Keris Panimbal Luk 9 Mataram Sultan Agung
Rp 18.555.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 9
Dhapur : Panimbal
Pamor : Tritik
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho
Keris Panimbal Luk 9 Mataram Sultan Agung
Filosofi Dhapur Panimbal

Nama Panimbal dapat direnungkan dari kata timbal, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan timbal balik, menjawab, atau memenuhi panggilan.
Secara filosofis, Panimbal dapat dimaknai sebagai ajaran bahwa manusia harus mampu menjawab panggilan kehidupan—baik panggilan tanggung jawab, keluarga, masyarakat, maupun panggilan batin untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pusaka ini seolah mengajarkan:
“Ketika kehidupan memanggil untuk menjalankan tanggung jawab, jangan menghindar; jawablah dengan keberanian, kejujuran, dan kebijaksanaan.”
Makna tersebut sangat sesuai dengan karakter seorang pemimpin: bukan hanya mempunyai kedudukan, tetapi bersedia menjawab tanggung jawab yang melekat pada kedudukannya.
Makna Luk 9
Luk 9 dapat direnungkan sebagai simbol perjalanan menuju kematangan dan kesempurnaan diri.
Sembilan lekukan pada bilah menggambarkan bahwa perjalanan manusia tidak selalu lurus. Ada perubahan arah, ujian, keberhasilan, kegagalan, serta pengalaman yang membentuk watak.
Karena itu, Luk 9 dapat dimaknai:
- keteguhan menghadapi perubahan,
- kematangan dalam mengambil keputusan,
- keseimbangan lahir dan batin,
- serta kemampuan belajar dari setiap pengalaman.
“Lekukan kehidupan bukan tanda bahwa jalan telah salah; terkadang justru melalui lekukan itulah manusia menemukan kedewasaan.”
Filosofi Pamor Tritik

Tritik dapat direnungkan dari gambaran pola atau titik-titik yang tersusun pada bilah. Secara simbolis, titik-titik tersebut dapat dipandang sebagai jejak-jejak kecil yang apabila dikumpulkan membentuk sebuah pola kehidupan.
Tidak semua keberhasilan datang melalui satu langkah besar. Kehidupan justru dibangun dari perbuatan kecil yang dilakukan berulang-ulang dengan ketekunan.
Pamor Tritik karena itu dapat dimaknai sebagai:
ketekunan → proses → keteraturan → hasil.
Seperti titik-titik yang membentuk pola, setiap amal dan tindakan manusia meninggalkan jejak yang pada akhirnya membentuk karakter dirinya.
“Jangan meremehkan langkah kecil, sebab kehidupan yang besar tersusun dari banyak langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah.”
Makna pamor tersebut merupakan interpretasi filosofis, bukan klaim mengenai tuah atau kekuatan gaib yang dapat dibuktikan.
Panimbal Luk 9 Pamor Tritik
Jika ketiga unsur dibaca sebagai satu kesatuan:
Panimbal → menjawab panggilan dan tanggung jawab.
Luk 9 → perjalanan menuju kematangan.
Tritik → ketekunan melalui langkah-langkah kecil.
Maka pesan filosofisnya menjadi sangat kuat:
“Jawablah panggilan kehidupan dengan keberanian, jalani setiap ujian dengan kematangan, dan bangun keberhasilan melalui ketekunan dalam langkah-langkah kecil.”
Sejarah Mataram Sultan Agung

Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan raja ketiga Mataram Islam dan memerintah pada 1613–1645. Ia dikenal sebagai salah satu penguasa terpenting yang membawa Mataram mencapai puncak kekuasaan dan pengaruhnya di Jawa.
Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Mataram berkembang luas, mencakup sebagian besar Jawa. Ekspansi dilakukan terhadap sejumlah wilayah, termasuk daerah pesisir dan Jawa Timur. Penelitian sejarah juga mencatat penaklukan Tuban, Madura, Surabaya, Giri, dan Blambangan, serta ekspedisi Mataram terhadap Batavia.
Perlawanan terhadap VOC
Salah satu peristiwa paling terkenal adalah serangan Mataram ke Batavia pada 1628 dan 1629.
Serangan tersebut pada akhirnya gagal mengusir VOC dari Batavia, tetapi menunjukkan kemampuan organisasi, militer, logistik, dan mobilisasi Mataram pada masa Sultan Agung. Kajian sejarah mencatat bahwa kebijakan Sultan Agung tidak hanya berorientasi pada ekspansi wilayah, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan kekuatan politik dan ekonomi kerajaan.
Sultan Agung dan Kebudayaan Jawa
Kebesaran Sultan Agung tidak hanya terletak pada ekspansi politik dan militer.
Masa pemerintahannya juga menjadi periode penting bagi perkembangan kebudayaan Jawa dan proses akulturasi Jawa-Islam. Salah satu warisan yang paling dikenal adalah sistem Penanggalan Jawa, yang memadukan unsur kalender Jawa/Saka dengan sistem kalender Islam.
Sultan Agung juga dikaitkan dengan perkembangan tradisi keraton, kesusastraan, serta berbagai bentuk ritual dan kebudayaan yang mempertemukan unsur Jawa dengan Islam. Penelitian mengenai pemerintahannya menempatkan proses akulturasi tersebut sebagai salah satu ciri penting masa Sultan Agung.
Bahkan, kajian tentang Mataram pada masa Sultan Agung menunjukkan adanya hubungan antara budaya agraris, budaya maritim, politik, perdagangan, dan tradisi keagamaan dalam pembentukan identitas Mataram.
Tags: Filosofi Dhapur Panimbal, Filosofi Pamor Tritik, Keris Panimbal Luk 9 Mataram Sultan Agung, Makna Luk 9, Panimbal Luk 9 Pamor Tritik, Sejarah Mataram Sultan Agung
Keris Panimbal Luk 9 Mataram Sultan Agung
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 5 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Filosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih secara filosofis sering dikaitkan dengan tempat beristirahat dan alas yang sederhana, sehingga memiliki hubungan dengan makna ketenteraman, kenyamanan, kecukupan, dan kehidupan yang mapan. Kata tilam dapat dimaknai sebagai tempat untuk berbaring atau beristirahat,… selengkapnya
Rp 12.555.000Filosofi Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas merupakan salah satu bentuk pusaka yang sarat dengan simbol tentang kekuatan, kewibawaan, kepemimpinan, perlindungan, dan kemuliaan. Nama Nogo Sosro secara umum dikaitkan dengan sosok naga yang memiliki banyak kepala, sehingga memberikan gambaran tentang kekuatan yang besar dan kompleks. Catatan: Dalam… selengkapnya
Rp 100.000.000Filosofi Keris Naga Singa Luk 9 Kinatah Emas Keris Naga Singa Luk 9 Kinatah Emas merupakan pusaka yang secara simbolik memadukan tiga unsur kuat: Naga, Singa, dan Emas, ditambah karakter Luk 9. Dalam tradisi perkerisan, makna filosofis seperti ini sebaiknya dibaca sebagai simbol dan piwulang budaya, bukan sebagai kepastian tentang tuah gaib. 1. Naga —… selengkapnya
Rp 44.444.000Keris Jalak Tilam Sari Pamor Wos Wutah memiliki perpaduan filosofi yang kuat tentang ketenteraman rumah tangga, kecukupan rezeki, kesederhanaan, dan kemampuan menerima hasil kehidupan dengan penuh rasa syukur. Jika dikaitkan dengan Cirebon pada masa Sultan Agung, perlu diberi sedikit kehati-hatian secara sejarah: Sultan Agung adalah penguasa Mataram (1613–1645), bukan penguasa Cirebon. Hubungan Cirebon–Mataram pada masa… selengkapnya
Rp 12.500.000Jenis: Keris Luk 5 Dhapur: Kebo Kantong Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Madiun Sepuh Warangka: Branggah Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho
Rp 14.444.000 Rp 16.666.000Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan adalah sebuah mahakarya seni pusaka yang mengundang decak kagum. Keris ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan suatu warisan budaya yang memancarkan keanggunan dan keunikan. Sebagai salah satu permata koleksi kami, keberadaan keris ini merambah wilayah legendaris dan fenomenal. Daya tarik utama dari Keris Nogo Sosro Luk 9… selengkapnya
Rp 100.000.000 Rp 115.000.000Jenis : Lurus Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng Pamor : Wengkon Isen Tangguh : Tuban Majapahit Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Trembalo Pisang Pendok : Bunton Polos Bahan : Tembaga Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur keris lurus yang berukuran sedang. Nama ini berasal dari simbol burung jalak… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Filosofi Keris Tilam Upih Keris Tilam Upih termasuk salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih memiliki makna simbolis yang dekat dengan ketenteraman, kecukupan, kesejahteraan, dan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Dalam pemaknaan tradisional, tilam berkaitan dengan tempat beristirahat atau alas tidur, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang/areca… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Putut Keris Putut dikenal sebagai dhapur lurus sederhana, tanpa ricikan berlebihan, namun justru menyimpan kedalaman makna. Dalam tradisi perkerisan Jawa, Putut melambangkan: kematangan jiwa, kebijaksanaan yang tidak dipamerkan, kekuatan batin yang stabil. Dhapur ini sering diasosiasikan dengan: tokoh tua atau matang secara batin, pemimpin yang tidak banyak bicara namun dihormati, pribadi yang teguh prinsip… selengkapnya
*Harga Hubungi CS






Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
TEGEK IMPORT JUXING SPECIAL POWER BLACK CARBON 7H 19T
TEGEK SET KOLONG TIAN KUI YING 450
Keris Tilam Sari Brojoguno
Bethok Jalak Budho Medang Kamulan
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.