Beranda » Keris Kuno » Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran
click image to preview activate zoom
Diskon
22%

Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran

Rp 3.888.000 Rp 5.000.000
Hemat Rp 1.112.000
KodeTAG
Stok Tersedia
Kategori Keris Kuno

Dhapur : Brojol
Pamor : Uler Lulut
Tangguh : Pajajaran
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton Slorok, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran

Filosofi Keris Brojol

Brojol mempunyai nama yang berasal dari kata brojol, yang secara umum bermakna keluar, lahir, terlepas, atau berhasil melewati suatu keadaan yang menghambat.

Karena itu, filosofi Brojol sering dikaitkan dengan:

  • kelancaran dalam menghadapi persoalan
  • terbukanya jalan yang semula tertutup
  • kemampuan keluar dari kesulitan
  • kesederhanaan
  • dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Makna filosofisnya dapat dirangkum:

“Apa pun yang menjadi penghalang, pada waktunya akan dapat dilewati apabila seseorang memiliki keteguhan dan kemauan.”

Dhapur Brojol termasuk kelompok dhapur leres, yaitu bilah lurus. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa keris memiliki banyak variasi dhapur leres maupun luk, dan bahwa penentuan tangguh merupakan persoalan berbeda dari penentuan dhapur.

Brojol sebagai simbol kelahiran kembali

Kata brojol juga dapat dibaca secara simbolis sebagai keluar dari suatu ruang menuju keadaan baru.

Seperti seorang bayi yang lahir dari rahim, manusia juga berkali-kali mengalami “brojol” dalam kehidupannya:

masalah → perjuangan → keluar → menjadi lebih matang.

Maka Brojol bukan hanya filosofi “kelancaran rezeki”, tetapi lebih luas:

kemampuan untuk melewati fase sulit dan memasuki kehidupan yang lebih baik.


Pamor Uler Lulut

Pamor pada foto terlihat berupa motif-motif putih yang terpisah dan berkelompok di sepanjang bilah. Jika memang berdasarkan identifikasi pusaka disebut Pamor Uler Lulut, maka secara tradisi nama ini memang mempunyai filosofi tersendiri.

Literatur koleksi keris Museum Negeri Provinsi Bali menjelaskan Uler Lulut sebagai motif yang menyerupai tubuh ulat atau bulatan-bulatan yang saling menempel; dalam kepercayaan pecinta keris, pamor ini dikaitkan dengan kebaikan, kemudahan rezeki, dan kemampuan berbicara yang dipercaya orang.

Dalam tradisi lain, Uler Lulut juga diberi makna luwes dalam pergaulan dan mudah mendapatkan simpati. Ini adalah kepercayaan/filosofi tradisional, bukan efek yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Jadi jika Brojol dan Uler Lulut dibaca bersama:

Brojol → membuka jalan
Uler Lulut → keluwesan dan hubungan baik
Pajajaran → keteguhan identitas dan tradisi Sunda

Filosofinya menjadi:

“Membuka jalan kehidupan dengan keluwesan, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan tetap teguh memegang jati diri.”


SEJARAH PAJAJARAN

Ada satu hal yang sering menimbulkan kekeliruan.

Dalam sejarah akademis, “Pajajaran” tidak selalu merupakan nama kerajaan yang berdiri terpisah dari Kerajaan Sunda.

Kajian Balai Arkeologi menjelaskan bahwa nama Pakuan Pajajaran pada awalnya pernah dianggap sebagai nama kerajaan, tetapi kemudian lebih banyak dipahami sebagai nama ibu kota/pusat pemerintahan Kerajaan Sunda. Pusat pemerintahan Kerajaan Sunda sendiri mengalami beberapa kali perpindahan, hingga akhirnya berada di Pakuan Pajajaran.

Jadi istilah:

Kerajaan Pajajaran

yang sangat populer dalam masyarakat pada dasarnya berkaitan erat dengan:

Kerajaan Sunda — Pakuan Pajajaran.


Pakuan Pajajaran

Pakuan berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Bogor.

Kerajaan Sunda berkembang di Jawa Barat dan mempunyai hubungan sejarah dengan Galuh. Sumber arkeologi menyebut perkembangan pusat kerajaan Sunda dari Galuh hingga Pakuan Pajajaran.

Dalam tradisi masyarakat Sunda, masa Pakuan Pajajaran kemudian sangat kuat dikaitkan dengan nama Prabu Siliwangi.

Namun, Prabu Siliwangi dalam tradisi populer tidak boleh langsung disamakan dengan satu tokoh historis tertentu tanpa catatan, karena nama tersebut berkembang sebagai figur legendaris dan historis dalam berbagai naskah dan tradisi Sunda.


Masa Akhir Pajajaran

Kerajaan Sunda menghadapi perubahan besar pada abad ke-15 dan ke-16.

Islam berkembang pesat di wilayah pesisir Jawa Barat, terutama melalui pusat perdagangan seperti Cirebon dan Banten.

Banten pada awalnya merupakan wilayah kekuasaan Pajajaran. Pada 1524, Banten dikuasai oleh kekuatan Demak yang dipimpin Syarif Hidayatullah, kemudian berkembang menjadi kesultanan sendiri di bawah Sultan Hasanuddin.

Cirebon juga mempunyai hubungan erat dengan lingkungan Sunda/Galuh. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa pada masa Pajajaran, Cirebon berada dalam lingkungan kekuasaan Sunda dan kemudian berkembang menjadi pusat Islam yang semakin mandiri.

Perubahan politik dan agama tersebut akhirnya menyebabkan kekuasaan Pakuan Pajajaran semakin terdesak.


Lalu bagaimana sejarah “Keris Pajajaran”?

Ini bagian yang sangat penting.

Keris memang telah dikenal di Nusantara jauh sebelum masa akhir Pajajaran. Bukti tertulis mengenai istilah keris telah muncul dalam prasasti sekitar abad ke-9 Masehi, sementara perkembangan bentuknya ditelusuri melalui prasasti, relief, dan artefak.

Dalam sistem tangguh tradisional Jawa, Pajajaran ditempatkan sebagai salah satu tangguh sepuh, yang secara tradisional diperkirakan berkaitan dengan sekitar abad XIII–XIV.

Tetapi perlu hati-hati:

“Tangguh Pajajaran” ≠ “pasti dibuat di istana Pajajaran oleh empu tertentu.”

Tangguh merupakan pembacaan tradisional terhadap karakter bilah, termasuk bentuk, ricikan, garap, besi, pamor dan ciri keseluruhan.

Bahkan kajian mengenai keris sendiri mengingatkan bahwa penentuan asal dan periode keris tidak selalu dapat dibuktikan secara ilmiah hanya berdasarkan atribusi tradisional.


Ciri filosofis keris Pajajaran

Jika kita membahas “Pajajaran” bukan hanya sebagai kerajaan tetapi sebagai warisan budaya Sunda, maka filosofi keris yang dikaitkan dengannya dapat dibaca melalui tiga unsur:

1. Keselarasan dengan alam

Budaya Sunda sangat kuat dengan hubungan manusia, alam, dan kehidupan sosial.

Pamor yang menyerupai tumbuhan, air, awan, hewan atau bentuk alam sering mendapatkan tafsir simbolis.

2. Menjaga keseimbangan

Kekuatan bukan berarti agresivitas.

Kekuatan yang ideal adalah kemampuan menjaga keseimbangan antara:

diri sendiri — keluarga — masyarakat — alam.

3. Mempertahankan jati diri

Sejarah akhir Sunda menunjukkan perubahan politik yang besar. Karena itu secara simbolis, pusaka yang dikaitkan dengan Pajajaran sering dibaca sebagai lambang keteguhan mempertahankan identitas dan kehormatan.


Ada beberapa hal yang cukup menonjol secara visual.

Bilah lurus

Bentuknya sangat panjang dan relatif ramping.

Ini memberikan karakter yang tegas dan sederhana, sesuai dengan karakter filosofis Brojol.

Sor-soran lebar

Bagian bawah bilah terlihat jauh lebih lebar daripada bagian tengah hingga pucuk.

Secara simbolis:

memiliki dasar yang kuat sebelum bergerak menuju tujuan.

Pamor tersebar

Pamor terlihat seperti bentuk-bentuk yang berdiri sendiri di atas permukaan bilah.

Jika benar Uler Lulut, pola tersebut memang dapat terlihat seperti kumpulan bentuk yang saling berhubungan. Literatur keris mendeskripsikan Uler Lulut dengan karakter bulatan-bulatan yang menempel menyerupai tubuh ulat.

Gaya keseluruhan

Bilahnya memberikan kesan tua, sederhana, dan tidak terlalu penuh ricikan.

Tetapi saya tidak akan menetapkan “Pajajaran asli abad XIII–XIV” hanya dari foto. Untuk itu diperlukan pemeriksaan langsung dan perbandingan dengan parameter tangguh.


Filosofi Brojol Pajajaran

Jika seluruh unsur pusaka ini disatukan:

BROJOL
→ keluar dari kesulitan.

ULER LULUT
→ keluwesan dan hubungan baik.

BILAH LURUS
→ keteguhan dan kejujuran arah.

PAJAJARAN
→ identitas dan ketahanan budaya Sunda.

Maka pesan filosofisnya dapat dirangkum:

“Jalani kehidupan dengan hati yang lurus. Ketika menghadapi kesulitan, jangan menyerah; bukalah jalan dengan keteguhan, keluwesan dan hubungan baik dengan sesama, sambil tetap menjaga jati diri.”

Dan ada satu filosofi yang menurut saya paling cocok dengan bentuk bilah ini:

“Lurus jalannya, kuat akarnya, luwes menghadapi keadaan, dan mampu brojol dari setiap kesulitan.”

Tags: , , , , , ,

Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 24 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja