Keris Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Koso
Rp 4.555.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Brojol
Pamor : Brahma Watu
Tangguh : Madura
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Kemuning
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Parijatha, Bahan Kuningan
Keris Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Koso
Filosofi Dhapur Brojol

Brojol secara bahasa dan simbolik sangat dekat dengan makna keluar, lolos, lepas dari suatu keadaan yang menghambat.
Dalam falsafah Jawa, makna tersebut dapat direnungkan sebagai perjalanan manusia ketika menghadapi masalah.
Ada kalanya seseorang merasa kehidupannya seperti berada di dalam ruang yang sempit. Masalah datang bertubi-tubi, jalan terasa tertutup, dan keputusan sulit diambil.
Filosofi Brojol memberikan gambaran:
Setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar apabila manusia mau berusaha, berpikir jernih, dan tidak menyerah.
Karena itu Brojol dapat dimaknai sebagai:
- kelancaran dalam menghadapi kehidupan,
- kemampuan keluar dari kesulitan,
- terbukanya jalan,
- keberanian memulai babak baru,
- dan keteguhan untuk tidak terjebak dalam masalah.
Namun Brojol bukan berarti hidup tanpa masalah.
Justru pesan yang lebih dalam adalah:
“Ketika jalan tertutup, jangan berhenti mencari jalan keluar.”
Filosofi Pamor Brahma Watu

Nama Brahma Watu dapat direnungkan dari dua unsur simbolik: Brahma dan watu.
Brahma dalam tradisi Hindu-Jawa berkaitan dengan figur dewa pencipta dan unsur api. Api sendiri mempunyai simbol yang kuat: energi, daya hidup, keberanian, transformasi, dan kemampuan mengubah sesuatu.
Sedangkan watu berarti batu.
Batu menjadi simbol sesuatu yang:
- kokoh,
- kuat,
- tahan terhadap perubahan,
- memiliki dasar yang teguh.
Apabila kedua simbol tersebut dipertemukan, Brahma Watu dapat direnungkan sebagai:
Api yang kuat di atas keteguhan.
Atau secara filosofis:
Semangat boleh menyala, tetapi harus mempunyai landasan yang kokoh.
Manusia membutuhkan semangat untuk bergerak. Tetapi semangat tanpa dasar dapat berubah menjadi ambisi.
Sebaliknya, keteguhan tanpa semangat dapat membuat seseorang berhenti berkembang.
Brahma Watu mengajarkan keseimbangan antara energi dan keteguhan.
Brojol dan Brahma Watu
Ketika kedua unsur tersebut disatukan, filosofinya menjadi semakin kuat.
Brojol → keluar dari hambatan.
Brahma Watu → kekuatan dan keteguhan.
Maka dapat dirumuskan:
“Mampu membuka jalan tanpa kehilangan keteguhan.”
Ini adalah filosofi yang sangat relevan dalam kehidupan.
Jangan hanya menjadi manusia yang kuat menghadapi masalah, tetapi tidak pernah bergerak.
Dan jangan pula menjadi manusia yang selalu bergerak, tetapi tidak mempunyai prinsip.
Brojol mengajarkan bergerak.
Brahma Watu mengajarkan tetap kokoh.
Sejarah Keris Madura dan Mpu Koso

Madura mempunyai tradisi perkerisan yang sangat kuat. Pemerintah juga mencatat bahwa keris berkembang luas di berbagai wilayah yang memperoleh pengaruh kebudayaan Majapahit, termasuk Madura, dan setiap daerah kemudian memiliki kekhasan dalam penampilan, teknik garap, fungsi, serta istilah perkerisannya.
Dalam tradisi perkerisan Madura, nama Mpu Koso atau Koso Madura sangat terkenal.
Salah satu publikasi resmi dalam program Gelar Budaya Keris Indonesia mencatat sebuah keris karya Mpu Koso Madura dengan atribusi Madura Sepuh era Majapahit, abad XIV–XVI. Keris tersebut disebut memiliki bilah relatif tipis dengan pamor yang memenuhi permukaan bilah dan karakter pamor yang terang. Publikasi yang sama juga membahas adanya pengaruh gaya Sunda pada sebagian keris Madura Sepuh.
Namun, sejarah Mpu Koso sendiri perlu ditempatkan secara hati-hati.
