Keris Brojol Pamor Brahma Watu Madura
Rp 5.500.000 Rp 7.000.000| Kode | TAG |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Brojol
Pamor : Brahma Watu
Tangguh : Madura (Empu Koso)
Warangka : Daunan Madura, Kayu Kemuning
Deder/Handle : Donoriko
Pendok : Blewah Madura, Bahan Kuningan
Mendak : Madura, Bahan Kuningan
Keris Brojol Pamor Brahma Watu Madura
Keris Brojol dengan pamor Brahma Watu merupakan perpaduan yang menarik karena mempertemukan filosofi dhapur Brojol dengan karakter pamor yang dikenal dalam tradisi keris Madura/Sumenep. Sementara itu, nama Empu Koso mempunyai tempat penting dalam cerita sejarah dan tradisi pewarisan ilmu keris di Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep.
Namun ada satu hal penting: Brahma Watu dan Empu Koso tidak boleh langsung dianggap sebagai satu garis sejarah yang sama. Dalam sumber sejarah keris Sumenep, Brahma-bato/Brama Bato justru dikaitkan dengan Kiai Bromo, sedangkan Kiai Koso adalah nama lain yang digunakan Empu Supo ketika menetap di Ghera/Gera Manjeng, Pamekasan.
FILOSOFI KERIS BROJOL

Brojol berasal dari istilah Jawa mbrojol, yang mempunyai pengertian keluar atau terlepas dengan lancar tanpa hambatan.
Karena itu, filosofi utama Brojol adalah:
kelancaran jalan kehidupan, terbukanya jalan keluar dari kesulitan, dan kemampuan mencapai tujuan dengan tidak banyak hambatan.
Kajian akademik tentang filosofi Brojol juga mengaitkan istilah brojol dengan makna “keluar dengan lancar tanpa hambatan”.
Makna Brojol dalam kehidupan
Brojol dapat dimaknai sebagai perjalanan manusia:
lahir → tumbuh → menghadapi masalah → mencari jalan keluar → mencapai tujuan.
Jadi bukan sekadar simbol kelancaran rezeki.
Lebih dalam lagi, Brojol mengajarkan:
Jika menghadapi persoalan, jangan berhenti pada masalahnya. Carilah jalan keluarnya dengan pikiran jernih dan usaha yang sungguh-sungguh.
BROJOL DAN FILOSOFI KELAHIRAN
Dalam tradisi masyarakat, Brojol sering dikaitkan dengan kelahiran yang lancar.
Hal tersebut berasal dari makna kata mbrojol, yaitu sesuatu yang dapat keluar dengan lancar.
Tetapi filosofi ini dapat diperluas.
Bayi yang baru lahir dianggap masih berada dalam keadaan bersih dan polos. Karena itu Brojol dapat menjadi simbol:
- kesucian,
- awal kehidupan baru,
- membuang beban masa lalu,
- memulai kembali,
- dan menjalani kehidupan dengan hati yang bersih.
Kajian mengenai Brojol juga menempatkan kesederhanaan bentuknya sebagai perlambang manusia yang kembali pada kesucian dan kepasrahan kepada Tuhan.
CIRI FILOSOFIS DHAPUR BROJOL
Brojol dikenal sebagai keris lurus dengan bentuk yang relatif sederhana. Dalam uraian tradisional, cirinya antara lain gandhik polos dan pejetan, tanpa banyak ricikan tambahan.
Kesederhanaan tersebut justru mempunyai pesan:
Sederhana bukan berarti lemah.
Orang yang memiliki prinsip tidak selalu membutuhkan banyak simbol untuk menunjukkan dirinya.
Maka Brojol dapat menjadi perlambang:
lurus dalam pikiran, sederhana dalam perilaku, kuat dalam menghadapi persoalan.
PAMOR BRAHMA WATU

Brahma Watu atau Bhrama-bato/Brama Bato merupakan istilah yang ditemukan dalam tradisi keris Madura.
Menariknya, sumber tentang sejarah industri keris Sumenep menyebut karya Kiai Bromo dikenal dengan nama keris Bhrama-bato.
