Beranda » Keris Sepuh » Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon
click image to preview activate zoom
Diskon
11%

Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon

Rp 15.555.000 Rp 17.555.000
Hemat Rp 2.000.000
KodePG
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Jalak Tilam Sari
Pamor : Pedaringan Kebak
Tangguh : Cirebon
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Timoho
Deder/Handle : Krajan, Bahan Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan Sepuh Perak
Mendak : Untu Walang, Bahan Kuningan

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon

Keris Jalak Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan yang menarik antara filosofi Jalak Tilam Sari yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, ketenteraman dan kecukupan, dengan Pamor Pendaringan Kebak yang secara simbolik menggambarkan tempat penyimpanan atau lumbung yang penuh.

Dalam pembacaan keris, perlu dibedakan antara dhapur, pamor, dan tangguh: dhapur menjelaskan bentuk bilah, pamor menjelaskan pola pada bilah, sedangkan tangguh merupakan konsep tradisional untuk membaca gaya pembuatan yang dikaitkan dengan zaman, wilayah, dan empu.


FILOSOFI KERIS JALAK TILAM SARI

Jalak Tilam Sari merupakan dhapur keris lurus yang mempunyai karakter filosofis berbeda dari Tilam Upih.

Nama tersebut dapat dibaca melalui tiga unsur:

JALAK

Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makan dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

Secara simbolik, Jalak menggambarkan:

  • keuletan,
  • kegigihan,
  • kecerdikan,
  • kemampuan mencari penghidupan,
  • dan tanggung jawab.

Dalam salah satu kajian filosofi keris, Jalak Tilam Sari bahkan dimaknai sebagai harapan agar kepala keluarga pandai mencari rezeki serta mampu membahagiakan keluarganya.

TILAM

Tilam dimaknai sebagai tempat tidur atau tempat beristirahat.

Filosofinya adalah:

Setelah bekerja dan berjuang, manusia membutuhkan tempat untuk kembali dan mendapatkan ketenteraman.

SARI

Sari dapat dimaknai sebagai inti, keharuman, atau sesuatu yang baik dan bernilai.

Maka Tilam Sari dapat dimaknai sebagai:

tempat kembali yang nyaman, penuh keharmonisan dan membawa keharuman nama baik keluarga.


JALAK TILAM SARI: FILOSOFI KEPALA KELUARGA

Jika ketiga unsur tersebut disatukan:

Jalak → mencari penghidupan.

Tilam → tempat pulang.

Sari → kehidupan yang baik dan harum.

Maka pesannya:

“Bekerjalah dengan sungguh-sungguh untuk mencari rezeki, tetapi jangan lupa bahwa tujuan utama bekerja adalah menciptakan kehidupan keluarga yang tenteram dan bermartabat.”

Inilah salah satu filosofi yang membuat Jalak Tilam Sari sering dianggap cocok sebagai pusaka keluarga.


PAMOR PENDARINGAN KEBAK

Nama Pendaringan Kebak mempunyai makna yang sangat kuat.

Pendaringan dapat dipahami sebagai tempat menyimpan bahan pangan atau persediaan kehidupan.

Sedangkan:

Kebak → penuh.

Maka secara harfiah dapat dimaknai:

“Tempat penyimpanan yang penuh.”

Dalam tradisi pemaknaan pamor, Pendaringan Kebak dikaitkan dengan harapan kemakmuran, kecukupan, kesejahteraan dan persediaan rezeki yang tidak mudah habis.


PENDARINGAN SEBAGAI LUMBUNG KEHIDUPAN

Pada masyarakat agraris masa lalu, lumbung atau tempat penyimpanan bahan pangan mempunyai arti yang sangat besar.

Lumbung penuh berarti:

keluarga dapat makan → kebutuhan terpenuhi → masa depan lebih aman.

Karena itu filosofi Pendaringan Kebak bukan hanya:

 “banyak uang”

tetapi lebih luas:

“kebutuhan hidup selalu tercukupi.”

Rezeki dapat berupa:

  • pangan,
  • pekerjaan,
  • usaha,
  • keluarga,
  • kesehatan,
  • ilmu,
  • sahabat,
  • kesempatan,
  • dan ketenteraman.

MAKNA “KEBAK”

Kata kebak atau penuh memberikan pesan tentang kecukupan.

Namun ada filosofi yang lebih dalam:

Penuh bukan berarti berlebihan.

Seseorang yang mempunyai banyak harta tetapi selalu merasa kurang sebenarnya belum merasakan kemakmuran.

Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana tetapi kebutuhannya tercukupi dan hatinya tenteram dapat disebut hidup berkecukupan.

Maka Pendaringan Kebak dapat menjadi pengingat:

“Carilah kecukupan, bukan keserakahan.”


JALAK + PENDARINGAN KEBAK

Perpaduan ini mempunyai hubungan filosofis yang sangat kuat.

JALAK

Aktif mencari rezeki.

PENDARINGAN KEBAK

Menyimpan dan menjaga hasil rezeki.

Pesannya:

“Bukan hanya pandai mencari rezeki, tetapi juga harus pandai menjaga, mengelola dan mensyukurinya.”

Ini merupakan filosofi ekonomi keluarga yang sangat relevan bahkan sampai sekarang.


TILAM SARI + PENDARINGAN KEBAK

Kemudian ditambahkan unsur Tilam Sari.

JALAK

Mencari.

TILAM

Tempat kembali.

SARI

Keharuman dan kebaikan.

PENDARINGAN KEBAK

Kecukupan dan persediaan.

Maka keseluruhan filosofi:

“Bekerjalah dengan tekun, kumpulkan rezeki dengan cara yang baik, kelola dengan bijaksana, dan gunakan hasilnya untuk menciptakan keluarga yang tenteram serta nama baik yang harum.”


SEJARAH KERIS CIREBON

Sekarang masuk ke bagian sejarah.

Cirebon memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah keris karena wilayah ini menjadi titik pertemuan berbagai kebudayaan:

Jawa → Sunda → Islam → pesisir → perdagangan → Tiongkok → Arab → budaya keraton.

Cirebon pada awalnya berkembang dari kawasan pesisir yang dikenal sebagai Muarajati.

Sumber kebudayaan pemerintah menyebut Muarajati sebagai desa nelayan yang kemudian berkembang menjadi pelabuhan yang ramai didatangi nelayan dan pedagang dari berbagai wilayah.


CIREBON SEBAGAI KOTA PELABUHAN

Posisi Cirebon sangat strategis.

Pelabuhan menjadi tempat bertemunya:

  • pedagang,
  • ulama,
  • bangsawan,
  • seniman,
  • pandai besi,
  • dan berbagai kebudayaan.

Karena itu budaya Cirebon sejak awal mempunyai karakter terbuka terhadap pengaruh luar.

Kondisi tersebut juga membantu menjelaskan mengapa tradisi benda pusaka di Cirebon mempunyai karakter yang khas dan tidak sepenuhnya sama dengan tradisi keris pedalaman Jawa.


CIREBON DAN PAJAJARAN

Cirebon pada awal perkembangannya mempunyai hubungan dengan Kerajaan Sunda/Pajajaran.

Sumber Balai Pelestarian Kebudayaan menyebut Ki Gedeng Alang-Alang mendapat tugas dari Kerajaan Galuh untuk menangani keamanan wilayah Pelabuhan Muarajati.

Kemudian Pangeran Walangsungsang, yang dalam tradisi Cirebon disebut putra Prabu Siliwangi, menjadi Adipati Cirebon dengan gelar Cakrabuana. Pada masa inilah pusat pemerintahan Cirebon mulai berkembang.


CIREBON DAN SUNAN GUNUNG JATI

Perkembangan Cirebon kemudian semakin kuat pada masa Syarif Hidayatullah, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Pada masa beliau, Islam berkembang pesat di Cirebon dan Cirebon semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan politik dan pusat penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat.

Dalam tradisi sejarah Cirebon, perkembangan ini kemudian berhubungan dengan berakhirnya keterikatan politik Cirebon dengan Pajajaran.

Tanggal 2 April 1482 sering diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Cirebon dan dikaitkan dengan kemerdekaan Cirebon dari kekuasaan Pajajaran dalam sumber tradisi tersebut.


KERIS DI LINGKUNGAN CIREBON

Keris di Cirebon berkembang dalam lingkungan yang berbeda dari pusat kerajaan Jawa bagian tengah.

Cirebon merupakan:

kota pelabuhan

tempat bertemunya berbagai bangsa.

pusat kesultanan

tempat berkembangnya tradisi keraton.

pusat Islam

tempat berlangsungnya akulturasi budaya Jawa dan Islam.

pusat seni

tempat berkembangnya batik, ukiran, wayang, topeng dan benda pusaka.

