Beranda » Keris Nom-Noman » Keris Jalak Tilam Sari Pamor Tejo Kinurung
click image to preview activate zoom

Keris Jalak Tilam Sari Pamor Tejo Kinurung

Rp 15.555.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Nom-Noman

Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Jalak Tilam Sari
Pamor : Tejo Kinurung
Tangguh : HB V
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Kayu Tayuman
Pendok : Bunton Slorok, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Jalak Tilam Sari Pamor Tejo Kinurung

Filosofi Dhapur Jalak Tilam Sari

Jalak Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus. Secara bentuk, Jalak Tilam Sari memiliki kemiripan dengan Tilam Sari, tetapi memiliki tingil pada bagian ujung bawah gonjo.

Nama Jalak membawa simbol burung yang aktif mencari makan dan hidup dekat dengan lingkungan manusia.

Dalam pemaknaan tradisional, Jalak dapat direnungkan sebagai simbol kecakapan mencari penghidupan, kegigihan, dan kemampuan membawa suasana yang menyenangkan.

Sementara Tilam dapat dimaknai sebagai tempat beristirahat atau tempat bernaung.

Dan Sari memberikan kesan sesuatu yang harum, baik, dan bernilai.

Maka Jalak Tilam Sari dapat dirumuskan sebagai:

“Rajin berusaha mencari penghidupan, tetapi tujuan akhirnya adalah menciptakan ketenteraman dan kebahagiaan bagi keluarga.”

Kajian ISI Surakarta juga mencatat bahwa simbolisasi dhapur Jalak berkaitan dengan pencapaian kebahagiaan dan pelepasan dari permasalahan yang berkaitan dengan nafkah.


Makna Tilam Sari

Jika kehidupan diibaratkan sebuah perjalanan, manusia tidak hanya membutuhkan penghasilan, tetapi juga membutuhkan tempat untuk kembali.

Inilah makna Tilam yang menarik.

Seberapa jauh seseorang pergi mencari rezeki, pada akhirnya ia membutuhkan:

rumah → keluarga → ketenteraman → tempat kembali.

Sedangkan Sari dapat direnungkan sebagai inti kebaikan yang dihasilkan dari perjalanan tersebut.

Karena itu:

“Rezeki yang baik bukan hanya yang memenuhi kebutuhan, tetapi yang membawa ketenteraman bagi keluarga.”


Filosofi Pamor Tejo Kinurung

Tejo Kinurung merupakan pamor yang secara visual dikenal melalui perpaduan unsur Adeg/Sada Saler dengan Wengkon: terdapat garis yang membingkai tepi bilah dan garis yang membujur di bagian tengah.

Secara simbolik:

Tejo

Dapat direnungkan sebagai cahaya, kewibawaan, dan pancaran kualitas diri.

Adeg

Melambangkan berdiri tegak dan mempunyai pendirian.

Wengkon

Melambangkan batas, bingkai, penjagaan, dan perlindungan.

Karena itu Tejo Kinurung dapat dimaknai:

“Cahaya diri yang dijaga oleh keteguhan dan batas yang benar.”


Makna Garis Adeg dan Wengkon

Keindahan Tejo Kinurung justru terletak pada hubungan dua unsur tersebut.

Garis tengah → jalan yang harus ditempuh.

Garis tepi/wengkon → batas yang harus dijaga.

Filosofinya:

“Berjalanlah lurus dalam tujuan, tetapi jangan keluar dari batas kebenaran.”

Seseorang boleh mengejar jabatan, kekayaan, dan kemajuan, tetapi tetap harus memiliki batas moral.

Dalam sejumlah literatur perkerisan, Tejo Kinurung juga dimaknai berkaitan dengan kepemimpinan, derajat, serta perlindungan.


Jalak Tilam Sari + Tejo Kinurung

Jika kedua unsur tersebut disatukan, maknanya menjadi sangat indah:

Jalak → rajin berusaha.

Tilam → tempat kembali dan ketenteraman.

Sari → nilai baik yang dihasilkan.

Tejo → cahaya dan kewibawaan.

Adeg → keteguhan.

Wengkon → perlindungan.

Maka filosofi keseluruhannya:

“Carilah rezeki dengan ketekunan, bangunlah rumah tangga dengan ketenteraman, tegakkan diri dengan prinsip, dan gunakan kewibawaan untuk melindungi, bukan menindas.”


Sejarah Sri Sultan Hamengku Buwono V

https://images.openai.com/static-rsc-4/6eyf7-wUNzyCQO3W68p-NZkrdZAtLSS8_-lZxjuNFXkvWlA4CyB2wW8AtsPilyjpkm_CJo9Z34FeJjVQMSohQ_u_FE36DRGDlJDWlQUwFxCtndPZz9hmH7xkAzap5vmcbfixhMaxI2nYyYFHj81x9r07cExhyy6AWjScRrg9jdR-bXYRJ6y51NKOOYMIehH4?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/XMLZe4glvSO1mGrtL9qML-Ii-yNoalO60rAQMUQVd5ml10_x7clypN1_RjgFJx8VHjYDirneYIcxa7nkZSEHPI97vMkUBjHipxReZAmrqgurTOHw8eiX-fmWx2b0STWIeiZDWQCgUpXVg3BtHrGt-3NZbgEVIV0MFC7soR-UVYubclAjwj1j26Rhq2B1BOX-?purpose=fullsize
Sri Sultan Hamengku Buwono V merupakan Sultan Yogyakarta kelima dan memerintah pada 1823–1855. Masa pemerintahannya berlangsung dalam periode yang penuh perubahan politik akibat semakin kuatnya pengaruh kolonial Belanda di Jawa.

HB V naik takhta ketika masih sangat muda. Karena itu, pemerintahan pada awal masa kekuasaannya berlangsung dalam situasi politik yang kompleks, dengan pengaruh berbagai pihak di sekitar keraton.

Masa HB V juga berada tidak jauh dari periode Perang Jawa/Diponegoro (1825–1830), salah satu konflik terbesar di Jawa pada abad ke-19.


Yogyakarta Setelah Perang Jawa

Perang Jawa membawa dampak besar terhadap kehidupan politik dan ekonomi Jawa.

Setelah perang berakhir pada 1830, pemerintah kolonial semakin memperkuat pengaruhnya terhadap wilayah-wilayah kerajaan.

Yogyakarta memasuki masa ketika ruang gerak politik keraton semakin dipengaruhi oleh hubungan dengan pemerintah kolonial.

Dalam situasi seperti itu, keraton tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga semakin penting sebagai pusat pelestarian:

  • budaya,
  • sastra,
  • seni,
  • tata upacara,
  • busana,
  • gamelan,
  • wayang,
  • dan tradisi pusaka.

Dengan demikian, perkembangan keris pada masa HB V dapat dipandang sebagai bagian dari kelanjutan budaya keraton Yogyakarta di tengah perubahan politik yang besar.

Tags: , , , ,

Keris Jalak Tilam Sari Pamor Tejo Kinurung

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 17 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja