Keris Kala Dete Mataram Sultan Agung
Rp 15.555.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Kala Dete
Pamor : Pendaringan Kebak
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Cemara
Deder/Handle : Yudhawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Blewah Cukit, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Keris Kala Dete Mataram Sultan Agung
Filosofi Dhapur Kala Dete

Nama Kala Dete menghadirkan gambaran simbolik yang berkaitan dengan kekuatan, keberanian, dan kemampuan menghadapi sesuatu yang mengancam.
Kata Kala dalam lingkungan budaya Jawa dapat mempunyai banyak lapisan makna. Ia dapat berhubungan dengan waktu, perubahan, maupun sosok yang menakutkan atau berbahaya.
Karena itu, Kala Dete dapat direnungkan bukan sebagai simbol kejahatan, tetapi sebagai gambaran kekuatan yang harus mampu dikendalikan.
“Musuh terbesar manusia bukan selalu yang berada di luar dirinya, tetapi hawa nafsu yang tidak mampu dikendalikan.”
Dari sini Kala Dete dapat menjadi perlambang keberanian untuk menghadapi:
- rasa takut,
- keserakahan,
- kemarahan,
- kesombongan,
- iri hati,
- dan keinginan yang berlebihan.
Makna Kala sebagai Waktu
Jika Kala dimaknai sebagai waktu, terdapat pesan filosofis yang sangat dalam.
Waktu terus berjalan dan tidak pernah kembali.
Kekayaan dapat dicari kembali.
Kedudukan dapat diperoleh kembali.
Barang dapat diganti.
Tetapi waktu yang telah berlalu tidak dapat dibeli kembali.
Maka Kala Dete dapat menjadi pengingat:
“Jangan menunda kebaikan, sebab waktu tidak pernah menunggu manusia.”
Setiap kesempatan yang datang harus digunakan untuk membangun sesuatu yang bernilai.
Filosofi Pendaringan Kebak

Pendaringan secara tradisional berkaitan dengan tempat menyimpan bahan pangan, terutama beras.
Sedangkan kebak berarti penuh.
Maka Pendaringan Kebak secara simbolik menggambarkan:
tempat penyimpanan yang penuh → kecukupan → ketahanan pangan → kemakmuran → ketenteraman keluarga.
Pamor ini sangat dekat dengan filosofi kehidupan masyarakat agraris Jawa.
Beras bukan sekadar makanan.
Beras adalah simbol kehidupan dan keberlangsungan rumah tangga.
Karena itu Pendaringan Kebak dapat direnungkan sebagai doa:
“Semoga kebutuhan hidup tercukupi, rumah tangga tenteram, dan rezeki tersedia pada waktunya.”
Pendaringan Kebak Bukan Sekadar Lambang Kekayaan
Makna “penuh” tidak harus diterjemahkan sebagai banyaknya harta.
Pendaringan yang penuh dapat berarti:
- cukup pangan,
- cukup ilmu,
- cukup kasih sayang,
- cukup kesehatan,
- cukup ketenteraman,
- dan cukup kemampuan untuk berbagi.
Sebab seseorang yang mempunyai banyak harta tetapi tidak mempunyai ketenteraman belum tentu dapat disebut kebak.
Sebaliknya, orang sederhana yang hidupnya penuh rasa syukur dan bermanfaat bagi sesama dapat memiliki kehidupan yang jauh lebih kaya secara batin.
“Kebak bukan berarti memiliki segalanya, tetapi mampu merasa cukup atas apa yang telah diberikan Tuhan sambil tetap berikhtiar.”
Kala Dete + Pendaringan Kebak
Jika kedua unsur tersebut dibaca bersama:
Kala Dete → keberanian menghadapi ancaman dan mengendalikan diri.
Pendaringan Kebak → kecukupan, kemakmuran, dan ketahanan kehidupan.
Maka muncul sebuah pesan:
“Bangunlah kekuatan untuk menjaga kehidupan, bukan kekuatan untuk menindas kehidupan.”
Rezeki membutuhkan usaha.
