Beranda » Keris Sepuh » Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh
click image to preview activate zoom
Diskon
18%

Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh

Rp 4.555.000 Rp 5.555.000
Hemat Rp 1.000.000
KodeFR
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh
Jenis : Keris Leres
Dhapur Jalak Sangu Tumpeng
Pamor Jung Isi Dunyo + Telaga Membleng
Tangguh Madura
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh

Filosofi Jalak Sangu Tumpeng

Nama dhapur ini mengandung filosofi kehidupan yang cukup dalam.

1. Jalak — rajin mencari nafkah

Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makanan dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan. Dalam simbolisme tradisional, jalak digunakan untuk menggambarkan manusia yang rajin bekerja, pandai membaca keadaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Karena itu, jalak dapat dimaknai sebagai:

Manusia harus mau berusaha untuk mendapatkan penghidupan, bukan hanya menunggu datangnya rezeki.

2. Sangu — bekal perjalanan

Sangu berarti bekal.

Maknanya sangat luas: manusia dalam menjalani kehidupan harus mempunyai bekal, bukan hanya berupa harta, tetapi juga:

  • ilmu,
  • iman,
  • pengalaman,
  • keterampilan,
  • kejujuran,
  • kesabaran,
  • dan hubungan baik dengan sesama.

Jadi rezeki tanpa bekal kebijaksanaan dapat menjadi tidak berarti.

3. Tumpeng — rasa syukur dan ketuntasan

Tumpeng merupakan hidangan nasi berbentuk kerucut yang dalam tradisi Jawa sering digunakan dalam berbagai acara syukuran. Bentuknya menyerupai gunung dan secara simbolis dikaitkan dengan ketuntasan, kesempurnaan, dan rasa syukur kepada Tuhan.

Ada pula penafsiran populer bahwa tumpeng dikaitkan dengan ungkapan:

“Tumungkula sing mempeng”

yang dimaknai sebagai ajakan untuk bersungguh-sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ini merupakan tafsir filosofis tradisional, bukan etimologi bahasa yang harus dianggap sebagai asal-usul kata secara akademis.


Makna Jalak Sangu Tumpeng dalam kehidupan

Jika ketiga unsur tersebut disatukan:

Jalak → bekerja dan berusaha
Sangu → mempersiapkan bekal
Tumpeng → bersyukur dan menyelesaikan sesuatu dengan tuntas

Maka pesan filosofisnya adalah:

“Berusahalah dengan sungguh-sungguh, persiapkan bekal kehidupan dengan baik, dan jangan lupa bersyukur kepada Tuhan atas hasil yang diperoleh.”

Karena itu Jalak Sangu Tumpeng secara tradisional sering dikaitkan dengan kemudahan mencari rezeki dan kecakapan dalam kehidupan sosial. Namun istilah tuah tersebut sebaiknya dipahami sebagai kepercayaan budaya, bukan jaminan material.


Filosofi hubungan Jalak dan Kerbau

Ada satu simbol yang menarik dalam filosofi Jalak.

Burung jalak sering digambarkan hinggap di tubuh kerbau dan memakan kutu yang berada pada kulitnya. Dalam hubungan tersebut, jalak memperoleh makanan, sedangkan kerbau terbantu karena kutu di tubuhnya berkurang.

Ini dapat dibaca sebagai filosofi saling menguntungkan.

Artinya:

Dalam mencari rezeki, jangan sampai keuntungan kita menjadi kerugian orang lain.

Manusia sebaiknya membangun hubungan yang:

saling membantu → saling menghargai → saling menguntungkan.

Ini membuat filosofi Jalak Sangu Tumpeng jauh lebih dalam daripada sekadar simbol “penarik rezeki”.


Jalak juga melambangkan ucapan

Jalak merupakan burung yang dikenal memiliki suara dan kemampuan berkicau.

Dalam filosofi keris, hal tersebut dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya tutur kata.

Orang yang pandai berbicara bukan berarti boleh berbicara sesuka hati.

Justru:

Semakin pandai seseorang berbicara, semakin besar tanggung jawabnya menjaga perkataannya.

Maka Jalak Sangu Tumpeng mengajarkan:

ucapan baik → hubungan baik → kepercayaan → peluang → rezeki.


SEJARAH KERIS MADURA

Madura mempunyai tradisi perkerisan yang sangat tua dan khas. Dalam ilmu tangguh, Madura memang dikenal sebagai salah satu tangguh, berdampingan dengan Pajajaran, Majapahit, Tuban, Sedayu, Demak, Pajang, Madiun, Mataram dan lainnya.

Yang menarik, tradisi perkerisan Madura tidak hanya berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Islam Madura, tetapi dalam literatur perkerisan sudah dikaitkan dengan era Majapahit.

