Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Rp 16.666.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Sinom
Pamor : Segoro Muncar
Tangguh : Mataram Amangkurat
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Cendana
Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Filosofi Dhapur Sinom

Nama Sinom memiliki hubungan yang indah dengan gambaran daun muda atau pucuk daun.
Pucuk daun adalah lambang sesuatu yang sedang tumbuh. Ia masih muda, tetapi menyimpan potensi untuk menjadi bagian penting dari pohon yang besar.
Karena itu, Sinom dapat dimaknai sebagai:
- pertumbuhan,
- harapan baru,
- semangat belajar,
- kesegaran pikiran,
- dan kemampuan memperbarui diri.
Ada sebuah piwulang Jawa yang dapat direnungkan dari simbol tersebut:
Sing tuwuh kudu tansah sinau.
Yang terus tumbuh harus terus belajar.
Sebab manusia yang berhenti belajar sebenarnya sedang berhenti bertumbuh.
Sinom juga mengingatkan bahwa menjadi dewasa bukan berarti kehilangan kelembutan. Sebagaimana pucuk daun yang masih lentur, manusia hendaknya mampu menerima nasihat dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip.
Makna Kinatah Emas

Kinatah emas memberikan kesan kemuliaan, keindahan, dan kewibawaan pada sebuah keris.
Emas secara simbolik sering dikaitkan dengan nilai luhur, kehormatan, kedudukan, dan kemakmuran.
Namun emas juga membawa pesan tentang amanah.
Semakin tinggi nilai yang diberikan kepada seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Dengan demikian, kinatah emas dapat direnungkan bukan sekadar sebagai lambang kekayaan, tetapi sebagai pengingat:
Kemuliaan sejati bukan hanya terlihat dari apa yang dikenakan, melainkan dari bagaimana seseorang menggunakan kedudukannya.
Kekayaan tanpa kebijaksanaan mudah berubah menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa tanggung jawab dapat menjadi sumber kerusakan.
Karena itu, emas pada keris seakan mengajarkan mulya tanpa umuk — memiliki kemuliaan tanpa membanggakan diri.
Filosofi Pamor Segoro Muncar

Nama Segoro Muncar dapat direnungkan melalui dua gambaran simbolik: segoro atau laut, dan muncar yang memberikan kesan sesuatu yang muncul, memancar, atau bergerak keluar.
Laut merupakan simbol keluasan dan kedalaman.
Permukaannya dapat berubah mengikuti angin, tetapi kedalamannya menyimpan kekuatan yang sangat besar.
Dari sini Segoro Muncar dapat dimaknai sebagai perlambang:
- keluasan wawasan,
- kelapangan hati,
- kemampuan menghadapi perubahan,
- munculnya potensi yang tersimpan,
- serta keberanian untuk keluar dari keterbatasan.
Jika Sinom adalah pertumbuhan, maka Segoro Muncar dapat dibaca sebagai keluasan ruang untuk bertumbuh.
Piwulangnya:
Aja mung dadi wong sing akeh ngerti, nanging jadia wong sing amba pangrasane.
Jangan hanya menjadi orang yang banyak mengetahui, tetapi jadilah orang yang luas rasa dan pertimbangannya.
Sejarah Mataram Amangkurat

Dalam konteks sejarah, Amangkurat I merupakan putra Sultan Agung dan memerintah Mataram pada 1646–1677. Setelah naik takhta, ia bergelar Susuhunan Prabu Amangkurat Agung. Pada 1647, pusat pemerintahan Mataram dipindahkan dari Karta ke Plered, yang kemudian berkembang menjadi pusat kerajaan dengan kompleks keraton yang lebih kokoh.
Masa Amangkurat I merupakan periode yang penuh dinamika politik. Hubungan dengan VOC berubah dibandingkan masa Sultan Agung, sementara berbagai konflik internal kerajaan semakin tajam. Ketegangan tersebut kemudian berpadu dengan munculnya perlawanan Trunajaya dari Madura.
Pada 1677, kekuatan Trunajaya berhasil merebut Keraton Plered. Amangkurat I meninggalkan istana dan bergerak ke arah barat bersama putranya, Raden Mas Rahmat. Dalam perjalanan tersebut ia jatuh sakit dan kemudian wafat di wilayah Wanayasa pada Juli 1677. Ia dimakamkan di Tegalwangi/Tegalarum.
Raden Mas Rahmat kemudian naik takhta sebagai Amangkurat II. Perubahan tersebut menandai fase baru dalam sejarah Mataram yang kemudian berkembang menuju periode Kartasura.
Tags: Amangkurat I, Amangkurat II, Dhapur Sinom, Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat, Kinatah Emas, Mataram Amangkurat, Pamor Segoro Muncar
Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 20 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jenis Pusaka: Keris Lurus Dhapur: Brojol Pamor: Junjung Derajat Tangguh: Tuban Mojopahit Warangka: Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Deder: Kayu Trembalo Mendak: Parijata, Bahan Tembaga Pendok: Blewah Polos, Bahan Temaga Pamor Junjung Derajat – Simbol Pengangkatan Martabat Junjung Derajat merupakan pamor istimewa yang paling banyak diburu pecinta tosan aji, karena motifnya yang unik dan tuahnya yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Kala Dete Nama Kala Dete menghadirkan gambaran simbolik yang berkaitan dengan kekuatan, keberanian, dan kemampuan menghadapi sesuatu yang mengancam. Kata Kala dalam lingkungan budaya Jawa dapat mempunyai banyak lapisan makna. Ia dapat berhubungan dengan waktu, perubahan, maupun sosok yang menakutkan atau berbahaya. Karena itu, Kala Dete dapat direnungkan bukan sebagai simbol kejahatan, tetapi… selengkapnya
Rp 15.555.000Filosofi Keris Nogo Siluman Luk 7 Keris Nogo Siluman Luk 7 merupakan salah satu dhapur keris yang kaya simbolisme. Dalam tradisi perkerisan Jawa, Nogo Siluman biasanya digambarkan dengan kepala naga pada gandhik, sementara tubuh naganya dibuat seolah-olah menghilang atau menyatu dengan bilah. Ciri “menghilang” inilah yang menjadi dasar nama Nogo Siluman. 1. Makna Nogo —… selengkapnya
Rp 15.555.000Dhapur Sengkelat – Simbol Kekuatan & Ketegasan Keris Sengkelat termasuk salah satu dhapur keris paling tua, sakral, dan berwibawa dalam tradisi Jawa. Sengkelat identik dengan: ketegasan sikap, kekuatan lahir dan batin, keberanian mengambil keputusan. Secara historis, keris Sengkelat banyak dikaitkan dengan: tokoh militer, senopati, pemimpin lapangan, pejabat kerajaan. Dalam pakem, Sengkelat sering disebut sebagai dhapur… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Luk 5 Dhapur: Pandawa Pamor : Pedaringan Kebak / Akhyodiat Meteor Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Iras Bahan : Kayu Timoho Pendok: Blewahan Pangeranan Bahan : Mamas Keris Pandawa Luk 5 ( Lambang Darah Ningrat, Kepribadian Ksatria dan Wibawa Pemimpin ) Dalam dunia perkerisan, Keris Pandawa atau… selengkapnya
Rp 24.444.000 Rp 28.110.600Filosofi Dhapur Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dalam tradisi keris Jawa. Nama Tilam Upih dapat direnungkan melalui gambaran upih, yaitu pelepah pembungkus atau pelindung pada bagian tertentu tanaman pinang/kelapa. Sementara tilam berkaitan dengan tempat berbaring atau pembaringan. Secara filosofis, perpaduan tersebut dapat dimaknai sebagai perlindungan, ketenteraman, dan tempat… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Parungsari dengan kinatah emas Gajah Singa memadukan tiga unsur simbolik yang kuat: Parungsari sebagai gambaran perjalanan hidup, Gajah sebagai lambang kekuatan dan keteguhan, serta Singa sebagai perlambang keberanian dan kewibawaan. Jika ditempatkan dalam konteks Pajang–Mataram, pusaka ini dapat dibaca sebagai simbol perubahan zaman dari Kesultanan Pajang menuju tumbuhnya Mataram. Catatan: pemaknaan dhapur, kinatah, dan… selengkapnya
Rp 35.555.000Keris Tilam Sari Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban adalah pusaka klasik yang dikenal berkarakter halus, berwibawa, dan penuh pesona. Keris ini mencerminkan keseimbangan antara keindahan rupa, kedalaman makna, dan keteduhan karakter, sehingga sejak dahulu sering dikaitkan dengan figur pemimpin, bangsawan, dan pribadi berpengaruh. Dhapur Tilam Sari sendiri melambangkan alas keindahan dan kenyamanan, menandakan pusaka yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Sabuk Inten Sabuk Inten secara harfiah dapat dibayangkan sebagai sabuk atau ikat pinggang yang dihiasi intan. Sabuk merupakan sesuatu yang mengikat dan menjaga agar sesuatu tetap berada pada tempatnya. Inten atau intan melambangkan sesuatu yang berharga, kuat, dan bercahaya. Secara filosofis, Sabuk Inten dapat dimaknai sebagai: “Mengikat diri dengan nilai-nilai luhur agar kemuliaan… selengkapnya
Rp 12.500.000Jenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Tilam Upih Pamor : Junjung Drajat Tangguh : Tuban Mojopahit Warangka : Branggah Yogyakarta Bahan Warangka : Cendono Wangi Pendok : Bunton Semen Lung Sisik Bahan Pendok : Perak Dhapur Tilam Upih : Pusaka Simbol Dewasa, Kesetiaan, dan Rumah Tangga Dalam filosofi Jawa, kehidupan manusia dirangkum ke dalam… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.388.250









Jagrak Keris Isi 1 Ukiran Nogo Sosro Kayu Jati
Blawong Keris Isi 1 Sungging Ukiran Naga Kembar
Keris Singo Sangu Tumpeng HB VII
Keris Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Koso
JORAN TEGEK ORCA REGAL 360 450 540
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.