Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
Rp 100.000.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 9
Dhapur : Naga Sasra ( Kinatah Emas )
Pamor : Kulit Semangka
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Cendana
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Tayuman
Mendak : Kendhit, Bahan Perak Berhias Intan
Pendok : Blewah, Bahan Perak
Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
Filosofi Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas

Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas merupakan salah satu bentuk pusaka yang sarat dengan simbol tentang kekuatan, kewibawaan, kepemimpinan, perlindungan, dan kemuliaan. Nama Nogo Sosro secara umum dikaitkan dengan sosok naga yang memiliki banyak kepala, sehingga memberikan gambaran tentang kekuatan yang besar dan kompleks.
Catatan: Dalam tradisi keris, istilah Nogo Sosro memiliki variasi penulisan dan penggambaran menurut tradisi pembuat serta daerah. Karena itu, penamaan dhapur dan penentuan tangguh sebaiknya tetap dilihat dari keseluruhan ricikan dan karakter bilah.
1. Nogo — lambang kekuatan dan kewibawaan
Naga merupakan simbol kekuatan besar, penjagaan, kewibawaan, dan daya hidup. Dalam pemaknaan filosofis Jawa, naga juga dapat dipahami sebagai perlambang kekuatan yang harus dikendalikan oleh manusia.
Kekuatan tanpa pengendalian akan berubah menjadi kesombongan. Sebaliknya, kekuatan yang disertai kebijaksanaan akan melahirkan wibawa.
2. Sosro — banyaknya daya dan tanggung jawab
Nama Sosro sering dikaitkan dengan gambaran naga berkepala banyak. Secara filosofis, banyak kepala dapat direnungkan sebagai banyaknya kemampuan, tanggung jawab, pemikiran, serta persoalan yang harus dihadapi seorang pemimpin.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki satu kemampuan. Ia harus mampu melihat persoalan dari berbagai sisi, mengambil keputusan dengan pertimbangan matang, dan tetap menjaga keseimbangan.
Banyaknya kepala bukan untuk menunjukkan kesombongan, tetapi untuk mengajarkan keluasan pandangan.
3. Luk 9 — perjalanan menuju kematangan
Sembilan lekukan pada bilah dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan hidup yang penuh tahapan dan ujian.
Dalam tradisi simbolik Jawa, angka sembilan memiliki kedudukan penting. Secara filosofis, Luk 9 dapat direnungkan sebagai perjalanan manusia menuju kematangan batin, keseimbangan, dan kesempurnaan diri.
Setiap lekukan seakan mengingatkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan lurus. Ada perubahan, ujian, keberhasilan, dan kegagalan yang semuanya membentuk karakter seseorang.
4. Kinatah Emas — kemuliaan dan tanggung jawab
Kinatah emas memberikan kesan kemuliaan, kejayaan, keindahan, dan kedudukan tinggi.
Namun, emas juga dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa semakin tinggi kehormatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Kemuliaan yang sejati bukan sekadar terlihat indah dari luar, melainkan tercermin dari perilaku, keteladanan, dan kemampuan menjaga amanah.
Sejarah Mataram Sultan Agung

Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan salah satu raja terbesar Kesultanan Mataram. Ia memerintah sekitar 1613–1645 dan dikenal sebagai tokoh penting dalam proses perluasan serta konsolidasi kekuasaan Mataram.
Pada masa pemerintahannya, Mataram berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa. Sultan Agung memperluas pengaruh Mataram ke berbagai wilayah Jawa dan berusaha menyatukan kekuatan politik di Jawa di bawah pengaruh Mataram.
Salah satu episode paling terkenal adalah serangan Mataram terhadap Batavia yang dikuasai VOC pada 1628 dan 1629. Meskipun kedua ekspedisi tersebut tidak berhasil mengusir VOC dari Batavia, peristiwa tersebut menunjukkan besarnya ambisi politik dan kemampuan mobilisasi Mataram pada masa Sultan Agung.
Mataram dan kebudayaan
Kebesaran Sultan Agung tidak hanya terlihat dari ekspansi politik dan militer. Masa pemerintahannya juga penting dalam perkembangan kebudayaan, kesusastraan, kalender, tata pemerintahan, dan tradisi keraton.
