Keris Naga Sapta Luk 7 Kinatah Emas Mataram Kartasura
Rp 150.000.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 7
Dhapur : Naga Sapta (Kinatah Emas)
Pamor : Keleng
Tangguh : Mataram Kartasura
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Cendana
Deder/Handle : Yuydawinatan, Kayu Tayuman
Mendak : Kendhit Bahan Perak Intan
Pendok : Blewah Bahan Kuningan
Keris Naga Sapta Luk 7 Kinatah Emas Mataram Kartasura
Filosofi Naga Sapta

Naga dalam simbolisme Nusantara dan Jawa sering hadir sebagai perlambang kekuatan, penjagaan, kewibawaan, kesuburan, serta daya hidup.
Sementara Sapta berarti tujuh. Angka tujuh dalam kebudayaan Jawa mempunyai banyak lapisan simbolik dan dapat direnungkan sebagai perjalanan menuju keselarasan dan kematangan diri.
Dengan demikian, Naga Sapta dapat dimaknai sebagai:
kekuatan yang harus disertai kesadaran, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.
Naga yang besar bukanlah gambaran manusia yang harus menakutkan orang lain. Justru ia dapat menjadi perlambang bahwa semakin besar kekuatan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengendalikannya.
Makna Luk 7
Luk 7 dapat dimaknai sebagai perjalanan manusia melalui berbagai tahapan kehidupan.
Tujuh lekukan pada bilah mengingatkan bahwa perjalanan menuju kematangan tidak selalu lurus. Ada perubahan, tantangan, kegagalan, keberhasilan, dan pengalaman yang membentuk watak.
Secara filosofis:
Luk 7 → ujian → pengalaman → kebijaksanaan → keseimbangan.
“Jangan menganggap lekukan perjalanan sebagai kesalahan. Bisa jadi justru melalui lekukan itulah manusia menemukan jalan menuju kedewasaan.”
Makna Kinatah Emas

Kinatah emas memberikan simbol kemuliaan, kehormatan, kejayaan, dan kewibawaan.
Namun emas dalam filosofi pusaka tidak harus dimaknai sebatas kekayaan. Emas justru dapat menjadi pengingat bahwa kemuliaan lahir dari tanggung jawab.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula amanah yang harus dijaga.
Karena itu:
Emas tanpa budi → hanya kemewahan.
Kedudukan tanpa tanggung jawab → hanya kekuasaan.
Kemuliaan dengan kebijaksanaan → menjadi kewibawaan.
Perpaduan Filosofi Naga Sapta Luk 7 Kinatah Emas
Jika ketiga unsur tersebut dibaca sebagai satu kesatuan:
Naga → kekuatan dan perlindungan.
Sapta/Luk 7 → perjalanan menuju kematangan dan keseimbangan.
Kinatah Emas → kemuliaan, kehormatan, dan amanah.
Maka pesan utamanya:
“Jadilah kuat tanpa menjadi kasar, berwibawa tanpa menjadi sombong, dan mulia tanpa melupakan tanggung jawab.”
Pusaka ini dapat direnungkan sebagai piwulang kepemimpinan: kekuatan yang sejati bukanlah kemampuan menundukkan orang lain, melainkan kemampuan mengendalikan diri sendiri ketika memiliki kekuasaan.
Sejarah Mataram Kartasura

Mataram Kartasura merupakan fase penting dalam sejarah Mataram Islam setelah pusat kerajaan berpindah dari Plered.
Perpindahan pusat pemerintahan tersebut terjadi setelah Pemberontakan Trunojoyo mengguncang Mataram pada masa Amangkurat I. Plered jatuh pada 1677 dan pusat kekuasaan kemudian mengalami perpindahan.
Pada masa berikutnya, Amangkurat II mendirikan pusat pemerintahan baru di Kartasura pada akhir abad ke-17. Kartasura kemudian menjadi pusat pemerintahan Mataram selama beberapa dasawarsa.
Berbeda dengan masa Sultan Agung, ketika Mataram berada dalam periode ekspansi dan konsolidasi yang kuat, masa Kartasura justru banyak diwarnai konflik internal, perebutan kekuasaan, hubungan dengan VOC, serta perubahan politik yang semakin kompleks.
Amangkurat II dan berdirinya Kartasura
Setelah Plered jatuh, Amangkurat II berusaha memulihkan kekuasaan Mataram. Dengan dukungan VOC, ia berhasil kembali ke Jawa dan membangun pusat pemerintahan baru.
Kartasura kemudian menjadi pusat kerajaan Mataram yang baru.
Akan tetapi, kerja sama dengan VOC membawa konsekuensi politik yang besar. Ketergantungan terhadap kekuatan VOC semakin memperlihatkan bahwa kekuasaan kerajaan Jawa pada masa tersebut mulai berhadapan dengan tekanan politik dan ekonomi kolonial yang semakin kuat.
Kartasura dan Konflik Internal Mataram
Sejarah Kartasura tidak dapat dipisahkan dari berbagai pergolakan politik.
Salah satu peristiwa penting adalah Perang Suksesi Jawa, yaitu rangkaian konflik perebutan takhta Mataram yang melibatkan berbagai kelompok bangsawan dan kekuatan eksternal.
Konflik tersebut memperlihatkan semakin kuatnya campur tangan VOC dalam urusan politik kerajaan.
Puncak salah satu krisis terjadi dalam Geger Pacinan 1740–1743, ketika pemberontakan dan perang melibatkan berbagai kelompok di Jawa dan berujung pada jatuhnya Kartasura.
Pada 1742, Keraton Kartasura bahkan berhasil diduduki oleh pasukan pemberontak yang dipimpin Raden Mas Garendi (Sunan Kuning) bersama kelompok-kelompok pendukungnya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting yang kemudian menyebabkan pusat kerajaan dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta.
Dari Kartasura Menuju Surakarta
Setelah Kartasura mengalami kerusakan dan dianggap tidak lagi ideal sebagai pusat kerajaan, Pakubuwana II kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah baru.
Pada 1745, pusat kerajaan dipindahkan ke Surakarta, yang kemudian dikenal sebagai Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dengan demikian, secara garis besar perjalanan pusat Mataram dapat dilihat sebagai:
Kotagede → Karta → Plered → Kartasura → Surakarta.
Setiap perpindahan mencerminkan perubahan besar dalam kehidupan politik Mataram.
Tags: Filosofi Naga Sapta, Keris Naga Sapta Luk 7 Kinatah Emas Mataram Kartasura, Makna Kinatah Emas, Makna Luk 7, Sejarah Mataram Kartasura
Keris Naga Sapta Luk 7 Kinatah Emas Mataram Kartasura
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 4 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Filosofi Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas merupakan salah satu bentuk pusaka yang sarat dengan simbol tentang kekuatan, kewibawaan, kepemimpinan, perlindungan, dan kemuliaan. Nama Nogo Sosro secara umum dikaitkan dengan sosok naga yang memiliki banyak kepala, sehingga memberikan gambaran tentang kekuatan yang besar dan kompleks. Catatan: Dalam… selengkapnya
Rp 100.000.000Jenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Tilam Upih Pamor : Simbang Kurung & Tejo Kinurung Tangguh: Tuban Mataram Warangka : Ladarang Surakarta Iras Bahan : Kayu Trembalo Pendok : Blewah Pangeranan Bahan : Tembaga
Rp 12.555.000 Rp 14.438.250Jenis: Keris Lurus Dhapur: Sempaner Pamor: Ron Genduru Tangguh: Sumenep Warangka: Gayaman Ukiran Madura, Kayu Sono Keling
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Panimbal Nama Panimbal dapat direnungkan dari kata timbal, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan timbal balik, menjawab, atau memenuhi panggilan. Secara filosofis, Panimbal dapat dimaknai sebagai ajaran bahwa manusia harus mampu menjawab panggilan kehidupan—baik panggilan tanggung jawab, keluarga, masyarakat, maupun panggilan batin untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Pusaka ini seolah mengajarkan: “Ketika kehidupan… selengkapnya
Rp 18.555.000Keris Tilam Upih Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan filosofi yang sangat kuat tentang ketenteraman keluarga, kecukupan rezeki, kemampuan menjaga hasil usaha, dan kehidupan yang seimbang. Jika dikaitkan dengan Mataram Sultan Agung, pusaka ini dapat dibaca sebagai simbol manusia yang kuat dalam prinsip, tekun bekerja, mampu mengelola kemakmuran, serta mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat…. selengkapnya
Rp 6.555.000 Rp 8.111.000Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng merupakan pengembangan luhur dari dhapur Jalak, dengan tambahan filosofi sangu (bekal) dan tumpeng (puncak kemuliaan). Makna namanya: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Sangu → bekal hidup lahir dan batin Tumpeng → puncak kemuliaan, syukur, dan doa keselamatan Secara pakem, keris ini melambangkan: pemimpin yang diberi bekal… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 28.500.000Filosofi Dhapur Sabuk Inten Sabuk Inten secara harfiah dapat dibayangkan sebagai sabuk atau ikat pinggang yang dihiasi intan. Sabuk merupakan sesuatu yang mengikat dan menjaga agar sesuatu tetap berada pada tempatnya. Inten atau intan melambangkan sesuatu yang berharga, kuat, dan bercahaya. Secara filosofis, Sabuk Inten dapat dimaknai sebagai: “Mengikat diri dengan nilai-nilai luhur agar kemuliaan… selengkapnya
Rp 12.500.000Filosofi Jalak Sangu Tumpeng Nama dhapur ini mengandung filosofi kehidupan yang cukup dalam. 1. Jalak — rajin mencari nafkah Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makanan dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan. Dalam simbolisme tradisional, jalak digunakan untuk menggambarkan manusia yang rajin bekerja, pandai membaca keadaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, jalak… selengkapnya
Rp 4.555.000 Rp 5.555.000Keris Tilam Sari Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban adalah pusaka klasik yang dikenal berkarakter halus, berwibawa, dan penuh pesona. Keris ini mencerminkan keseimbangan antara keindahan rupa, kedalaman makna, dan keteduhan karakter, sehingga sejak dahulu sering dikaitkan dengan figur pemimpin, bangsawan, dan pribadi berpengaruh. Dhapur Tilam Sari sendiri melambangkan alas keindahan dan kenyamanan, menandakan pusaka yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CS








Hiasan Dinding Ukiran Subali Sugriwa
Keris Sempana Luk 9 Pamor Lintang Kemukus Tangguh Pajajaran
Keris Tilam Sari Brojoguno
TEGEK GEISHA RYOSHI 360 450
Keris Brojol Pamor Brahma Watu Madura
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.