Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tangguh Tuban
| Stok | Habis |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Tilam Upih
Pamor : Lar Gangsir
Tangguh : Tuban
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Kemuning
Deder/Handle : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Widengan, Bahan Kuningan
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tangguh Tuban
Filosofi Keris Tilam Upih

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal luas dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama Tilam Upih dapat direnungkan sebagai gambaran tempat beristirahat yang sederhana, sehingga dekat dengan nilai ketenteraman, kecukupan, kenyamanan, dan kesejahteraan.
Tilam berkaitan dengan tempat berbaring atau beristirahat, sedangkan upih merujuk pada pelepah pembungkus atau selubung daun. Dari simbol yang sederhana tersebut tersimpan ajaran bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan, tetapi oleh rasa cukup dan ketenteraman batin.
Bilah Tilam Upih yang lurus juga dapat dimaknai sebagai:
- lurus dalam niat
- jujur dalam perilaku
- teguh memegang prinsip
- tidak mudah menyimpang ketika menghadapi godaan
“Hidup yang tenteram bukan karena memiliki segalanya, tetapi karena mampu mensyukuri apa yang dimiliki.”
Filosofi Pamor Lar Gangsir

Lar Gangsir merupakan salah satu nama pamor yang secara simbolik sangat menarik. Lar dapat dimaknai sebagai sayap, sedangkan gangsir adalah nama binatang kecil yang dikenal mampu membuat lubang atau liang di dalam tanah.
Secara filosofis, perpaduan kedua kata tersebut dapat direnungkan sebagai kemampuan untuk bergerak, berusaha, dan membuka jalan kehidupan melalui ketekunan.
Gambaran gangsir yang terus menggali menjadi simbol bahwa jalan keberhasilan tidak selalu tersedia begitu saja. Kadang manusia harus membuka jalannya sendiri dengan kerja keras dan kesabaran.
Sedangkan lar atau sayap memberikan makna kemampuan untuk berkembang, bergerak lebih tinggi, dan memiliki cita-cita.
Karena itu, Pamor Lar Gangsir dapat dimaknai sebagai:
ketekunan + daya juang + kemampuan membuka jalan + cita-cita.
“Ketika jalan belum terbuka, jangan berhenti melangkah. Dengan ketekunan, jalan yang tertutup pun dapat ditemukan.”
Dalam pemaknaan tradisional, pamor juga sering dikaitkan dengan harapan terhadap kelancaran rezeki dan keberhasilan usaha, tetapi hal tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan simbolisme budaya, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Makna Perpaduan Tilam Upih dan Lar Gangsir
Jika kedua unsur tersebut dibaca bersama, terdapat filosofi yang sangat kuat.
Tilam Upih → ketenteraman dan rasa cukup.
Bilah lurus → kejujuran dan keteguhan.
Lar → cita-cita dan kemampuan berkembang.
Gangsir → ketekunan membuka jalan.
Maka pusaka ini dapat direnungkan sebagai ajaran:
“Bekerjalah dengan tekun untuk mencapai cita-cita, tetapi jangan kehilangan ketenteraman. Kejarlah kemajuan tanpa melupakan rasa cukup, dan bukalah jalan kehidupan dengan usaha yang jujur.”
Dengan kata lain, Lar Gangsir mengajarkan bagaimana memperoleh kehidupan, sedangkan Tilam Upih mengajarkan bagaimana menikmati kehidupan dengan tenteram.
Sejarah Tuban

Tuban mempunyai posisi penting dalam sejarah Jawa sebagai salah satu kawasan pesisir utara yang berkembang sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan.
Letaknya di pesisir utara Jawa membuat Tuban menjadi bagian dari jalur perdagangan laut yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara. Hubungan perdagangan tersebut menjadikan Tuban sebagai tempat pertemuan berbagai manusia, barang, bahasa, kepercayaan, dan kebudayaan.
Jejak penting mengenai kedudukan Tuban sebagai pelabuhan dapat ditemukan pada Prasasti Kambang Putih tahun 1050 Masehi, yang berasal dari masa pemerintahan Sri Mapanji Garasakan. Kambang Putih dikenal sebagai kawasan pelabuhan penting pada masa Jawa Timur kuno.
Posisi tersebut membuat Tuban mempunyai peran strategis sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa Timur.
Tuban dan Jenggala
Dalam sejarah Jawa Timur, Tuban juga mempunyai hubungan dengan kawasan Jenggala.
Setelah Airlangga membagi kerajaan pada abad ke-11, muncul dua pusat kekuasaan besar, yaitu Panjalu/Kediri dan Jenggala. Tuban berada dalam lingkungan geopolitik Jawa Timur yang mengalami perubahan kekuasaan tersebut.
Dalam tradisi perkerisan kemudian dikenal istilah Tuban Jenggala, yang menunjukkan adanya hubungan karakter tradisi keris Tuban dengan pengaruh Jenggala.
Tuban sebagai Kota Pelabuhan
Keunggulan Tuban bukan hanya karena letaknya, tetapi juga karena perannya sebagai ruang pertemuan budaya.
Pedagang dari berbagai wilayah datang melalui jalur laut. Karena itu, Tuban berkembang sebagai daerah yang terbuka terhadap pengaruh luar.
Pada masa perkembangan Islam di Jawa, Tuban menjadi salah satu kawasan penting dalam jaringan perdagangan dan penyebaran Islam pesisir. Tuban juga memiliki hubungan erat dengan jaringan kekuasaan Majapahit dan kemudian kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Karakter masyarakat pesisir inilah yang menjadikan budaya Tuban mempunyai warna tersendiri: terbuka, dinamis, pekerja keras, dan kuat menghadapi perubahan zaman.
Tuban dalam Tradisi Perkerisan
Dalam dunia tosan aji, Tuban dikenal sebagai salah satu nama tangguh yang memiliki karakter tersendiri.
Dalam tradisi penilaian tangguh, keris Tuban sering digambarkan mempunyai karakter bilah yang relatif lebar, pasikutan yang sederhana namun berwibawa, serta kesan garap yang kuat dan tidak berlebihan.
Namun perlu ditekankan bahwa tangguh tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan nama dhapur atau pamor. Penilaian tangguh membutuhkan pengamatan terhadap keseluruhan bilah, seperti ricikan, bentuk, pasikutan, besi, pamor, dan karakter garap.
Karena itu, penyebutan “Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tangguh Tuban” lebih tepat dipahami sebagai atribusi tradisi perkerisan, bukan otomatis sebagai bukti bahwa bilah tersebut pasti dibuat pada periode sejarah tertentu di Tuban.
Tags: filosofi keris tilam upih, Filosofi Pamor Lar Gangsir, Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tangguh Tuban, Sejarah Tuban
Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir Tangguh Tuban
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 22 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Parungsari Luk 13 dengan kinatah emas Panji Wilis dan pamor Beras Wutah merupakan pusaka berkelas tinggi yang memadukan keindahan visual, nilai sejarah, serta filosofi kemakmuran dan kewibawaan. Berlandaskan tangguh Mataram era Sultan Agung, keris ini mencerminkan karakter kepemimpinan yang matang, halus, namun berpengaruh kuat. Sejarah & Latar Tangguh Pada masa Kesultanan Mataram, khususnya era… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 28.888.000Keris Carang Soka dengan Pamor Pandita Bala Pandita merupakan perpaduan yang sarat dengan simbol keteguhan, kebijaksanaan, keberanian, dan kemampuan menghadapi kehidupan. Perlu dibedakan tiga istilahnya: Carang Soka → dhapur, yaitu bentuk/ricikan keris. Pandita Bala Pandita → nama pamor, yaitu pola pada bilah. Blambangan → tangguh/tradisi wilayah, yang dalam dunia perkerisan