Sultan Agung dikenal melakukan pembaruan kalender Jawa dengan memadukan sistem kalender Saka dengan kalender Islam. Sistem tersebut kemudian menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang masih dikenal hingga sekarang.
Pada masa inilah tradisi keraton Mataram semakin berkembang sebagai pusat politik sekaligus kebudayaan.
Keris dalam lingkungan Mataram Sultan Agung
Dalam lingkungan kerajaan Jawa, keris mempunyai kedudukan lebih luas daripada sekadar senjata. Keris dapat menjadi pusaka, simbol kedudukan, perlengkapan kebesaran, dan bagian dari identitas budaya keraton.
Karena itu, apabila sebuah keris disebut “Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Tangguh Mataram Sultan Agung”, penyebutan tersebut mengandung dua lapisan:
Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas → identitas bentuk dan simbolisme pusaka.
Mataram Sultan Agung → atribusi tangguh atau periode budaya yang dikaitkan dengan masa Sultan Agung.
Namun, tangguh tidak sebaiknya dipastikan hanya berdasarkan nama dhapur atau kinatah emas. Penentuan tangguh keris merupakan kajian khusus yang melihat keseluruhan karakter bilah, antara lain bentuk, ricikan, pasikutan, material, pamor, serta teknik garap. Dengan demikian, penyebutan “Mataram Sultan Agung” lebih tepat dipahami sebagai atribusi tradisi perkerisan, kecuali terdapat bukti sejarah atau provenance yang kuat.
Filosofi Nogo Sosro dan Sultan Agung

Jika kedua unsur tersebut disatukan, terdapat filosofi kepemimpinan yang sangat kuat.
Nogo mengajarkan kekuatan.
Sosro mengajarkan keluasan pandangan.
Luk 9 mengajarkan perjalanan menuju kematangan.
Kinatah Emas mengajarkan kemuliaan dan amanah.
Mataram Sultan Agung mengingatkan pada kebesaran cita-cita dan kepemimpinan.
Maka pesan filosofisnya:
“Jadilah kuat tanpa menyakiti, berkuasa tanpa sewenang-wenang, memiliki banyak kemampuan tanpa menyombongkan diri, dan mencapai kemuliaan tanpa kehilangan kerendahan hati.”
Pada akhirnya, Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas dapat dipandang sebagai simbol seorang pemimpin yang memiliki kekuatan besar, pandangan luas, keberanian menghadapi tantangan, serta tanggung jawab untuk menjaga kemuliaan yang dipercayakan kepadanya.
“Kekuasaan dapat mengangkat seseorang ke tempat yang tinggi, tetapi hanya kebijaksanaan yang mampu membuatnya tetap mulia.”
Tags: Filosofi Nogo Sosro, Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung, Luk 9, Sejarah Mataram Sultan Agung
Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 3 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jenis Pusaka: Keris Lurus Dhapur: Tilam Sari Pamor: Toya Mambeg Tangguh: Mojopahit Warangka: Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kendit Deder: Kayu Timoho Kendit Mendak: Kendhit, Perak Hias Batu Yakut Pendok: Bunton Cukit Tembaga Dhapur Keris Tilam Sari Keris Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat populer dan banyak dijumpai. Secara bentuk, Tilam Sari… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Dhapur Jalak Tilam Sari Keris Jalak Tilam Sari merupakan pengembangan halus dari keluarga dhapur Jalak, yang menggabungkan makna: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Tilam → alas istirahat, perlindungan, ketenangan Sari → inti keindahan, nilai luhur, esensi terbaik Secara filosofis, Jalak Tilam Sari melambangkan: pribadi yang cerdas dan waspada, namun mampu memberi rasa teduh, nyaman,… selengkapnya
Rp 22.500.000 Rp 24.500.000FILOSOFI KERIS JALAK SANGU TUMPENG Jalak Sangu Tumpeng adalah nama dhapur, yaitu bentuk/ricikan bilah keris. Jadi Jalak Sangu Tumpeng berbeda pengertiannya dengan tangguh HB/Yogyakarta atau pamor. Dalam ilmu keris, bentuk bilah, pamor, dan tangguh merupakan aspek yang dibaca secara terpisah. Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diurai: Jalak → burung yang aktif mencari makananSangu → bekalTumpeng… selengkapnya
Rp 4.500.000Dhapur Singo Barong Keris Singo Barong adalah perwujudan makhluk mitologis penjaga kekuasaan. Dalam budaya Jawa, ia merupakan hasil akulturasi: singa (kekuatan dan keberanian), barong (penjaga alam dan dunia halus), serta pengaruh kosmologi Hindu–Buddha dan Jawa Islam. Ciri khas dhapur Singa Barong: gandhik diukir kepala singa/barong, mulut terbuka sebagai simbol kewaspadaan, ekspresi garang namun berwibawa, detail… selengkapnya
Rp 65.555.000 Rp 85.500.000FILOSOFI KERIS TILAM UPIH Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang relatif sederhana. Ciri pokoknya adalah gandhik polos, pejetan, dan tikel alis. Dalam literatur kebudayaan keris, bentuk dhapur ditentukan terutama oleh kombinasi bilah dan ricikan, sedangkan tangguh digunakan untuk membaca gaya/periode pengerjaan. Nama Tilam Upih mempunyai makna simbolis yang sangat kuat. Tilam =… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Carito Keprabon Luk 11 merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki karakter simbolik kuat. Perpaduan dhapur Carito Keprabon, Luk 11, dan Pamor Pendaringan Kebak dapat dibaca sebagai perlambang perjalanan hidup, kepemimpinan, kecukupan rezeki, serta tanggung jawab menjaga kehidupan agar tetap seimbang. Secara tradisional, dhapur keris ditentukan oleh bentuk bilah, jumlah luk, dan ricikan yang… selengkapnya
Rp 35.500.000Dhapur Carita Keprabon Keris Carita Keprabon termasuk dhapur keris yang bernilai simbolik tinggi. Kata: Carita → kisah, perjalanan, riwayat Keprabon → kerajaan, istana, pusat kekuasaan Makna filosofisnya: pusaka yang melambangkan perjalanan hidup seorang pemimpin menuju puncak kekuasaan yang sah dan bermartabat. Dhapur ini sejak dahulu: identik dengan lingkungan keraton, sering dikaitkan dengan pejabat tinggi dan… selengkapnya
Rp 23.333.000 Rp 25.555.000Filosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal luas dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama Tilam Upih dapat direnungkan sebagai gambaran tempat beristirahat yang sederhana, sehingga dekat dengan nilai ketenteraman, kecukupan, kenyamanan, dan kesejahteraan. Tilam berkaitan dengan tempat berbaring atau beristirahat, sedangkan upih merujuk pada pelepah pembungkus atau… selengkapnya
Rp 8.555.000Keris Singo Barong Luk 13 Kinatah Emas merupakan pusaka dengan simbolisme yang sangat kuat. Perpaduan dhapur Singo Barong, Luk 13, dan kinatah emas dapat dimaknai sebagai lambang keberanian, kewibawaan, keteguhan, kepemimpinan, serta kemuliaan yang disertai tanggung jawab. Sementara itu, Mataram Senopaten merupakan periode penting dalam pembentukan Mataram Islam, terutama terkait Panembahan Senopati dan proses perubahan… selengkapnya
Rp 100.000.000Jenis : Lurus Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng Pamor : Wengkon Isen Tangguh : Tuban Majapahit Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Trembalo Pisang Pendok : Bunton Polos Bahan : Tembaga Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur keris lurus yang berukuran sedang. Nama ini berasal dari simbol burung jalak… selengkapnya
*Harga Hubungi CS








TEGEK LANGJIANJISU 19T 6H RUAS 82 CM
Keris Kebo Lajer Pamor Udan Mas Asli
Selut mendak Keris Sepuh Perak
Keris Jalak Nguwuh Tangguh Tuban Jenggala
Keris Megantoro Luk 7 Majapahit
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.