Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh
Rp 4.555.000 Rp 5.555.000| Kode | FR |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Jalak Sangu Tumpeng |
| Pamor | : Jung Isi Dunyo + Telaga Membleng |
| Tangguh | : Madura |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh
Filosofi Jalak Sangu Tumpeng

Nama dhapur ini mengandung filosofi kehidupan yang cukup dalam.
1. Jalak — rajin mencari nafkah
Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makanan dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan. Dalam simbolisme tradisional, jalak digunakan untuk menggambarkan manusia yang rajin bekerja, pandai membaca keadaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Karena itu, jalak dapat dimaknai sebagai:
Manusia harus mau berusaha untuk mendapatkan penghidupan, bukan hanya menunggu datangnya rezeki.
2. Sangu — bekal perjalanan
Sangu berarti bekal.
Maknanya sangat luas: manusia dalam menjalani kehidupan harus mempunyai bekal, bukan hanya berupa harta, tetapi juga:
- ilmu,
- iman,
- pengalaman,
- keterampilan,
- kejujuran,
- kesabaran,
- dan hubungan baik dengan sesama.
Jadi rezeki tanpa bekal kebijaksanaan dapat menjadi tidak berarti.
3. Tumpeng — rasa syukur dan ketuntasan
Tumpeng merupakan hidangan nasi berbentuk kerucut yang dalam tradisi Jawa sering digunakan dalam berbagai acara syukuran. Bentuknya menyerupai gunung dan secara simbolis dikaitkan dengan ketuntasan, kesempurnaan, dan rasa syukur kepada Tuhan.
Ada pula penafsiran populer bahwa tumpeng dikaitkan dengan ungkapan:
“Tumungkula sing mempeng”
yang dimaknai sebagai ajakan untuk bersungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ini merupakan tafsir filosofis tradisional, bukan etimologi bahasa yang harus dianggap sebagai asal-usul kata secara akademis.
Makna Jalak Sangu Tumpeng dalam kehidupan

Jika ketiga unsur tersebut disatukan:
Jalak → bekerja dan berusaha
Sangu → mempersiapkan bekal
Tumpeng → bersyukur dan menyelesaikan sesuatu dengan tuntas
Maka pesan filosofisnya adalah:
“Berusahalah dengan sungguh-sungguh, persiapkan bekal kehidupan dengan baik, dan jangan lupa bersyukur kepada Tuhan atas hasil yang diperoleh.”
Karena itu Jalak Sangu Tumpeng secara tradisional sering dikaitkan dengan kemudahan mencari rezeki dan kecakapan dalam kehidupan sosial. Namun istilah tuah tersebut sebaiknya dipahami sebagai kepercayaan budaya, bukan jaminan material.
Filosofi hubungan Jalak dan Kerbau
Ada satu simbol yang menarik dalam filosofi Jalak.
Burung jalak sering digambarkan hinggap di tubuh kerbau dan memakan kutu yang berada pada kulitnya. Dalam hubungan tersebut, jalak memperoleh makanan, sedangkan kerbau terbantu karena kutu di tubuhnya berkurang.
Ini dapat dibaca sebagai filosofi saling menguntungkan.
Artinya:
Dalam mencari rezeki, jangan sampai keuntungan kita menjadi kerugian orang lain.
Manusia sebaiknya membangun hubungan yang:
saling membantu → saling menghargai → saling menguntungkan.
Ini membuat filosofi Jalak Sangu Tumpeng jauh lebih dalam daripada sekadar simbol “penarik rezeki”.
Jalak juga melambangkan ucapan
Jalak merupakan burung yang dikenal memiliki suara dan kemampuan berkicau.
Dalam filosofi keris, hal tersebut dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya tutur kata.
Orang yang pandai berbicara bukan berarti boleh berbicara sesuka hati.
Justru:
Semakin pandai seseorang berbicara, semakin besar tanggung jawabnya menjaga perkataannya.
Maka Jalak Sangu Tumpeng mengajarkan:
ucapan baik → hubungan baik → kepercayaan → peluang → rezeki.
SEJARAH KERIS MADURA

Madura mempunyai tradisi perkerisan yang sangat tua dan khas. Dalam ilmu tangguh, Madura memang dikenal sebagai salah satu tangguh, berdampingan dengan Pajajaran, Majapahit, Tuban, Sedayu, Demak, Pajang, Madiun, Mataram dan lainnya.
Yang menarik, tradisi perkerisan Madura tidak hanya berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Islam Madura, tetapi dalam literatur perkerisan sudah dikaitkan dengan era Majapahit.
Salah satu kajian mengenai keris Madura membagi perkembangannya menjadi Madura era Majapahit sekitar abad XIV–XV dan Madura era Madya sekitar abad XVI–XIX, selain perkembangan kontemporer setelah kemerdekaan.
Madura pada masa Majapahit

Tradisi perkerisan mencatat sejumlah empu yang dikaitkan dengan Madura pada era Majapahit.
Nama yang sering muncul antara lain:
- Mpu Keleng
- Mpu Koso
- Mpu Buyut Pekandangan
- Mpu Banyu Aju
Karya mereka dalam tradisi perkerisan dianggap memiliki mutu dan karakter tersendiri.
Sumber lain juga mencantumkan kelompok Madura/Kerajaan Majapahit dengan sejumlah nama empu seperti Mpu Sriloka, Mpu Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan, dan Mpu Kebolungan.
Namun nama-nama empu tersebut harus ditempatkan sebagai tradisi historiografi perkerisan. Tidak semua kisah mengenai para empu dapat diverifikasi dengan sumber primer sezaman.
Sumenep — pusat penting perkerisan Madura
Dalam perkembangan berikutnya, Sumenep menjadi salah satu pusat penting tradisi keris Madura.
Hal ini tidak mengherankan karena Sumenep mempunyai tradisi keraton dan budaya yang kuat. Bentuk hulu keris Sumenep bahkan mempunyai karakter visual tersendiri. Penelitian sejarah empu Madura juga mencatat bahwa tradisi pembuatan keris tetap hidup di Sumenep hingga abad ke-19 dan kemudian diteruskan melalui jaringan keluarga empu dan pandai besi.
Menariknya, sumber sejarah abad ke-19 menunjukkan bahwa keris tidak hanya menjadi benda milik bangsawan.
Keris juga hadir dalam kehidupan masyarakat umum.
Catatan kolonial yang dikutip dalam penelitian tentang empu Madura menunjukkan keberadaan ratusan pembuat senjata di Madura pada akhir abad ke-19, meskipun catatan tersebut tidak selalu membedakan secara rinci siapa pembuat keris dan siapa pembuat senjata jenis lain.
Tradisi Empu Madura dan pewarisan ilmu
Salah satu hal paling menarik dalam sejarah keris Madura adalah pewarisan ilmu secara turun-temurun.
Cerita tutur masyarakat Madura menyebut beberapa tokoh empu dan pandai besi, termasuk Empu Modjopahit/Bujut Modjopahit, Bujut Palengghijan, Empu Pekandangan, Empu Keleng Pademawu, dan Empu Nepa. Tetapi sumber yang membahasnya juga mengingatkan bahwa sebagian besar informasi tersebut berasal dari folklore dan sejarah lisan, sehingga masih memerlukan penelitian dan pembandingan sumber lebih lanjut.
Ada pula tradisi mengenai Kijahi Supo yang melakukan perjalanan melalui berbagai wilayah Jawa hingga Madura dan disebut mewariskan ilmu kepada banyak empu. Dalam cerita tersebut, perjalanan dan perpindahan empu menjadi salah satu cara menjelaskan mengapa teknik perkerisan memiliki hubungan antardaerah.
Karakter Keris Tangguh Madura