Karena itu keris Cirebon dapat dipahami sebagai bagian dari budaya pesisir dan budaya keraton sekaligus.


KERATON CIREBON

Dalam perkembangannya, lingkungan keraton Cirebon kemudian terbagi menjadi beberapa keraton.

Penelitian sejarah mengenai perkembangan Keraton Cirebon menyebut bahwa perkembangan tersebut akhirnya menghasilkan Keraton Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan, dalam konteks perebutan pengaruh antara kekuatan Cirebon, Banten, Mataram dan kemudian VOC.

Keraton-keraton tersebut kemudian menjadi tempat penting dalam mempertahankan tradisi budaya Cirebon.


TANGGUH CIREBON

Dalam kepustakaan perkerisan, Tangguh Cirebon dikenal sebagai salah satu gaya/tangguh tersendiri.

Salah satu uraian tradisional menggambarkan Tangguh Cirebon mempunyai:

  • pasikutan wingit,
  • bilah berukuran sedang,
  • relatif tipis,
  • besi hitam kecoklatan,
  • kesan besi agak kering,
  • pamor cenderung kelem atau mengambang,
  • ganja relatif tipis,
  • dan sirah cecak pendek.

Tetapi ciri tersebut adalah pakem tradisional perkerisan, bukan alat penanggalan ilmiah yang berdiri sendiri.

Karena itu sebuah keris tidak dapat dinyatakan “Cirebon” hanya berdasarkan satu ciri fisik.


CIREBON DALAM TRADISI TANGGUH

Ada perbedaan antara sejarah Cirebon sebagai kerajaan/kesultanan dengan penanggalan tangguh Cirebon.

Beberapa kepustakaan tradisional bahkan menempatkan Cirebon dalam pembabakan Madya Kuna, sedangkan dalam praktik identifikasi keris dikenal pula Tangguh Cirebon yang dikaitkan dengan gaya bilah tertentu.

Karena itu istilah “keris Cirebon” sebaiknya dijelaskan dengan hati-hati:

bisa berarti keris yang berasal dari tradisi/wilayah Cirebon, bisa juga berarti keris yang secara tangguh dinilai Cirebon.

Keduanya tidak selalu identik.


KARAKTER FILOSOFIS KERIS CIREBON

Cirebon adalah tempat bertemunya banyak unsur.

Karena itu secara filosofis keris Cirebon dapat menjadi simbol:

KELUWESAN

Mampu menerima perubahan.

KETERBUKAAN

Tidak menutup diri dari kebudayaan lain.

KEWIBAWAAN

Tetap mempunyai identitas sebagai budaya keraton.

SPIRITUALITAS

Mempunyai hubungan kuat dengan tradisi Islam dan budaya lokal.

JATI DIRI

Walaupun menerima pengaruh luar, tetap membangun identitas Cirebon sendiri.


JALAK TILAM SARI PAMOR PENDARINGAN KEBAK + CIREBON

Jika ketiga unsur ini disatukan:

Jalak Tilam Sari
→ rajin mencari penghidupan dan membangun keluarga.

Pendaringan Kebak
→ hasil kehidupan yang tercukupi dan terjaga.

Cirebon
→ keterbukaan, kebijaksanaan dan kemampuan hidup di tengah pertemuan berbagai budaya.

Maka filosofi besarnya menjadi:

“Jadilah manusia yang rajin mencari rezeki, pandai mengelolanya, dan mampu membangun keluarga yang tenteram. Terbukalah terhadap perubahan dan pergaulan dunia, tetapi tetap jaga jati diri, nama baik dan nilai-nilai kehidupan.”


7 NILAI UTAMA

1. KEULETAN

Jangan menunggu rezeki datang; berusahalah mencarinya.

2. KECUKUPAN

Gunakan rezeki untuk memenuhi kebutuhan dan membangun masa depan.

3. KELUARGA

Hasil kerja hendaknya kembali menjadi kebahagiaan keluarga.

4. NAMA BAIK

Kekayaan tanpa nama baik tidak mempunyai nilai yang sempurna.

5. KETERBUKAAN

Belajar dari lingkungan dan perubahan.

6. KEWIBAWAAN

Jaga sikap dan tanggung jawab sebagaimana seseorang menjaga kehormatan keluarga.

7. JATI DIRI

Boleh bergaul dengan siapa pun, tetapi jangan kehilangan prinsip.

Tags: , ,

Keris Jalak Tilam Sari Tangguh Cirebon

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 18 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja