Keris Nogo Sosro Luk 11 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
Rp 120.000.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 11
Dhapur : Nogo Sosro ( Kinatah Emas Kamarogan )
Pamor : Kulit Semangka
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo
Keris Nogo Sosro Luk 11 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
Filosofi Dhapur Nogo Sosro

Nama Nogo Sosro atau Naga Sasra sangat erat dengan gambaran naga sebagai makhluk simbolik yang memiliki kekuatan dan kewibawaan.
Dalam kebudayaan Jawa, naga dapat dimaknai sebagai perlambang:
- kekuatan,
- penjagaan,
- kewibawaan,
- keberanian,
- dan kekuasaan yang besar.
Namun kekuatan naga bukan berarti kekuatan yang harus selalu ditunjukkan.
Justru filosofi yang lebih dalam adalah kekuatan yang mampu dikendalikan.
Orang yang benar-benar kuat tidak selalu harus memperlihatkan kekuatannya. Ia mampu menahan amarah, mempertimbangkan akibat sebelum bertindak, dan menggunakan kekuasaannya untuk menjaga keseimbangan.
“Sak kuwate aja nganti kelangan kendhali.”
Seberapa kuat pun seseorang, jangan sampai kehilangan kendali.
Makna Luk 11

Keris ini memiliki Luk 11, yaitu sebelas lekukan pada bilah.
Dalam tradisi perkerisan Jawa, jumlah luk menjadi salah satu unsur penting dalam mengenali dhapur. Luk juga sering diberi pembacaan filosofis sebagai gambaran bahwa perjalanan hidup manusia tidak selalu berjalan lurus.
Lekukan demi lekukan dapat direnungkan sebagai pengalaman hidup.
Ada keberhasilan.
Ada kegagalan.
Ada kehilangan.
Ada kesempatan baru.
Namun seluruhnya merupakan bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.
Luk 11 pada akhirnya dapat menjadi pengingat:
Jalan yang berliku tidak selalu berarti jalan yang salah.
Yang terpenting adalah seseorang tetap memiliki arah, prinsip, dan kemampuan untuk kembali ketika menyadari dirinya keliru.
Kinatah Emas: Wibawa dan Amanah

Keberadaan kinatah emas memberikan karakter istimewa pada keris.
Emas secara simbolik berkaitan dengan kemuliaan, kehormatan, kedudukan, dan kewibawaan.
Dalam konteks budaya keraton, penggunaan emas pada benda pusaka juga dapat berkaitan dengan status dan estetika tingkat tinggi.
Tetapi ada piwulang penting di balik kemilau emas.
Kedudukan yang tinggi harus diikuti tanggung jawab yang tinggi.
Jangan sampai kemuliaan lahiriah hanya menjadi hiasan sementara batin kehilangan arah.
Karena itu, kinatah emas dapat dimaknai sebagai:
“Mulya ing kalungguhan, luhur ing budi.”
Mulialah dalam kedudukan dan luhurlah dalam budi pekerti.
Emas tidak hanya melambangkan apa yang berharga di luar, tetapi dapat menjadi pengingat untuk menjadikan diri bernilai di dalam.
Sejarah Mataram Sultan Agung