Dalam kajian mengenai keris Sumenep/Aeng Tong-Tong, Brahma Watu juga dicatat sebagai salah satu nama pamor/keris yang dikenal dalam tradisi lokal Sumenep.
Ada pula sumber yang menjelaskan bahwa di Sumenep, pola yang dikenal dalam tradisi Jawa sebagai Ngulit Semangka disebut Brahma Watu/Bromo Watu dalam konteks keris Madura tertentu.
Karakter visualnya
Pamor yang dikaitkan dengan nama tersebut dapat menampilkan pola bergelombang atau berliku-liku, sehingga memiliki kesan hidup dan dinamis.
Secara filosofis, pola tersebut dapat dibaca sebagai:
kehidupan tidak pernah benar-benar lurus; manusia harus mampu mengikuti perubahan tanpa kehilangan tujuan.
Ini merupakan tafsir filosofis, bukan definisi sejarah yang mutlak.
FILOSOFI “BRAHMA WATU”
Jika dibaca secara simbolik:
Brahma → energi, daya hidup, kekuatan penciptaan.
Watu → batu, sesuatu yang kokoh dan menjadi pijakan.
Maka secara filosofis dapat ditarik menjadi:
“Memiliki daya hidup yang kuat tetapi tetap mempunyai pijakan yang kokoh.”
Artinya:
boleh berkembang,
boleh berubah,
boleh mengejar cita-cita,
tetapi jangan kehilangan prinsip.
BROJOL + BRAHMA WATU
Jika keris yang Anda maksud benar-benar merupakan Brojol dengan pamor Brahma Watu, kombinasi filosofinya sangat menarik.
BROJOL
Kelancaran dan jalan keluar.
BRAHMA WATU
Daya hidup dan keteguhan pijakan.
Maka makna keseluruhannya:
“Berjalanlah menuju tujuan dengan lancar, tetapi jangan kehilangan pijakan. Ketika menghadapi perubahan dan kesulitan, tetaplah teguh, mencari jalan keluar dengan pikiran jernih, dan terus bergerak maju.”
SEJARAH KERIS MADURA

Madura memiliki tradisi keris yang sangat panjang dan kuat, terutama Sumenep.
Penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai industri keris Sumenep mencatat bahwa tradisi pembuatan keris di Madura mempunyai sejarah yang sulit direkonstruksi secara pasti karena banyak informasi diwariskan melalui cerita tutur, sementara sumber tertulis tentang para empu masih terbatas.
Karena itu sejarah keris Madura harus dibaca melalui dua jalur:
1. SUMBER SEJARAH TERTULIS
seperti arsip kolonial dan penelitian akademik.
2. TRADISI LISAN
cerita mengenai Empu Supo, Koso, Bromo, Dukun, dan para empu Madura lainnya.
Keduanya tidak selalu memberikan kronologi yang sama.
MADURA DAN KERAJAAN-KERAJAAN JAWA
Madura pada masa lalu bukan satu kerajaan tunggal yang selalu bersatu.
Penelitian sejarah Sumenep mencatat bahwa wilayah Madura pernah berada di bawah pengaruh berbagai kekuatan Jawa, termasuk Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Surabaya, dan Mataram dalam rentang sejarah yang panjang.
Hal tersebut ikut membentuk karakter budaya keris Madura.
Karena itu keris Madura mempunyai hubungan erat dengan tradisi keris Jawa, tetapi kemudian berkembang menjadi identitas lokal Madura sendiri.
EMPU KOSO — SIAPA DIA?
Di sinilah kisahnya menjadi menarik.
Menurut tradisi yang dicatat dalam penelitian tentang sejarah keris Sumenep, tokoh yang dikenal sebagai Kiai Koso adalah Empu Supo yang menggunakan nama Koso ketika menetap di Desa Ghera/Gera Manjeng, Pamekasan.
Jadi:
Empu Koso dalam tradisi Madura dikaitkan dengan Empu Supo.
Menurut kisah tersebut, setelah berada di Pamekasan, Kiai Koso memiliki dua anak yang kemudian juga menjadi empu, yaitu:
- Kiai Masana
- Kiai Citro-nolo/Citronolo
Keduanya disebut sebagai penerus keahlian pembuatan keris.
PERJALANAN EMPU SUPO / KOSO
Tradisi lisan yang dicatat dalam penelitian memberikan kisah perjalanan yang panjang.
Empu Supo disebut pernah berpindah-pindah dari Jawa menuju Madura.
Di Tuban, ia menggunakan nama Kiai Tapen dan Kiai Sukolipuro.
Di Surabaya disebut menggunakan nama:
Kiai Romojati
dan
Kiai Kembang Jepun.
Kemudian ketika berada di Bangkalan, ia menggunakan nama:
Kiai Brojoguno
Karya yang dikaitkan dengannya kemudian dikenal di Madura sebagai Bhajra-Ghuna.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana ilmu tempa keris tidak berhenti di pusat kerajaan, tetapi ikut berpindah melalui perjalanan para empu.
EMPU KOSO DI PAMEKASAN
Setelah perjalanan tersebut, tokoh ini kemudian sampai di Ghera/Gera Manjeng, Pamekasan.
Di sana ia menggunakan nama:
KIAI KOSO
Ia kemudian bekerja bersama Kiai Dukun.
Keduanya disebut sering menempa keris dalam satu besalen.
Dari lingkungan inilah lahir tradisi keris yang kemudian dikenal sebagai:
Keris Koso Madura
dan
Keris Barurambat.
Sumber akademik menyebut kedua nama tersebut sebagai hasil tradisi pembuatan keris yang dikaitkan dengan Koso dan Kiai Dukun.
KOSO MADURA
Keris Koso Madura mempunyai posisi penting dalam identitas perkerisan Pamekasan.
Dalam penelitian seni mengenai keris Aeng Tong-Tong, keris karya Empu Koso disebut mempunyai nilai estetika dan historis yang tinggi dalam tradisi keris Madura.
Dalam tradisi lokal, keris-keris Koso bahkan sering diberi reputasi sebagai pusaka yang mempunyai daya spiritual/tuah.
Namun bagian mengenai kesaktian atau tuah tersebut harus ditempatkan sebagai kepercayaan dan tradisi masyarakat, bukan sebagai fakta ilmiah yang dapat dibuktikan.
HUBUNGAN EMPU KOSO DAN KIAI DUKUN
Hubungan kedua tokoh ini juga menarik.
Menurut sumber penelitian:
Empu Koso → Gera Manjeng, Pamekasan
Empu Kiai Dukun → Barurambat
Keduanya disebut bersahabat dan sering menempa bersama dalam satu besalen. Dari tradisi tersebut kemudian dikenal nama Koso Madura dan Barurambat.
Ini menunjukkan bahwa perkembangan keris Madura tidak selalu berjalan melalui hubungan guru-murid saja.
Ada pula jaringan persahabatan, perpindahan empu, dan pertukaran keahlian.
HUBUNGAN KOSO DENGAN BRAMA WATU
Ini bagian yang sering tercampur dalam cerita keris.
Dalam sumber sejarah Sumenep:
Kiai Koso / Empu Supo → karya Koso Madura dan Koso Banyu Ayu/Koso Yudagati.
Sedangkan:
Kiai Bromo → karya yang disebut Bhrama-bato / Brama Bato.
Jadi jika sebuah keris disebut:
“Brojol Pamor Brahma Watu, karya Empu Koso”
sebaiknya tidak langsung dianggap bahwa Brahma Watu adalah pamor khas karya Empu Koso.
Lebih aman secara sejarah mengatakan:
“Brojol dengan pamor Brahma Watu dalam tradisi perkerisan Madura, dengan riwayat atau atribusi Empu Koso apabila memang didukung oleh sumber keluarga/pusaka.”
Ini jauh lebih hati-hati dan tidak mencampur dua tradisi yang berbeda.
SUMENEP: PUSAT PERKERISAN MADURA
Setelah perjalanan para empu, ilmu keris berkembang kuat di Sumenep.
Penelitian pemerintah mengenai sejarah industri keris Sumenep menyebut bahwa pada pertengahan abad ke-19 sudah terdapat aktivitas pandai besi dan pembuatan keris di Madura. Bahkan data Politiek Verslag 1862 mencatat 162 pandai besi di seluruh Madura.
Pada abad ke-19, keris tidak hanya menjadi milik kalangan keraton.
Keris juga:
- dibuat oleh masyarakat,
- diperdagangkan,
- digunakan sebagai perlengkapan,
- diwariskan dalam keluarga,
- dan menjadi bagian dari identitas budaya.
Penelitian tersebut juga menyebut bahwa pada 1863 laki-laki Madura tercatat membawa keris dan tombak ketika melakukan aktivitas perdagangan.
KERIS DAN BANGSAWAN SUMENEP
Tradisi keris Madura juga berhubungan dengan lingkungan bangsawan Sumenep.
Beberapa penguasa Sumenep bahkan dikenal sebagai pembuat keris, walaupun sumber penelitian membedakan istilah “pembuat” dengan “empu”. Nama yang disebut antara lain Sultan Pakunotoningrat dan ayahnya, Panembahan Sumolo/Notokusumo I.
Panembahan Sumolo diketahui hidup pada periode 1762–1811 sebagai Pangeran Notokusumo I.
Ini menunjukkan bahwa keris di Madura bukan hanya produk pandai besi, tetapi juga bagian dari budaya istana, status sosial, dan simbol kebangsawanan.
FILOSOFI BROJOL BRAHMA WATU
Kalau seluruh unsur tadi disatukan, filosofi pusaka ini dapat dirumuskan menjadi:
BROJOL
Jalan harus dicari sampai terbuka.
BRAHMA WATU
Kekuatan harus mempunyai pijakan.
MADURA
Berani, lugas, dan teguh menghadapi kehidupan.
KOSO
Melambangkan kesinambungan ilmu empu melalui perjalanan dan pewarisan.
Maka pesan filosofinya:
“Hidup adalah perjalanan mencari jalan keluar. Jangan takut menghadapi kesulitan, tetapi jangan pula kehilangan pijakan. Jadilah manusia yang teguh dalam prinsip, bersih dalam niat, dan terus berusaha membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik.”
7 NILAI UTAMA KERIS BROJOL PAMOR BRAHMA WATU
1. KELANCARAN
Berusaha membuka jalan ketika menghadapi hambatan.
2. KETEGUHAN
Tidak mudah menyerah ketika keadaan berubah.
3. KESEDERHANAAN
Tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan.
4. KEBERSIHAN HATI
Seperti manusia yang baru memulai kehidupan, berusaha meninggalkan keburukan.
5. KEBERANIAN
Berani menghadapi persoalan secara langsung.
6. JATI DIRI
Tetap mempunyai pijakan walaupun kehidupan terus berubah.