Usaha membutuhkan keberanian.
Keberanian membutuhkan pengendalian diri.
Dan ketika hasilnya telah diperoleh, hasil tersebut harus dijaga agar menjadi kemakmuran yang berkelanjutan.
Sejarah Mataram Sultan Agung
Pada masa pemerintahannya, Mataram berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa.
Sultan Agung tidak hanya dikenal karena ekspansi militernya, tetapi juga karena usahanya membangun tatanan politik dan kebudayaan Mataram.
Mataram di Bawah Sultan Agung
Ketika Sultan Agung naik takhta, Mataram masih berada dalam proses memperkuat kekuasaannya.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah pengaruh Mataram berkembang luas.
Berbagai wilayah di Jawa ditundukkan atau ditempatkan dalam orbit politik Mataram.
Sultan Agung juga menghadapi kekuatan VOC Belanda yang semakin berkembang di Batavia.
Dua ekspedisi besar Mataram ke Batavia terjadi pada 1628 dan 1629.
Meskipun serangan tersebut tidak berhasil mengusir VOC dari Batavia, ekspedisi itu menunjukkan kemampuan Mataram mengorganisasi kekuatan militer dalam skala besar.
Sultan Agung dan Penyatuan Jawa
Salah satu tujuan politik Sultan Agung adalah memperkuat dominasi Mataram di Jawa.
Dalam konteks tersebut, ia berusaha membangun sebuah pusat kekuasaan yang kuat.
Tetapi kekuatan politik saja tidak cukup.
Sultan Agung juga membangun identitas dan kebudayaan Mataram.
Pada masa pemerintahannya terjadi perkembangan penting dalam kebudayaan Jawa, termasuk penyesuaian kalender Jawa dengan sistem kalender Islam.
Kalender Jawa yang kemudian dikenal luas merupakan salah satu warisan penting dari masa Sultan Agung.
Ini menunjukkan bahwa politik Mataram pada masa tersebut tidak hanya berlangsung melalui peperangan, tetapi juga melalui kebudayaan dan tata kehidupan masyarakat.
Sultan Agung dan Kebudayaan
Sultan Agung sering dipandang sebagai tokoh yang mempertemukan berbagai unsur kebudayaan:
tradisi Jawa → Islam → tata kerajaan → spiritualitas → kebudayaan.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu karakter penting Mataram.
Dalam konteks keris, masa Sultan Agung juga sangat penting karena tradisi tosan aji berkembang dalam lingkungan kerajaan dan masyarakat Jawa.
Keris tidak sekadar dipandang sebagai senjata.
Ia juga menjadi bagian dari:
- identitas,
- status sosial,
- busana,
- upacara,
- spiritualitas,
- dan simbol budaya.
Tags: Filosofi Pendaringan Kebak, Kala Dete, Keris Kala Dete Mataram Sultan Agung, Sejarah Mataram Sultan Agung
Keris Kala Dete Mataram Sultan Agung
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 19 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Filosofi Dhapur Carita Keprabon Nama Carita Keprabon dapat direnungkan sebagai carita atau cerita tentang keprabon, yaitu dunia kepemimpinan, kerajaan, dan tanggung jawab seorang penguasa. Secara filosofis, ia bukan sekadar menggambarkan kemegahan seorang raja, tetapi justru mengingatkan bahwa keprabon adalah amanah. Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang berada di tempat paling tinggi. Ia adalah orang yang… selengkapnya
Rp 23.500.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Segoro Muncar Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan pusaka agung yang sarat makna bekal hidup, kemakmuran, dan kewibawaan kepemimpinan. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng dikenal sebagai keris piandel para pemimpin, pejabat kerajaan, dan saudagar besar pada masa Mataram Islam. Di era Sultan Agung Hanyokrokusumo, keris dengan dhapur dan pamor seperti ini sering… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Luk 5 Dhapur : Bakung Pamor : Wos Wutah Ceprit Tangguh : Pajang Era Mataram Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Bahan : Kayu Trembalo Deder : Kayu Kemuning Mendak : Parijata, Bahan Perak Pendok : Blewah Kemalo Merah Sejarah dan Filosofi Keris Bakung 1. Sejarah Dhapur Bakung Keris Bakung termasuk… selengkapnya
Rp 25.000.000 Rp 28.750.000Keris Anoman Luk 5 Keris Anoman adalah salah satu bentuk keris ikonik yang menghadirkan figur kera sakti dalam bilahnya. Berbeda dari keris-keris biasa, keris ini memiliki ricikan yang secara simbolik menggambarkan karakter Anoman, yaitu: berani, setia, suci hati, dan pemangku dharma. Pada masa Majapahit (Abad 13–15), dhapur-dhapur bertema wayang (termasuk anoman) banyak diciptakan sebagai simbolisasi… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis : Lurus Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng Pamor : Wengkon Isen Tangguh : Tuban Majapahit Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Trembalo Pisang Pendok : Bunton Polos Bahan : Tembaga Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Keris Jalak Sangu Tumpeng adalah salah satu dhapur keris lurus yang berukuran sedang. Nama ini berasal dari simbol burung jalak… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Parungsari dengan kinatah emas Gajah Singa memadukan tiga unsur simbolik yang kuat: Parungsari sebagai gambaran perjalanan hidup, Gajah sebagai lambang kekuatan dan keteguhan, serta Singa sebagai perlambang keberanian dan kewibawaan. Jika ditempatkan dalam konteks Pajang–Mataram, pusaka ini dapat dibaca sebagai simbol perubahan zaman dari Kesultanan Pajang menuju tumbuhnya Mataram. Catatan: pemaknaan dhapur, kinatah, dan… selengkapnya
Rp 35.555.000FILOSOFI KERIS TILAM SARI Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup populer. Ciri yang membedakannya dari Tilam Upih terutama terdapat pada sraweyan. Sumber perkerisan juga menyebut Tilam Sari memiliki gandhik polos, tikel alis, pejetan, dan sraweyan. Nama Tilam Sari mempunyai makna yang sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga: Tilam → alas tidur/tempat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Brojol Brojol merupakan dhapur keris lurus yang secara filosofis sangat menarik. Kata brojol dalam bahasa Jawa dapat dikaitkan dengan makna keluar, lepas, atau berhasil melewati suatu keadaan yang sebelumnya menjadi penghalang. Karena itu, Brojol sering direnungkan sebagai simbol: kemudahan melewati kesulitan, terbukanya jalan, kelancaran, keberanian memulai kehidupan baru, dan terbebas dari belenggu. Makna… selengkapnya
Rp 8.555.000Dhapur Sabuk Inten Keris Sabuk Inten adalah salah satu bentuk pusaka yang lahir pada masa Prabu Brawijaya Akhir, sekitar tahun Jawa 1381. Menurut cerita tutur, dhapur ini dibuat oleh Empu Domas, yaitu kelompok empu berjumlah ±800. Kata “domas” sendiri menurut Jonathan Rigg (1862) berasal dari dwa (dua) dan mas (400), sekaligus berarti emas atau mulia…. selengkapnya
Rp 15.555.000 Rp 17.888.250Jenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Jalak Tilam Sari Pamor : Lar Gangsir Tangguh : Tuban Majapahit Model Warangka : Gayaman Surakarta Bahan Warangka : Kayu Cendana Wangi Model Pendok : Bunton Cukit Alas-Alasan Bahan Pendok : Mamas Lamen Keris Pamor Lar Gangsir (Ajaran Kawicaksanan, Pagering Diri, dan Laku) Dalam dunia perkerisan, Pamor Lar… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200







TEGEK X-PIRATES BARBOSSA
Stand Jagrak Keris Isi 1 Sungging Minimalis
Keris Pandawa Luk 5 Mataram Sultan Agung
Dewi Saraswati Ukiran Kayu Jati
Keris Singo Barong Luk 11 Kinatah Emas Tangguh Mataram Sultan Agung
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.