Sejumlah cerita mengenai silsilah empu Madura berasal dari tradisi tutur dan folklore, sehingga tidak semuanya dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang sudah terverifikasi secara akademis. Kajian mengenai sejarah empu Madura juga menunjukkan bahwa sumber tertulis mengenai genealoginya masih terbatas.
Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Mpu Koso merupakan tokoh penting dalam tradisi perkerisan Madura, sementara detail biografinya perlu dibedakan antara tradisi lisan dan bukti sejarah.
Apa yang Dimaksud Madura Koso?
Dalam dunia perkerisan, istilah Madura Koso sering digunakan untuk menyebut karakter keris yang dikaitkan dengan gaya Mpu Koso.
Salah satu kajian yang diterbitkan oleh Bappeda Kabupaten Sumenep membedakan tradisi Madura Tua dan Madura Muda. Madura Tua secara tradisional ditempatkan sezaman dengan Majapahit, sedangkan Madura Muda dikaitkan dengan periode Mataram Amangkurat. Kajian tersebut juga menjelaskan ciri tradisional Madura Tua seperti pasikutan yang demes, besi yang berkesan kering, serta pamor yang cenderung nggajih dan nyekrak.
Dalam tradisi pemerhati keris, karakter karya Koso juga sering digambarkan mempunyai pamor yang terang, kontras, dan tampak seperti lemak atau nggajih. Deskripsi seperti ini muncul dalam sumber populer mengenai keris Koso, tetapi tetap perlu dibedakan dari hasil kajian ilmiah yang lebih ketat.
Jadi, apabila sebuah bilah disebut “Madura Koso”, penyebutan tersebut idealnya dipahami sebagai atribusi gaya/tradisi, bukan otomatis berarti dapat dipastikan dibuat oleh Mpu Koso.
Madura dan Pengaruh Majapahit
Hubungan Madura dengan perkembangan keris Jawa Timur juga menarik.
Kajian resmi mengenai koleksi keris Madura Sepuh mencatat kemungkinan adanya pengaruh gaya Sunda pada sebagian bilah Madura. Sumber tersebut bahkan menghubungkan perpindahan sejumlah empu dari wilayah Sunda ke Jawa Timur pada masa Singasari dan Majapahit dengan munculnya berbagai perpaduan gaya perkerisan di Jawa Timur.
Hal ini menunjukkan bahwa sejarah keris tidak dapat selalu dibatasi oleh batas wilayah modern.
Perpindahan manusia, kerajaan, perdagangan, perkawinan, dan hubungan antardaerah turut membawa pengetahuan tempa dan estetika keris dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Karena itu, Madura bukan sekadar penerima tradisi keris, tetapi berkembang menjadi salah satu pusat penting tradisi perkerisan Nusantara.
Tags: Filosofi Dhapur Brojol, Filosofi Pamor Brahma Watu, Keris Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Koso, SEJARAH KERIS MADURA
Keris Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Koso
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 10 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Tilam Sari Pamor Wos Wutah memiliki perpaduan filosofi yang kuat tentang ketenteraman rumah tangga, kecukupan rezeki, kesederhanaan, dan kemampuan menerima hasil kehidupan dengan penuh rasa syukur. Jika dikaitkan dengan Cirebon pada masa Sultan Agung, perlu diberi sedikit kehati-hatian secara sejarah: Sultan Agung adalah penguasa Mataram (1613–1645), bukan penguasa Cirebon. Hubungan Cirebon–Mataram pada masa… selengkapnya
Rp 12.500.000Keris Sabuk Inten Luk 11 Kinatah Emas merupakan salah satu dhapur yang memiliki simbolisme kuat dalam tradisi perkerisan Jawa. Sabuk Inten secara harfiah dapat dimaknai sebagai “ikat pinggang permata/intan”—sebuah gambaran tentang sesuatu yang berharga, dijaga, dan menjadi pengikat kehidupan. Dalam tradisi perkerisan, Sabuk Inten dikenal sebagai dhapur luk 11 dengan sejumlah ricikan tertentu. 1. Filosofi… selengkapnya
Rp 25.500.000Keris Parungsari Luk 13 Pamor Udan Mas Tiban memiliki perpaduan simbolik yang kuat: Parungsari menggambarkan keindahan, keteguhan dan perjalanan hidup; luk 13 membawa makna kedewasaan menghadapi banyak liku kehidupan; sedangkan Udan Mas Tiban secara tradisional dikaitkan dengan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak disangka-sangka. Sementara Mataram Senopaten merupakan fase awal Kerajaan Mataram Islam di bawah… selengkapnya
Rp 6.500.000 Rp 8.000.000Filosofi Pandawa Cinarito Kata Pandawa membawa kita kepada lima kesatria dalam pewayangan: Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Lima tokoh tersebut dapat direnungkan sebagai lima karakter yang saling melengkapi: Yudhistira — kebijaksanaan, kejujuran, dan ketenangan. Bima — keberanian, keteguhan, dan kekuatan. Arjuna — ketajaman pikiran, konsentrasi, dan kemampuan bertindak. Nakula — ketulusan, keindahan budi, dan… selengkapnya
Rp 3.500.000Filosofi Dhapur Kolomunyeng Nama Kolomunyeng dapat direnungkan sebagai gambaran sesuatu yang bergerak, hidup, dan mempunyai daya untuk menghadapi keadaan. Dalam pemaknaan simbolik, nama tersebut dapat dijadikan ajaran agar manusia tidak menjadi pribadi yang mudah menyerah atau diam ketika menghadapi perubahan. Kehidupan selalu bergerak. Keadaan ekonomi berubah, hubungan berubah, kekuasaan berubah, dan zaman berubah. Maka Kolomunyeng… selengkapnya
Rp 15.555.000Keris Pamor Junjung Derajat Tangguh Tuban merupakan sebuah karya perkerisan yang menghadirkan perpaduan antara keindahan visual bilah dengan nilai filosofis yang mendalam. Nama Junjung Derajat mengandung doa dan pengharapan agar pemiliknya senantiasa memperoleh peningkatan dalam kehidupan, kemuliaan, kewibawaan, serta kemampuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Dalam falsafah Jawa, derajat yang tinggi tidak hanya dimaknai… selengkapnya
Rp 17.777.000 Rp 19.500.000Jenis Pusaka : Keris Luk 7 Dhapur : Carubuk Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh: Mataram Sultan Agung Deder : Yudhowinatan Bahan : Kayu kemuning Mendak : Kendit Bahan : Kuningan Cor Warangka : Gayaman Surakarta Iras Bahan : Kayu Timoho kendit Pendok : Blewah Bahan : Mamas Dhapur Carubuk Luk 7 Keris Carubuk atau kadang… selengkapnya
Rp 8.555.000 Rp 9.838.250Jenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Tilam Upih Pamor : Junjung Drajat Tangguh : Tuban Mojopahit Warangka : Branggah Yogyakarta Bahan Warangka : Cendono Wangi Pendok : Bunton Semen Lung Sisik Bahan Pendok : Perak Dhapur Tilam Upih : Pusaka Simbol Dewasa, Kesetiaan, dan Rumah Tangga Dalam filosofi Jawa, kehidupan manusia dirangkum ke dalam… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.388.250Jenis Pusaka : Keris Luk 5 Dhapur: Pandawa Pamor : Pedaringan Kebak / Akhyodiat Meteor Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Iras Bahan : Kayu Timoho Pendok: Blewahan Pangeranan Bahan : Mamas Keris Pandawa Luk 5 ( Lambang Darah Ningrat, Kepribadian Ksatria dan Wibawa Pemimpin ) Dalam dunia perkerisan, Keris Pandawa atau… selengkapnya
Rp 24.444.000 Rp 28.110.600FILOSOFI KERIS TILAM SARI Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup populer. Ciri yang membedakannya dari Tilam Upih terutama terdapat pada sraweyan. Sumber perkerisan juga menyebut Tilam Sari memiliki gandhik polos, tikel alis, pejetan, dan sraweyan. Nama Tilam Sari mempunyai makna yang sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga: Tilam → alas tidur/tempat… selengkapnya
*Harga Hubungi CS







Keris Pamor Udan Mas Asli
Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh HB Sepuh
Keris Tilam Upih Pamor Udan Mas Asli Pajajaran
Minyak Keris Aroma Cendana Wangi Kraton Surakarta Premium
Keris Tilam Upih Pamor Pendaringan Kebak
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.