dikaitkan dengan Blambangan di ujung… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng merupakan pengembangan luhur dari dhapur Jalak, dengan tambahan filosofi sangu (bekal) dan tumpeng (puncak kemuliaan). Makna namanya: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Sangu → bekal hidup lahir dan batin Tumpeng → puncak kemuliaan, syukur, dan doa keselamatan Secara pakem, keris ini melambangkan: pemimpin yang diberi bekal… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 28.500.000Filosofi Dhapur Sepokal Sepokal secara tradisional dikenal sebagai salah satu dhapur keris dengan Luk 7. Dalam penafsiran simbolik, nama dan bentuknya dapat dikaitkan dengan watak yang kokoh, sigap, dan memiliki kesiapan menghadapi keadaan. Kata pokok sendiri dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami filosofi tersebut: sesuatu yang menjadi dasar atau inti. Maka Sepokal dapat direnungkan sebagai… selengkapnya
Rp 5.500.000Filosofi Dhapur Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dalam tradisi keris Jawa. Nama Tilam Upih dapat direnungkan melalui gambaran upih, yaitu pelepah pembungkus atau pelindung pada bagian tertentu tanaman pinang/kelapa. Sementara tilam berkaitan dengan tempat berbaring atau pembaringan. Secara filosofis, perpaduan tersebut dapat dimaknai sebagai perlindungan, ketenteraman, dan tempat… selengkapnya
Rp 4.500.000Jenis Pusaka : Luk 5 Dhapur Keris (bentuk keris) : Singo Barong Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho Pendok : Bunton Jogja Motif Modang Bahan : Tembaga Lamen Filosofi Keris Singo Barong Keris Singo Barong merupakan salah satu pusaka paling… selengkapnya
Rp 33.333.000 Rp 35.555.000Keris Anoman Luk 5 Pamor Keleng merupakan perpaduan yang kuat secara simbolik. Anoman membawa filosofi keberanian, kesetiaan, kecerdikan, dan pengabdian; luk 5 sering dimaknai sebagai keseimbangan dan kemampuan mengendalikan diri; sedangkan pamor Keleng memberikan kesan kesederhanaan, keteguhan, dan kekuatan yang tidak perlu dipamerkan. Sementara itu, Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Jawa dan… selengkapnya
Rp 12.500.000 Rp 14.500.000Filosofi Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas merupakan salah satu bentuk pusaka yang sarat dengan simbol tentang kekuatan, kewibawaan, kepemimpinan, perlindungan, dan kemuliaan. Nama Nogo Sosro secara umum dikaitkan dengan sosok naga yang memiliki banyak kepala, sehingga memberikan gambaran tentang kekuatan yang besar dan kompleks. Catatan: Dalam… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Jalak Tilam Sari Pamor : Lar Gangsir Tangguh : Tuban Majapahit Model Warangka : Gayaman Surakarta Bahan Warangka : Kayu Cendana Wangi Model Pendok : Bunton Cukit Alas-Alasan Bahan Pendok : Mamas Lamen Keris Pamor Lar Gangsir (Ajaran Kawicaksanan, Pagering Diri, dan Laku) Dalam dunia perkerisan, Pamor Lar… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Keris Jalak Tilam Sari Pamor Wos Wutah memiliki perpaduan filosofi yang kuat tentang ketenteraman rumah tangga, kecukupan rezeki, kesederhanaan, dan kemampuan menerima hasil kehidupan dengan penuh rasa syukur. Jika dikaitkan dengan Cirebon pada masa Sultan Agung, perlu diberi sedikit kehati-hatian secara sejarah: Sultan Agung adalah penguasa Mataram (1613–1645), bukan penguasa Cirebon. Hubungan Cirebon–Mataram pada masa… selengkapnya
Rp 12.500.000








Keris Tilam Upih Pamor Tambal Wengkon
Keris Nogo Siluman Sultan Agung
Keris Tilam Sari Brojoguno
Jual Keris
Keris Parungsari Luk 13 Mataram Amangkurat
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.