Dalam tradisi perkerisan, keris Madura memiliki karakter yang cukup khas.
Salah satu sumber pameran kebudayaan menyebut contoh Madura Sepuh era Majapahit yang memiliki bilah relatif tipis, pamor memenuhi permukaan bilah, dan karakter yang dalam beberapa kasus menunjukkan pengaruh gaya Sunda. Sumber tersebut bahkan menjelaskan kemungkinan perpindahan empu Sunda ke Jawa Timur yang kemudian melahirkan persilangan gaya seperti Sunda Majapahit dan Tuban Pajajaran.
Ini penting karena sejarah keris tidak pernah benar-benar terkotak-kotak.
Empu berpindah → teknik ikut berpindah → gaya saling memengaruhi → lahirlah karakter daerah baru.
Madura sebagai persilangan budaya
Madura mempunyai hubungan sejarah yang kuat dengan:
Jawa Timur → Majapahit → Bali → jaringan Islam pesisir → kerajaan Sumenep dan Bangkalan.
Karena itu keris Madura tidak bisa dilihat hanya sebagai “keris Jawa yang dibuat di Madura”.
Ia berkembang menjadi tradisi lokal dengan karakter tersendiri.
Pada masa berikutnya, terutama di Sumenep dan Bangkalan, keris juga berkembang sebagai:
- pusaka keluarga,
- simbol status,
- perlengkapan busana,
- benda upacara,
- dan bagian dari identitas sosial.
Penelitian mengenai sejarah keris Madura abad ke-19 juga menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki pengetahuan mengenai dhapur, pamor, besi, proses marangi, penjamasan, dan filosofi keris.
Tags: Filosofi Jalak Sangu Tumpeng, Karakter Keris Tangguh Madura, Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh, Makna Jalak Sangu Tumpeng, SEJARAH KERIS MADURA
Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 20 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
FILOSOFI KERIS TILAM SARI Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup populer. Ciri yang membedakannya dari Tilam Upih terutama terdapat pada sraweyan. Sumber perkerisan juga menyebut Tilam Sari memiliki gandhik polos, tikel alis, pejetan, dan sraweyan. Nama Tilam Sari mempunyai makna yang sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga: Tilam → alas tidur/tempat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Bethok Naga Siluman merupakan pusaka yang memiliki karakter unik: bilah lurus dengan ornamen naga siluman bertatah emas, memadukan kekuatan simbolik, nilai estetika tinggi, serta warisan budaya dari masa Kesultanan Mataram pada era pemerintahan Amangkurat I. Pusaka jenis ini sering dianggap sebagai keris ageman (keris kebesaran) karena keindahan tatah emas serta karakter bilahnya yang kuat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Luk 7 Dhapur : Carubuk Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh: Mataram Sultan Agung Deder : Yudhowinatan Bahan : Kayu kemuning Mendak : Kendit Bahan : Kuningan Cor Warangka : Gayaman Surakarta Iras Bahan : Kayu Timoho kendit Pendok : Blewah Bahan : Mamas Dhapur Carubuk Luk 7 Keris Carubuk atau kadang… selengkapnya
Rp 8.555.000 Rp 9.838.250Dhapur Panji Anom Keris Panji Anom berasal dari kata: Panji → pemimpin, tanda kebesaran, panutan Anom → muda, penerus, generasi baru Dalam tradisi Jawa, Panji Anom melambangkan: figur pemimpin muda yang cerdas, berani, dan sah secara moral maupun adat untuk meneruskan kekuasaan atau tanggung jawab besar. Dhapur ini sering dikaitkan dengan: pewaris tahta, calon pemimpin,… selengkapnya
Rp 24.444.000 Rp 26.555.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Jalak Ngore Pamor: Ron Genduru Winengku Tangguh: Mataram Amangkurat Warangka: Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras Filosofi Dhapur Jalak Ngore Dhapur Jalak Ngore dikenal sederhana namun sarat makna. Ricikannya meliputi: Gandik lugas Tikel alis Pejetan Greneng bersusun Burung jalak sejak lama menjadi simbol kejujuran, kejernihan hati, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Pesan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Jalak Tilam Sari Keris Jalak Tilam Sari merupakan pengembangan halus dari keluarga dhapur Jalak, yang menggabungkan makna: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Tilam → alas istirahat, perlindungan, ketenangan Sari → inti keindahan, nilai luhur, esensi terbaik Secara filosofis, Jalak Tilam Sari melambangkan: pribadi yang cerdas dan waspada, namun mampu memberi rasa teduh, nyaman,… selengkapnya
Rp 22.500.000 Rp 24.500.000Jenis Pusaka : Luk 13 Dhapur : Sengkelat Pamor : Beras Wutah Akhyodiat Meteor Tangguh : Mataram Senopaten Deder : Yudhowinatan Bahan : Kemuning Bang Mendak : Kendit Seling Merah Bahan : Tembaga Permata Sintetis Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo Pendok : Blewah Cukit Pangeranan Bahan : Tembaga I. DHAPUR SENGKELAT –… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Keris Nogo Sosro Luk 9 Kinatah Emas Kamarogan adalah sebuah mahakarya seni pusaka yang mengundang decak kagum. Keris ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan suatu warisan budaya yang memancarkan keanggunan dan keunikan. Sebagai salah satu permata koleksi kami, keberadaan keris ini merambah wilayah legendaris dan fenomenal. Daya tarik utama dari Keris Nogo Sosro Luk 9… selengkapnya
Rp 100.000.000 Rp 115.000.000Keris Pandawa Cinarito Luk 5 adalah salah satu dhapur keris klasik yang sarat makna filosofi dan simbol kepemimpinan. Keris ini dikenal berkarakter halus, cerdas, dan berwibawa, sangat selaras dengan jiwa pemimpin, penasehat, maupun pribadi yang mengutamakan kebijaksanaan. Nama Pandawa Cinarito bermakna kisah tentang Pandawa, yakni lambang lima sifat utama manusia utama: kejujuran, kesetiaan, keberanian, kecerdasan, dan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih secara sederhana dapat dimaknai dari kata tilam, yaitu alas/tempat berbaring, dan upih, yang merujuk pada pelepah pembungkus atau selubung dari bagian tanaman pinang/kelapa. Dalam tafsir budaya perkerisan, bentuknya yang lurus dan sederhana justru membawa filosofi yang dalam: ketenteraman, kesederhanaan, kerukunan, dan kebahagiaan keluarga. Tradisi perkerisan juga kerap menempatkan Tilam… selengkapnya
Rp 3.500.000 Rp 5.000.000









TEGEK ZZTPY BLUE RUAS PANJANG ACTION MEDIUM HARD
Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru Tangguh Majapahit
Keris Kaladite Mataram Sultan Agung
Keris Brojol Pamor Uler Lulut Pajajaran
Keris Sengkelat Luk 13 Mataram Senopaten
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.