Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran
Rp 3.888.000 Rp 5.000.000| Kode | TAG |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Kuno |
Dhapur : Brojol
Pamor : Uler Lulut
Tangguh : Pajajaran
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton Slorok, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran
Filosofi Keris Brojol
Brojol mempunyai nama yang berasal dari kata brojol, yang secara umum bermakna keluar, lahir, terlepas, atau berhasil melewati suatu keadaan yang menghambat.
Karena itu, filosofi Brojol sering dikaitkan dengan:
- kelancaran dalam menghadapi persoalan
- terbukanya jalan yang semula tertutup
- kemampuan keluar dari kesulitan
- kesederhanaan
- dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Makna filosofisnya dapat dirangkum:
“Apa pun yang menjadi penghalang, pada waktunya akan dapat dilewati apabila seseorang memiliki keteguhan dan kemauan.”
Dhapur Brojol termasuk kelompok dhapur leres, yaitu bilah lurus. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa keris memiliki banyak variasi dhapur leres maupun luk, dan bahwa penentuan tangguh merupakan persoalan berbeda dari penentuan dhapur.
Brojol sebagai simbol kelahiran kembali
Kata brojol juga dapat dibaca secara simbolis sebagai keluar dari suatu ruang menuju keadaan baru.
Seperti seorang bayi yang lahir dari rahim, manusia juga berkali-kali mengalami “brojol” dalam kehidupannya:
masalah → perjuangan → keluar → menjadi lebih matang.
Maka Brojol bukan hanya filosofi “kelancaran rezeki”, tetapi lebih luas:
kemampuan untuk melewati fase sulit dan memasuki kehidupan yang lebih baik.
Pamor Uler Lulut
Pamor pada foto terlihat berupa motif-motif putih yang terpisah dan berkelompok di sepanjang bilah. Jika memang berdasarkan identifikasi pusaka disebut Pamor Uler Lulut, maka secara tradisi nama ini memang mempunyai filosofi tersendiri.
Literatur koleksi keris Museum Negeri Provinsi Bali menjelaskan Uler Lulut sebagai motif yang menyerupai tubuh ulat atau bulatan-bulatan yang saling menempel; dalam kepercayaan pecinta keris, pamor ini dikaitkan dengan kebaikan, kemudahan rezeki, dan kemampuan berbicara yang dipercaya orang.
Dalam tradisi lain, Uler Lulut juga diberi makna luwes dalam pergaulan dan mudah mendapatkan simpati. Ini adalah kepercayaan/filosofi tradisional, bukan efek yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Jadi jika Brojol dan Uler Lulut dibaca bersama:
Brojol → membuka jalan
Uler Lulut → keluwesan dan hubungan baik
Pajajaran → keteguhan identitas dan tradisi Sunda
Filosofinya menjadi:
“Membuka jalan kehidupan dengan keluwesan, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan tetap teguh memegang jati diri.”
SEJARAH PAJAJARAN
Ada satu hal yang sering menimbulkan kekeliruan.
Dalam sejarah akademis, “Pajajaran” tidak selalu merupakan nama kerajaan yang berdiri terpisah dari Kerajaan Sunda.
Kajian Balai Arkeologi menjelaskan bahwa nama Pakuan Pajajaran pada awalnya pernah dianggap sebagai nama kerajaan, tetapi kemudian lebih banyak dipahami sebagai nama ibu kota/pusat pemerintahan Kerajaan Sunda. Pusat pemerintahan Kerajaan Sunda sendiri mengalami beberapa kali perpindahan, hingga akhirnya berada di Pakuan Pajajaran.
Jadi istilah:
Kerajaan Pajajaran
yang sangat populer dalam masyarakat pada dasarnya berkaitan erat dengan:
Kerajaan Sunda — Pakuan Pajajaran.
Pakuan Pajajaran
Pakuan berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Bogor.
Kerajaan Sunda berkembang di Jawa Barat dan mempunyai hubungan sejarah dengan Galuh. Sumber arkeologi menyebut perkembangan pusat kerajaan Sunda dari Galuh hingga Pakuan Pajajaran.
Dalam tradisi masyarakat Sunda, masa Pakuan Pajajaran kemudian sangat kuat dikaitkan dengan nama Prabu Siliwangi.
Namun, Prabu Siliwangi dalam tradisi populer tidak boleh langsung disamakan dengan satu tokoh historis tertentu tanpa catatan, karena nama tersebut berkembang sebagai figur legendaris dan historis dalam berbagai naskah dan tradisi Sunda.
Masa Akhir Pajajaran
Kerajaan Sunda menghadapi perubahan besar pada abad ke-15 dan ke-16.
Islam berkembang pesat di wilayah pesisir Jawa Barat, terutama melalui pusat perdagangan seperti Cirebon dan Banten.
Banten pada awalnya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Pada 1524, Banten dikuasai oleh kekuatan Demak yang dipimpin Syarif Hidayatullah, kemudian berkembang menjadi kesultanan sendiri di bawah Sultan Hasanuddin.
Cirebon juga mempunyai hubungan erat dengan lingkungan Sunda/Galuh. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa pada masa Pajajaran, Cirebon berada dalam lingkungan kekuasaan Sunda dan kemudian berkembang menjadi pusat Islam yang semakin mandiri.
Perubahan politik dan agama tersebut akhirnya menyebabkan kekuasaan Pakuan Pajajaran semakin terdesak.
Lalu bagaimana sejarah “Keris Pajajaran”?
Ini bagian yang sangat penting.
Keris memang telah dikenal di Nusantara jauh sebelum masa akhir Pajajaran. Bukti tertulis mengenai istilah keris telah muncul dalam prasasti sekitar abad ke-9 Masehi, sementara perkembangan bentuknya ditelusuri melalui prasasti, relief, dan artefak.
Dalam sistem tangguh tradisional Jawa, Pajajaran ditempatkan sebagai salah satu tangguh sepuh, yang secara tradisional diperkirakan berkaitan dengan sekitar abad XIII–XIV.
Tetapi perlu hati-hati:
“Tangguh Pajajaran” ≠ “pasti dibuat di istana Pajajaran oleh empu tertentu.”
Tangguh merupakan pembacaan tradisional terhadap karakter bilah, termasuk bentuk, ricikan, garap, besi, pamor dan ciri keseluruhan.
Bahkan kajian mengenai keris sendiri mengingatkan bahwa penentuan asal dan periode keris tidak selalu dapat dibuktikan secara ilmiah hanya berdasarkan atribusi tradisional.
Ciri filosofis keris Pajajaran
Jika kita membahas “Pajajaran” bukan hanya sebagai kerajaan tetapi sebagai warisan budaya Sunda, maka filosofi keris yang dikaitkan dengannya dapat dibaca melalui tiga unsur:
1. Keselarasan dengan alam
Budaya Sunda sangat kuat dengan hubungan manusia, alam, dan kehidupan sosial.
Pamor yang menyerupai tumbuhan, air, awan, hewan atau bentuk alam sering mendapatkan tafsir simbolis.
2. Menjaga keseimbangan
Kekuatan bukan berarti agresivitas.
Kekuatan yang ideal adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara:
diri sendiri — keluarga — masyarakat — alam.
3. Mempertahankan jati diri
Sejarah akhir Sunda menunjukkan perubahan politik yang besar. Karena itu secara simbolis, pusaka yang dikaitkan dengan Pajajaran sering dibaca sebagai lambang keteguhan mempertahankan identitas dan kehormatan.
Ada beberapa hal yang cukup menonjol secara visual.
Bilah lurus
Bentuknya sangat panjang dan relatif ramping.
Ini memberikan karakter yang tegas dan sederhana, sesuai dengan karakter filosofis Brojol.
Sor-soran lebar
Bagian bawah bilah terlihat jauh lebih lebar daripada bagian tengah hingga pucuk.
Secara simbolis:
memiliki dasar yang kuat sebelum bergerak menuju tujuan.
Pamor tersebar
Pamor terlihat seperti bentuk-bentuk yang berdiri sendiri di atas permukaan bilah.
Jika benar Uler Lulut, pola tersebut memang dapat terlihat seperti kumpulan bentuk yang saling berhubungan. Literatur keris mendeskripsikan Uler Lulut dengan karakter bulatan-bulatan yang menempel menyerupai tubuh ulat.
Gaya keseluruhan
Bilahnya memberikan kesan tua, sederhana, dan tidak terlalu penuh ricikan.
Tetapi saya tidak akan menetapkan “Pajajaran asli abad XIII–XIV” hanya dari foto. Untuk itu diperlukan pemeriksaan langsung dan perbandingan dengan parameter tangguh.
Filosofi Brojol Pajajaran
Jika seluruh unsur pusaka ini disatukan:
BROJOL
→ keluar dari kesulitan.
ULER LULUT
→ keluwesan dan hubungan baik.
BILAH LURUS
→ keteguhan dan kejujuran arah.
PAJAJARAN
→ identitas dan ketahanan budaya Sunda.
Maka pesan filosofisnya dapat dirangkum:
“Jalani kehidupan dengan hati yang lurus. Ketika menghadapi kesulitan, jangan menyerah; bukalah jalan dengan keteguhan, keluwesan dan hubungan baik dengan sesama, sambil tetap menjaga jati diri.”
Dan ada satu filosofi yang menurut saya paling cocok dengan bentuk bilah ini:
“Lurus jalannya, kuat akarnya, luwes menghadapi keadaan, dan mampu brojol dari setiap kesulitan.”
Tags: Ciri filosofis keris Pajajaran, Filosofi Brojol Pajajaran, Filosofi keris brojol, Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran, Pakuan Pajajaran, Pamor Uler Lulut, SEJARAH PAJAJARAN
Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 26 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Tilam Upih Keris Tilam Upih adalah salah satu dhapur keris lurus tertua dan paling dihormati dalam tradisi Jawa.Nama Tilam (alas tidur) dan Upih (pelepah pinang) mengandung filosofi: kesederhanaan, ketenangan, perlindungan, kenyamanan lahir dan batin. Secara pakem, Tilam Upih melambangkan: pemimpin atau pribadi yang mampu memberi rasa aman, teduh, dan perlindungan bagi lingkungannya. Karena sifatnya… selengkapnya
Rp 45.500.000 Rp 48.000.000Jenis: Keris Luk 9 Dhapur: Sempana Pamor: Lintang Kemukus Tangguh: Pajajaran Warangka: Gayaman Surakarta Bahan : Kayu Timoho
*Harga Hubungi CSDhapur Jangkung Tebu Saoyotan Keris Jangkung Tebu Saoyotan Pamor Keleng Tangguh Kediri, salah satu pusaka yang sangat diburu kolektor dan pecinta keris. Sebuah pusaka keris berkarakter tegas, berwibawa, dan menyimpan tuah keteguhan, ketangguhan, serta perlindungan tinggi. Dhapur Jangkung Tebu Saoyotan dikenal sebagai dhapur penegak kekuatan lahir batin, sedangkan pamor Keleng menghadirkan aura misterius, teduh, namun… selengkapnya
Rp 9.999.000 Rp 11.498.850Jenis Pusaka : Keris Luk 9 Dhapur : Sempono Pamor : Wos Wutah Tangguh : Segaluh ( Abad 12 ) Model Warangka : Gayaman Surakarta Bahan Warangka : Kayu Timoho Model Pendok : Blewah Cukit Lung Gandu Bahan Pendok : Kuningan Keris Tangguh Segaluh Abad 12 Keris Tangguh Segaluh adalah salah satu kategori tangguh paling… selengkapnya
Rp 13.333.000 Rp 15.332.950APA ITU PAMOR UDAN MAS? Ciri visual yang paling mudah dikenali adalah bulatan atau pusaran pamor berlapis yang tersebar pada bilah, menyerupai titik-titik air hujan yang jatuh ke permukaan air. Dalam literatur keris, gambaran tersebut memang digunakan untuk menjelaskan bentuk Udan Mas. Secara sederhana: Udan = hujanMas = emas Sehingga: Udan Mas = hujan emas… selengkapnya
Rp 15.555.000 Rp 18.888.000Jenis : Luk 9 Dhapur : Sempana Pamor : Pancuran Mas Tangguh : Pajajaran Warangka : Ladrang Surakarta Iras Bahan : Trembalo Pendok : Blewah Cukit Bahan : Kuningan Filosofi Pamor Pancuran Mas (Simbol Kemakmuran, Kedermawanan dan Aliran Berkah yang Tidak Pernah Terputus) Pamor Pancuran Mas merupakan salah satu pamor paling populer dan sarat doa-doa… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.388.250Keris Sempana Bungkem Keris Sempana Bungkem sebuah dhapur yang sejak awal tidak diciptakan untuk sekadar indah dipandang, melainkan untuk mengajarkan laku hidup. Ia adalah pusaka yang berbicara tentang pengendalian, keteguhan, dan kedewasaan batin. Ciri paling otentik dan mudah dikenali dari dhapur ini adalah sekar kacang mbungkem, sekar kacang yang tidak membuka ke depan sebagaimana lazimnya,… selengkapnya
*Harga Hubungi CSBETHOK PASOPATI Bethok Pasopati adalah salah satu bentuk pusaka paling ikonik dalam dunia tosan aji. Berbeda dari keris standar, bethok memiliki bentuk bilah tebal, pendek, lurus, dan dibuat dengan tujuan efisiensi, kekuatan, dan kecepatan. Ia dirancang sebagai senjata jarak dekat, alat perlindungan, sekaligus pusaka simbolik yang melambangkan ketegasan seorang ksatria. Ketika bethok bersanding dengan Pasopati,… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Carang Soka Keris Carang Soka dimaknai sebagai ranting pohon yang sedang berada dalam kesedihan, namun tidak mati. Ia tetap melekat pada batang kehidupan. Filosofi ini menggambarkan manusia yang mengalami duka, cobaan, kehilangan, atau kepedihan, tetapi tetap dituntut untuk kuat, sabar, dan melanjutkan hidup. Secara bahasa: Carang berarti ranting pohon Soka berarti sedih atau duka… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis: Keris Lurus Dhapur: Putut Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Tuban Pajajaran Warangka: Gayaman Surakarta Bahan : Kayu Timoho
*Harga Hubungi CS










Keris Pandawa Lare Luk 5 Pamor Keleng Tangguh Majapahit
TEGEK THREEFISH SHICHAOFENG 360 CM
Keris Pandawa Cinarito Mataram Amangkurat
Dewi Saraswati Ukiran Kayu Jati
Keris Kaladite Mataram Sultan Agung
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.