7. PEWARISAN ILMU
Seperti perjalanan ilmu para empu Madura, pengetahuan harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Tags: Filosofi keris brojol, Keris Brojol Pamor Brahma Watu Madura, PAMOR BRAHMA WATU
Keris Brojol Pamor Brahma Watu Madura
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 38 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Tilam Sari Keris Tilam Sari termasuk salah satu dhapur keris lurus yang halus, berwibawa, dan sarat makna simbolik. Kata tilam berarti alas tidur, tempat beristirahat, sedangkan sari berarti inti, esensi, atau yang paling utama. Secara filosofis, Tilam Sari dimaknai sebagai tempat bersemayamnya inti kehidupan, pusat ketenangan lahir dan batin. Dalam tradisi Jawa, dhapur ini… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Brojol Brojol secara bahasa dan simbolik sangat dekat dengan makna keluar, lolos, lepas dari suatu keadaan yang menghambat. Dalam falsafah Jawa, makna tersebut dapat direnungkan sebagai perjalanan manusia ketika menghadapi masalah. Ada kalanya seseorang merasa kehidupannya seperti berada di dalam ruang yang sempit. Masalah datang bertubi-tubi, jalan terasa tertutup, dan keputusan sulit diambil…. selengkapnya
Rp 4.555.000Jenis: Keris Luk 5 Dhapur: Kebo Kantong Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Madiun Sepuh Warangka: Branggah Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho
Rp 14.444.000 Rp 16.666.000Filosofi Dhapur Nogo Siluman Nogo Siluman merupakan salah satu nama dhapur yang mempunyai simbolisme kuat. Nogo atau naga dalam kebudayaan Jawa dan Nusantara sering menjadi lambang kekuatan, kewibawaan, penjagaan, dan kekuasaan atas suatu ruang kehidupan. Sedangkan siluman dapat direnungkan bukan semata-mata sebagai sesuatu yang gaib, melainkan sebagai sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan. Dari… selengkapnya
Rp 45.555.000Dhapur Sabuk Inten Keris Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris paling populer dan berwibawa dalam tradisi Jawa. Nama Sabuk (ikat pinggang) dan Inten (berlian) mengandung makna: ikatan kehormatan, pengendalian diri, kemuliaan dan keteguhan hati. Secara filosofis, Sabuk Inten melambangkan: pemimpin yang mampu mengikat kekuatan lahir dan batin secara seimbang. Keris Sabuk Inten sering diasosiasikan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan adalah sebuah mahakarya seni pusaka yang mengundang decak kagum. Keris ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan suatu warisan budaya yang memancarkan keanggunan dan keunikan. Sebagai salah satu permata koleksi kami, keberadaan keris ini merambah wilayah legendaris dan fenomenal. Daya tarik utama dari Keris Nogo Sosro Luk 9… selengkapnya
Rp 100.000.000 Rp 115.000.000Filosofi Dhapur Jalak Nyucup Madu Jalak Nyucup Madu termasuk dhapur keris lurus dengan ukuran bilah normal. Ciri yang lazim disebut antara lain gandhik polos, pejetan, tikel alis, sogokan depan yang pendek, serta greneng. Namanya dapat direnungkan dari tiga kata: Jalak — burung yang dalam simbol tradisional sering dikaitkan dengan kecerdasan dan kemampuan bergaul. Nyucup —… selengkapnya
Rp 6.500.000Dhapur Singo Barong Keris Singo Barong adalah perwujudan makhluk mitologis penjaga kekuasaan. Dalam budaya Jawa, ia merupakan hasil akulturasi: singa (kekuatan dan keberanian), barong (penjaga alam dan dunia halus), serta pengaruh kosmologi Hindu–Buddha dan Jawa Islam. Ciri khas dhapur Singa Barong: gandhik diukir kepala singa/barong, mulut terbuka sebagai simbol kewaspadaan, ekspresi garang namun berwibawa, detail… selengkapnya
Rp 65.555.000 Rp 85.500.000Dhapur Sengkelat Keris Sengkelat Luk 13 merupakan salah satu dhapur keris agung yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Keris ini identik dengan kewibawaan tinggi, kecerdasan kepemimpinan, dan kematangan batin. Dhapur Sengkelat kerap diasosiasikan dengan tokoh-tokoh besar, bangsawan, serta pemimpin yang memiliki ketegasan sekaligus kebijaksanaan. Dipadukan dengan pamor Udan Mas Tiban, keris ini semakin bernilai… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Tilam Sari Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban adalah pusaka klasik yang dikenal berkarakter halus, berwibawa, dan penuh pesona. Keris ini mencerminkan keseimbangan antara keindahan rupa, kedalaman makna, dan keteduhan karakter, sehingga sejak dahulu sering dikaitkan dengan figur pemimpin, bangsawan, dan pribadi berpengaruh. Dhapur Tilam Sari sendiri melambangkan alas keindahan dan kenyamanan, menandakan pusaka yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CS









Keris Nogo Siluman Luk 7 Tangguh Cirebon
TEGEK SET KOLONG LONGTENG
Bethok Jalak Budho Medang Kamulan
Keris Pamor Udan Mas Asli
Jagrak Stand Pajangan Tombak Isi 7 Ukiran Kayu Jati
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.