Kaitan dengan Mataram Sultan Agung membawa keris ini pada salah satu periode penting dalam sejarah Mataram Islam.
Sultan Agung Hanyakrakusuma memerintah Mataram pada 1613–1645. Pada masa pemerintahannya, Mataram berkembang menjadi kekuatan politik besar di Jawa. Ia melakukan perluasan wilayah sekaligus membangun berbagai aspek kehidupan kerajaan. (kratonjogja.id)
Sultan Agung juga terkenal karena dua ekspedisinya ke Batavia pada 1628 dan 1629 untuk menghadapi VOC. Kedua ekspedisi tersebut tidak berhasil menguasai Batavia, antara lain karena kendala logistik dan strategi pertahanan VOC. (kratonjogja.id)
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan militer saja tidak selalu menentukan hasil sebuah perjuangan.
Dalam perspektif filosofi Nogo Sosro, hal tersebut dapat dibaca sebagai:
kekuatan harus disertai perhitungan dan kebijaksanaan.
Tags: Dhapur Nogo Sosro, Keris Nogo Sosro Luk 11 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung, Kinatah Emas, Luk 11, mataram sultan agung
Keris Nogo Sosro Luk 11 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 23 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Jalak Tilam Sari Pamor : Lar Gangsir Tangguh : Tuban Majapahit Model Warangka : Gayaman Surakarta Bahan Warangka : Kayu Cendana Wangi Model Pendok : Bunton Cukit Alas-Alasan Bahan Pendok : Mamas Lamen Keris Pamor Lar Gangsir (Ajaran Kawicaksanan, Pagering Diri, dan Laku) Dalam dunia perkerisan, Pamor Lar… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200Jenis Pusaka : Luk 11 Dhapur : Carito Keprabon Pamor : Pulo Tirto Ceprit Tangguh : Mataram Sinopaten Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan : Kayu Asem Pendok : Bunton Cukit Lung Semen Bahan : Perak
Rp 15.500.000 Rp 17.825.000Filosofi Dhapur Megantoro Nama Megantoro/Megantara secara tradisional sering dihubungkan dengan unsur mega atau awan dan antara, yaitu ruang yang luas. Awan mempunyai sifat menarik: ia berada di atas, tetapi tidak pernah menetap di satu tempat. Ia bergerak mengikuti perubahan alam. Karena itu Megantoro dapat direnungkan sebagai lambang: kelapangan hati, keluasan wawasan, kemampuan melihat persoalan dari… selengkapnya
Rp 65.000.000Filosofi Dhapur Sempana Nama Sempana dapat direnungkan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan impian, cita-cita, atau harapan yang ingin dicapai. Dalam kehidupan, seseorang tidak akan sampai pada tujuan tanpa memiliki arah. Karena itu, Sempana dapat menjadi perlambang: cita-cita yang jelas, tekad untuk mencapai tujuan, keberanian memulai perjalanan, dan kemampuan mempertahankan harapan ketika menghadapi kesulitan. Namun cita-cita… selengkapnya
Rp 19.500.000Filosofi Dhapur Sepokal Sepokal secara tradisional dikenal sebagai salah satu dhapur keris dengan Luk 7. Dalam penafsiran simbolik, nama dan bentuknya dapat dikaitkan dengan watak yang kokoh, sigap, dan memiliki kesiapan menghadapi keadaan. Kata pokok sendiri dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami filosofi tersebut: sesuatu yang menjadi dasar atau inti. Maka Sepokal dapat direnungkan sebagai… selengkapnya
Rp 5.500.000Filosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama Tilam Upih secara filosofis sering dikaitkan dengan tempat beristirahat dan alas yang sederhana, sehingga memiliki hubungan dengan makna ketenteraman, kenyamanan, kecukupan, dan kehidupan yang mapan. Kata tilam dapat dimaknai sebagai tempat untuk berbaring atau beristirahat,… selengkapnya
Rp 12.555.000Filosofi Dhapur Santan Nama Santan dapat direnungkan melalui makna santan sebagai sesuatu yang berasal dari inti atau sari. Dalam kehidupan, seseorang tidak cukup hanya melihat sesuatu dari luarnya; diperlukan kemampuan untuk mengambil sari atau inti dari setiap pengalaman. Filosofinya adalah tentang kematangan dalam menyaring kehidupan. Manusia mengalami berbagai peristiwa: keberhasilan, kegagalan, pujian, hinaan, keuntungan, maupun… selengkapnya
Rp 8.555.000Jenis Pusaka : Keris Luk 5 Dhapur : Bakung Pamor : Wos Wutah Ceprit Tangguh : Pajang Era Mataram Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Bahan : Kayu Trembalo Deder : Kayu Kemuning Mendak : Parijata, Bahan Perak Pendok : Blewah Kemalo Merah Sejarah dan Filosofi Keris Bakung 1. Sejarah Dhapur Bakung Keris Bakung termasuk… selengkapnya
Rp 25.000.000 Rp 28.750.000Dhapur Jalak Tilam Sari Keris Jalak Tilam Sari merupakan pengembangan halus dari keluarga dhapur Jalak, yang menggabungkan makna: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, dan ketangkasan Tilam → alas istirahat, perlindungan, ketenangan Sari → inti keindahan, nilai luhur, esensi terbaik Secara filosofis, Jalak Tilam Sari melambangkan: pribadi yang cerdas dan waspada, namun mampu memberi rasa teduh, nyaman,… selengkapnya
Rp 22.500.000 Rp 24.500.000Dhapur Kebo Lajer Keris Kebo Lajer merupakan salah satu dhapur keris lurus tertua dan paling disegani dalam dunia perkerisan Jawa. Kata kebo melambangkan: kekuatan besar, kesabaran, daya tahan, pengabdian tanpa pamrih. Sedangkan lajer berarti lurus dan polos, mencerminkan: kejujuran, kesederhanaan, dan kekuatan sejati yang tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan. Secara pakem, Kebo Lajer sering disebut… selengkapnya
Rp 35.555.000 Rp 38.500.000








Keris Nogo Siluman Luk 5 Kinatah Emas Mataram Sultan Agung
Keris Carubuk Mataram Sultan Agung
Tombak Korowelang Luk 11 Mataram Senopaten
Keris Sengkelat Luk 13 Majapahit
Patung Sapi Brahma Ukir Pahat Kayu Jati
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.