Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
| Kode | FR |
| Stok | Habis |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Tilam Upih
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Tumpalan, Bahan Tembaga
Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
Filosofi Keris Tilam Upih
Keris Tilam Upih termasuk salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih memiliki makna simbolis yang dekat dengan ketenteraman, kecukupan, kesejahteraan, dan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Dalam pemaknaan tradisional, tilam berkaitan dengan tempat beristirahat atau alas tidur, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang/areca yang dahulu memiliki berbagai kegunaan dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, filosofi Tilam Upih sering diarahkan pada konsep “papan, sandang, pangan”—kebutuhan dasar kehidupan yang tercukupi sehingga seseorang dapat menjalani hidup dengan tenteram.
Makna filosofisnya antara lain:
- Ketenangan hidup dan ketenteraman batin.
- Kecukupan rezeki, terutama dalam memenuhi kebutuhan kehidupan.
- Keharmonisan rumah tangga dan kehidupan keluarga.
- Kesederhanaan serta kemampuan menikmati apa yang telah dimiliki.
- Keseimbangan antara mengejar cita-cita dan menjaga ketenteraman hidup.
Dengan demikian, Tilam Upih bukan sekadar simbol kemakmuran, tetapi juga mengandung pitutur bahwa kemakmuran yang paling bernilai adalah ketika membawa ketenteraman.
Sejarah Mataram Era Sultan Agung
Jika sebuah Keris Tilam Upih disebut Tangguh Mataram Sultan Agung, konteks sejarahnya berkaitan dengan masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram yang memerintah sekitar 1613–1645.
Pada masa Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa. Pusat kekuasaannya berada di wilayah pedalaman, tetapi pengaruh Mataram meluas ke berbagai wilayah Jawa.
Sultan Agung dikenal sebagai tokoh yang berusaha memperluas dan mengonsolidasikan kekuasaan Mataram. Pada masa pemerintahannya berlangsung berbagai ekspedisi militer, termasuk upaya menghadapi kekuatan VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.
Era Sultan Agung juga penting dalam perkembangan kebudayaan Jawa. Pemerintahannya menjadi salah satu periode penting dalam pembentukan identitas budaya Mataram, termasuk perkembangan sistem penanggalan Jawa, kesusastraan, seni, tata pemerintahan, dan tradisi keraton.
Dalam konteks perkerisan, penyebutan Tangguh Mataram membawa kita pada lingkungan budaya tersebut. Namun, perlu dibedakan antara “keris berasal dari masa Sultan Agung” dan “keris bergaya atau beratribusi Tangguh Mataram”. Penentuan usia dan tangguh sebuah bilah tidak cukup hanya berdasarkan dhapur atau pamornya, melainkan membutuhkan kajian terhadap keseluruhan karakter bilah.
Filosofi Tilam Upih dalam Konteks Mataram
Apabila Tilam Upih dikaitkan dengan lingkungan budaya Mataram era Sultan Agung, filosofi tersebut menjadi semakin menarik.
Mataram pada masa itu bukan hanya berbicara mengenai kekuasaan dan peperangan, tetapi juga mengenai tata kehidupan, ketertiban, keseimbangan, dan kewajiban manusia terhadap kehidupan sosialnya.
Tilam Upih dapat dibaca sebagai simbol bahwa setelah seseorang menjalankan perjuangan dan mencapai kedudukan, tujuan akhirnya tetap kembali kepada ketenteraman dan kesejahteraan kehidupan.
Ada sebuah pesan filosofis yang dapat dirangkum:
“Kejayaan tanpa ketenteraman belumlah menjadi kesempurnaan; kedudukan yang tinggi hendaknya membawa kesejahteraan bagi kehidupan.”
Karena itu, Keris Tilam Upih Tangguh Mataram dapat dipandang sebagai simbol ketenteraman, kecukupan, keseimbangan, dan kemapanan hidup, sekaligus mengingatkan pemiliknya agar tetap sederhana dan mampu menjaga apa yang telah diperoleh.

Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 57 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Jalak Tilam Sari Keris Jalak Tilam Sari merupakan pengembangan halus dari keluarga dhapur Jalak, yang menggabungkan makna: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Tilam → alas istirahat, perlindungan, ketenangan Sari → inti keindahan, nilai luhur, esensi terbaik Secara filosofis, Jalak Tilam Sari melambangkan: pribadi yang cerdas dan waspada, namun mampu memberi rasa teduh, nyaman,… selengkapnya
Rp 22.500.000 Rp 24.500.000Dhapur Panji Anom — Simbol Perjuangan Kesatria Muda Keris Panji Anom (Panji Nom) adalah salah satu dhapur lurus yang sejak masa lampau hingga kini tetap dicari oleh para pecinta dan kolektor keris. Secara visual, bilahnya lurus dengan karakter sedikit membungkuk alus, panjang sedang, dan permukaan bilah nggigir sapi, menandakan besi yang padat, matang, dan berisi…. selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Brojol Brojol merupakan dhapur keris lurus yang secara filosofis sangat menarik. Kata brojol dalam bahasa Jawa dapat dikaitkan dengan makna keluar, lepas, atau berhasil melewati suatu keadaan yang sebelumnya menjadi penghalang. Karena itu, Brojol sering direnungkan sebagai simbol: kemudahan melewati kesulitan, terbukanya jalan, kelancaran, keberanian memulai kehidupan baru, dan terbebas dari belenggu. Makna… selengkapnya
Rp 8.555.000Jenis Pusaka : Luk 5 Dhapur Keris (bentuk keris) : Singo Barong Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho Pendok : Bunton Jogja Motif Modang Bahan : Tembaga Lamen Filosofi Keris Singo Barong Keris Singo Barong merupakan salah satu pusaka paling… selengkapnya
Rp 33.333.000 Rp 35.555.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Jalak Ngore Pamor: Ron Genduru Winengku Tangguh: Mataram Amangkurat Warangka: Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras Filosofi Dhapur Jalak Ngore Dhapur Jalak Ngore dikenal sederhana namun sarat makna. Ricikannya meliputi: Gandik lugas Tikel alis Pejetan Greneng bersusun Burung jalak sejak lama menjadi simbol kejujuran, kejernihan hati, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Pesan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis: Keris Luk 5 Dhapur: Kebo Kantong Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Madiun Sepuh Warangka: Branggah Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho
Rp 14.444.000 Rp 16.666.000Dhapur Singo Barong Keris Singo Barong adalah perwujudan makhluk mitologis penjaga kekuasaan. Dalam budaya Jawa, ia merupakan hasil akulturasi: singa (kekuatan dan keberanian), barong (penjaga alam dan dunia halus), serta pengaruh kosmologi Hindu–Buddha dan Jawa Islam. Ciri khas dhapur Singa Barong: gandhik diukir kepala singa/barong, mulut terbuka sebagai simbol kewaspadaan, ekspresi garang namun berwibawa, detail… selengkapnya
Rp 65.555.000 Rp 85.500.000Keris Naga Sasra Luk 11 Kinatah Emas Keris Naga Sasra Luk 11 Kinatah Emas Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan pusaka yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pecinta tosan aji dan kolektor keris tradisional Jawa. Perpaduan dhapur Naga Sasra, bilah berlekuk sebelas (luk 11), serta hiasan kinatah emas menghadirkan keindahan seni tempa dan nilai estetika… selengkapnya
Rp 75.000.000Jenis: Keris Luk 7 Dhapur: Balebang Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Bali Sepuh Warangka: Bali Beblatungan, Bahan Kayu Timoho
Rp 9.000.000 Rp 12.000.000Filosofi Singo Barong Singo Barong mengambil simbol singa, yang secara filosofis dapat dikaitkan dengan keberanian, ketegasan, kekuatan, dan kewibawaan. Dalam pemaknaan budaya, singa bukan hanya menggambarkan kekuatan untuk menghadapi pihak lain, tetapi juga kemampuan mengendalikan kekuatan tersebut. Seorang yang memiliki wibawa tidak harus selalu menunjukkan kekerasan; justru kewibawaan dapat muncul dari keteguhan sikap, ketenangan, dan… selengkapnya
Rp 100.000.000










Jagrak Stand Tempat Keris Isi 5 Ukiran Naga Kayu Jati
TEGEK X-PIRATES BARBOSSA
Keris Santan Luk 11 Pamor Pandito Bolo Pandito Mataram Amangkurat
Keris Brojol Pamor Junjung Derajat
Minyak Keris Aroma Bunga Melati Kraton Surakarta Premium
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.