Salah satu kajian mengenai keris Madura membagi perkembangannya menjadi Madura era Majapahit sekitar abad XIV–XV dan Madura era Madya sekitar abad XVI–XIX, selain perkembangan kontemporer setelah kemerdekaan.


Madura pada masa Majapahit

Tradisi perkerisan mencatat sejumlah empu yang dikaitkan dengan Madura pada era Majapahit.

Nama yang sering muncul antara lain:

  • Mpu Keleng
  • Mpu Koso
  • Mpu Buyut Pekandangan
  • Mpu Banyu Aju

Karya mereka dalam tradisi perkerisan dianggap memiliki mutu dan karakter tersendiri.

Sumber lain juga mencantumkan kelompok Madura/Kerajaan Majapahit dengan sejumlah nama empu seperti Mpu Sriloka, Mpu Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan, dan Mpu Kebolungan.

Namun nama-nama empu tersebut harus ditempatkan sebagai tradisi historiografi perkerisan. Tidak semua kisah mengenai para empu dapat diverifikasi dengan sumber primer sezaman.


Sumenep — pusat penting perkerisan Madura

Dalam perkembangan berikutnya, Sumenep menjadi salah satu pusat penting tradisi keris Madura.

Hal ini tidak mengherankan karena Sumenep mempunyai tradisi keraton dan budaya yang kuat. Bentuk hulu keris Sumenep bahkan mempunyai karakter visual tersendiri. Penelitian sejarah empu Madura juga mencatat bahwa tradisi pembuatan keris tetap hidup di Sumenep hingga abad ke-19 dan kemudian diteruskan melalui jaringan keluarga empu dan pandai besi.

Menariknya, sumber sejarah abad ke-19 menunjukkan bahwa keris tidak hanya menjadi benda milik bangsawan.

Keris juga hadir dalam kehidupan masyarakat umum.

Catatan kolonial yang dikutip dalam penelitian tentang empu Madura menunjukkan keberadaan ratusan pembuat senjata di Madura pada akhir abad ke-19, meskipun catatan tersebut tidak selalu membedakan secara rinci siapa pembuat keris dan siapa pembuat senjata jenis lain.


Tradisi Empu Madura dan pewarisan ilmu

Salah satu hal paling menarik dalam sejarah keris Madura adalah pewarisan ilmu secara turun-temurun.

Cerita tutur masyarakat Madura menyebut beberapa tokoh empu dan pandai besi, termasuk Empu Modjopahit/Bujut Modjopahit, Bujut Palengghijan, Empu Pekandangan, Empu Keleng Pademawu, dan Empu Nepa. Tetapi sumber yang membahasnya juga mengingatkan bahwa sebagian besar informasi tersebut berasal dari folklore dan sejarah lisan, sehingga masih memerlukan penelitian dan pembandingan sumber lebih lanjut.

Ada pula tradisi mengenai Kijahi Supo yang melakukan perjalanan melalui berbagai wilayah Jawa hingga Madura dan disebut mewariskan ilmu kepada banyak empu. Dalam cerita tersebut, perjalanan dan perpindahan empu menjadi salah satu cara menjelaskan mengapa teknik perkerisan memiliki hubungan antardaerah.


Karakter Keris Tangguh Madura

Dalam tradisi perkerisan, keris Madura memiliki karakter yang cukup khas.

Salah satu sumber pameran kebudayaan menyebut contoh Madura Sepuh era Majapahit yang memiliki bilah relatif tipis, pamor memenuhi permukaan bilah, dan karakter yang dalam beberapa kasus menunjukkan pengaruh gaya Sunda. Sumber tersebut bahkan menjelaskan kemungkinan perpindahan empu Sunda ke Jawa Timur yang kemudian melahirkan persilangan gaya seperti Sunda Majapahit dan Tuban Pajajaran.

Ini penting karena sejarah keris tidak pernah benar-benar terkotak-kotak.

Empu berpindah → teknik ikut berpindah → gaya saling memengaruhi → lahirlah karakter daerah baru.


Madura sebagai persilangan budaya

Madura mempunyai hubungan sejarah yang kuat dengan:

Jawa Timur → Majapahit → Bali → jaringan Islam pesisir → kerajaan Sumenep dan Bangkalan.

Karena itu keris Madura tidak bisa dilihat hanya sebagai “keris Jawa yang dibuat di Madura”.

Ia berkembang menjadi tradisi lokal dengan karakter tersendiri.

Pada masa berikutnya, terutama di Sumenep dan Bangkalan, keris juga berkembang sebagai:

  • pusaka keluarga,
  • simbol status,
  • perlengkapan busana,
  • benda upacara,
  • dan bagian dari identitas sosial.

Penelitian mengenai sejarah keris Madura abad ke-19 juga menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki pengetahuan mengenai dhapur, pamor, besi, proses marangi, penjamasan, dan filosofi keris.

Tags: , , , ,

Keris Jalak Sangu Tumpeng Madura Sepuh

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 20 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja