 sering diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon dan dikaitkan dengan kemerdekaan Cirebon dari kekuasaan Pajajaran dalam sumber tradisi tersebut.
KERIS DI LINGKUNGAN CIREBON
Keris di Cirebon berkembang dalam lingkungan yang berbeda dari pusat kerajaan Jawa bagian tengah.
Cirebon merupakan:
kota pelabuhan
tempat bertemunya berbagai bangsa.
pusat kesultanan
tempat berkembangnya tradisi keraton.
pusat Islam
tempat berlangsungnya akulturasi budaya Jawa dan Islam.
pusat seni
tempat berkembangnya batik, ukiran, wayang, topeng dan benda pusaka.
Karena itu keris Cirebon dapat dipahami sebagai bagian dari budaya pesisir dan budaya keraton sekaligus.
KERATON CIREBON
Dalam perkembangannya, lingkungan keraton Cirebon kemudian terbagi menjadi beberapa keraton.
Penelitian sejarah mengenai perkembangan Keraton Cirebon menyebut bahwa perkembangan tersebut akhirnya menghasilkan Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan, dalam konteks perebutan pengaruh antara kekuatan Cirebon, Banten, Mataram dan kemudian VOC.
Keraton-keraton tersebut kemudian menjadi tempat penting dalam mempertahankan tradisi budaya Cirebon.
TANGGUH CIREBON

Dalam kepustakaan perkerisan, Tangguh Cirebon dikenal sebagai salah satu gaya/tangguh tersendiri.
Salah satu uraian tradisional menggambarkan Tangguh Cirebon mempunyai:
- pasikutan wingit,
- bilah berukuran sedang,
- relatif tipis,
- besi hitam kecoklatan,
- kesan besi agak kering,
- pamor cenderung kelem atau mengambang,
- ganja relatif tipis,
- dan sirah cecak pendek.
Tetapi ciri tersebut adalah pakem tradisional perkerisan, bukan alat penanggalan ilmiah yang berdiri sendiri.
Karena itu sebuah keris tidak dapat dinyatakan “Cirebon” hanya berdasarkan satu ciri fisik.
CIREBON DALAM TRADISI TANGGUH
Ada perbedaan antara sejarah Cirebon sebagai kerajaan/kesultanan dengan penanggalan tangguh Cirebon.
Beberapa kepustakaan tradisional bahkan menempatkan Cirebon dalam pembabakan Madya Kuna, sedangkan dalam praktik identifikasi keris dikenal pula Tangguh Cirebon yang dikaitkan dengan gaya bilah tertentu.
Karena itu istilah “keris Cirebon” sebaiknya dijelaskan dengan hati-hati:
bisa berarti keris yang berasal dari tradisi/wilayah Cirebon, bisa juga berarti keris yang secara tangguh dinilai Cirebon.
Keduanya tidak selalu identik.
KARAKTER FILOSOFIS KERIS CIREBON
Cirebon adalah tempat bertemunya banyak unsur.
Karena itu secara filosofis keris Cirebon dapat menjadi simbol:
KELUWESAN
Mampu menerima perubahan.
KETERBUKAAN
Tidak menutup diri dari kebudayaan lain.
KEWIBAWAAN
Tetap mempunyai identitas sebagai budaya keraton.
SPIRITUALITAS
Mempunyai hubungan kuat dengan tradisi Islam dan budaya lokal.
JATI DIRI
Walaupun menerima pengaruh luar, tetap membangun identitas Cirebon sendiri.
JALAK TILAM SARI PAMOR PENDARINGAN KEBAK + CIREBON
Jika ketiga unsur ini disatukan:
Jalak Tilam Sari
→ rajin mencari penghidupan dan membangun keluarga.
Pendaringan Kebak
→ hasil kehidupan yang tercukupi dan terjaga.
Cirebon
→ keterbukaan, kebijaksanaan dan kemampuan hidup di tengah pertemuan berbagai budaya.
Maka filosofi besarnya menjadi:
“Jadilah manusia yang rajin mencari rezeki, pandai mengelolanya, dan mampu membangun keluarga yang tenteram. Terbukalah terhadap perubahan dan pergaulan dunia, tetapi tetap jaga jati diri, nama baik dan nilai-nilai kehidupan.”
7 NILAI UTAMA
1. KEULETAN
Jangan menunggu rezeki datang; berusahalah mencarinya.
2. KECUKUPAN
Gunakan rezeki untuk memenuhi kebutuhan dan membangun masa depan.
3. KELUARGA
Hasil kerja hendaknya kembali menjadi kebahagiaan keluarga.
4. NAMA BAIK
Kekayaan tanpa nama baik tidak mempunyai nilai yang sempurna.
5. KETERBUKAAN
Belajar dari lingkungan dan perubahan.
6. KEWIBAWAAN
Jaga sikap dan tanggung jawab sebagaimana seseorang menjaga kehormatan keluarga.
7. JATI DIRI
Boleh bergaul dengan siapa pun, tetapi jangan kehilangan prinsip.
Tags: FILOSOFI KERIS JALAK TILAM SARI, Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon, SEJARAH KERIS CIREBON
Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 18 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Bethok Naga Siluman merupakan pusaka yang memiliki karakter unik: bilah lurus dengan ornamen naga siluman bertatah emas, memadukan kekuatan simbolik, nilai estetika tinggi, serta warisan budaya dari masa Kesultanan Mataram pada era pemerintahan Amangkurat I. Pusaka jenis ini sering dianggap sebagai keris ageman (keris kebesaran) karena keindahan tatah emas serta karakter bilahnya yang kuat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Luk 13 Dhapur : Sengkelat Pamor : Beras Wutah Akhyodiat Meteor Tangguh : Mataram Senopaten Deder : Yudhowinatan Bahan : Kemuning Bang Mendak : Kendit Seling Merah Bahan : Tembaga Permata Sintetis Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo Pendok : Blewah Cukit Pangeranan Bahan : Tembaga I. DHAPUR SENGKELAT –… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Keris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Keris Pamor Junjung Derajat Tangguh Tuban merupakan sebuah karya perkerisan yang menghadirkan perpaduan antara keindahan visual bilah dengan nilai filosofis yang mendalam. Nama Junjung Derajat mengandung doa dan pengharapan agar pemiliknya senantiasa memperoleh peningkatan dalam kehidupan, kemuliaan, kewibawaan, serta kemampuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Dalam falsafah Jawa, derajat yang tinggi tidak hanya dimaknai… selengkapnya
Rp 17.777.000 Rp 19.500.000KERIS PARUNGSARI Keris Parungsari menempati posisi istimewa sebagai pusaka yang memadukan keindahan, ketajaman rasa, dan filosofi kehidupan yang matang. Dapur ini tidak hanya menampilkan keelokan bentuk, tetapi juga menyimpan doa panjang tentang keselarasan hidup, kemakmuran, dan kejernihan batin. DHAPUR PARUNGSARI Kata Parungsari berasal dari kata parung (tajam, lurus, tegas) dan sari (inti, esensi). Secara simbolik,… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Parungsari Luk 13 Pamor Udan Mas Tiban memiliki perpaduan simbolik yang kuat: Parungsari menggambarkan keindahan, keteguhan dan perjalanan hidup; luk 13 membawa makna kedewasaan menghadapi banyak liku kehidupan; sedangkan Udan Mas Tiban secara tradisional dikaitkan dengan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak disangka-sangka. Sementara Mataram Senopaten merupakan fase awal Kerajaan Mataram Islam di bawah… selengkapnya
Rp 6.500.000 Rp 8.000.000Keris Brojol dengan pamor Brahma Watu merupakan perpaduan yang menarik karena mempertemukan filosofi dhapur Brojol dengan karakter pamor yang dikenal dalam tradisi keris Madura/Sumenep. Sementara itu, nama Empu Koso mempunyai tempat penting dalam cerita sejarah dan tradisi pewarisan ilmu keris di Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep. Namun ada satu hal penting: Brahma Watu dan Empu… selengkapnya
Rp 5.500.000 Rp 7.000.000Dhapur Singo Barong Keris Singo Barong adalah perwujudan makhluk mitologis penjaga kekuasaan. Dalam budaya Jawa, ia merupakan hasil akulturasi: singa (kekuatan dan keberanian), barong (penjaga alam dan dunia halus), serta pengaruh kosmologi Hindu–Buddha dan Jawa Islam. Ciri khas dhapur Singa Barong: gandhik diukir kepala singa/barong, mulut terbuka sebagai simbol kewaspadaan, ekspresi garang namun berwibawa, detail… selengkapnya
Rp 65.555.000 Rp 85.500.000Filosofi Jalak Sangu Tumpeng Nama dhapur ini mengandung filosofi kehidupan yang cukup dalam. 1. Jalak — rajin mencari nafkah Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makanan dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan. Dalam simbolisme tradisional, jalak digunakan untuk menggambarkan manusia yang rajin bekerja, pandai membaca keadaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, jalak… selengkapnya
Rp 4.555.000 Rp 5.555.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Segoro Muncar Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan pusaka agung yang sarat makna bekal hidup, kemakmuran, dan kewibawaan kepemimpinan. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng dikenal sebagai keris piandel para pemimpin, pejabat kerajaan, dan saudagar besar pada masa Mataram Islam. Di era Sultan Agung Hanyokrokusumo, keris dengan dhapur dan pamor seperti ini sering… selengkapnya
*Harga Hubungi CS










Keris Parungsari Luk 13 Mataram Senopaten
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tuban Majapahit
Keris Jangkung Tebu Saoyotan Kediri
Keris Bima Rangsang Luk 17 Madiun
Bethok Pasopati Pamor Keleng Kediri
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.