Keris Jalak Nguwuh Makoro Kinatah Emas
Rp 27.500.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Nom-Noman |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Jalak Nguwuh
Ornamen : Makoro Kinatah Emas
Pamor : Wiji Timun
Tangguh : PB XI
Warangka : Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Cendana Jawa
Keris Jalak Nguwuh Makoro Kinatah Emas
Filosofi Dhapur Jalak Nguwuh

Nama Jalak Nguwuh dapat direnungkan melalui simbol burung jalak. Dalam kebudayaan Jawa, burung sering menjadi perlambang kecermatan, kepekaan, kemampuan berkomunikasi, serta kecerdasan membaca keadaan.
Nguwuh dapat dimaknai secara simbolik sebagai suara atau aktivitas yang menyampaikan keberadaan.
Dari sini Jalak Nguwuh dapat menjadi piwulang:
Wong urip kudu ngerti kapan kudu matur, kapan kudu meneng, lan kapan kudu tumindak.
Artinya, manusia perlu mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus bertindak.
Kecerdasan bukan hanya kemampuan berbicara banyak, tetapi kemampuan menempatkan kata dan tindakan sesuai keadaan.
Makna Makoro

Makoro, yang sering dikaitkan dengan bentuk Makara, merupakan motif dekoratif yang dikenal dalam seni tradisional Nusantara dan banyak ditemukan dalam lingkungan seni bangunan serta ornamen tradisional.
Secara simbolik, bentuk makara dapat direnungkan sebagai perlambang penjaga, kekuatan, dan perlindungan.
Apabila diterapkan pada sebuah keris, makna tersebut dapat dibaca sebagai pengingat bahwa kekuatan seharusnya digunakan untuk menjaga, bukan untuk menindas.
Makoro dengan demikian bukan sekadar hiasan.
Ia dapat menjadi simbol:
- perlindungan,
- kewibawaan,
- keteguhan,
- penjagaan terhadap amanah,
- dan keseimbangan antara kekuatan lahir dengan kebijaksanaan batin.
Kinatah Emas: Kemuliaan yang Harus Diimbangi Amanah

Kinatah emas merupakan garap dekoratif yang memberikan nilai estetis dan kemewahan pada keris.
Emas secara simbolik sering diasosiasikan dengan kemuliaan, kehormatan, kedudukan, dan nilai luhur.
Namun ada piwulang yang lebih dalam.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya.
Karena itu, emas pada keris tidak semestinya hanya dimaknai sebagai simbol kekayaan.
Ia dapat dibaca sebagai pertanyaan:
Apakah kemuliaan yang tampak di luar sudah seimbang dengan kemuliaan budi di dalam?
Seseorang boleh memiliki kedudukan tinggi, tetapi ukuran utama kehormatannya tetap berada pada laku, tanggung jawab, dan manfaat bagi sesama.
Pamor Wiji Timun

Wiji Timun secara harfiah dapat direnungkan melalui dua unsur: wiji sebagai benih dan timun sebagai tanaman yang tumbuh serta menghasilkan buah.
Karena itu, secara simbolik pamor ini dapat dikaitkan dengan:
benih → pertumbuhan → hasil → keberlanjutan.
Piwulangnya sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Sebuah keberhasilan tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dimulai dari benih kecil berupa niat, ilmu, kerja keras, kesabaran, dan doa.
Benih yang dirawat akan tumbuh.
Pertumbuhan yang dijaga akan menghasilkan.
Dan hasil yang baik harus kembali memberikan manfaat.
Maka Wiji Timun dapat dimaknai sebagai perlambang:
- awal yang baik,
- pertumbuhan rezeki,
- kesuburan usaha,
- keberlanjutan kehidupan,
- dan hasil dari ketekunan.
Ini merupakan tafsir simbolik budaya, bukan jaminan bahwa pamor tertentu secara otomatis mendatangkan rezeki.
Sejarah Pakubuwana XI

Pakubuwana XI merupakan Susuhunan Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 26 April 1939 hingga 1 Juni 1945. Ia merupakan putra Pakubuwana X dan naik takhta setelah wafatnya ayahandanya pada 1939.
Masa pemerintahannya berlangsung dalam periode yang sangat berat. Pemerintahan kolonial Belanda kemudian beralih kepada pendudukan Jepang pada 1942, sementara Perang Dunia II membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat dan Kasunanan Surakarta.
Keraton Surakarta sendiri merupakan kelanjutan pusat pemerintahan Mataram setelah perpindahan dari Kartasura ke Sala pada pertengahan abad ke-18. Perkembangannya kemudian berada dalam dinamika politik dengan pemerintah kolonial hingga memasuki masa pendudukan Jepang.
PB XI wafat pada 1 Juni 1945, hanya beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bergelar Pakubuwana XII.
Piwulang dari Masa PB XI
Menarik untuk melihat filosofi keris ini dalam konteks zaman PB XI.
Jalak Nguwuh mengajarkan kecermatan membaca keadaan.
Makoro mengajarkan perlindungan.
Kinatah Emas mengajarkan kehormatan dan tanggung jawab.
Wiji Timun mengajarkan pertumbuhan dari benih kecil menuju hasil.
Sementara sejarah PB XI menunjukkan bahwa seorang pemimpin juga harus menjalani zaman yang penuh perubahan dan tekanan.
Dari sini muncul piwulang:
Wibawa bukan berarti hidup tanpa cobaan. Wibawa adalah kemampuan menjaga martabat dan amanah ketika zaman sedang tidak mudah.
Tags: Dhapur Jalak Nguwuh, Jalak Nguwuh, Keris Jalak Nguwuh Makoro Kinatah Emas, Kinatah Emas, Makoro, PB XI, Wiji Timun
Keris Jalak Nguwuh Makoro Kinatah Emas
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Filosofi Dhapur Kalamisani Nama Kalamisani mengandung kesan filosofis yang berkaitan dengan ketajaman, kematangan, dan keindahan yang terkendali. Dalam pemaknaan pusaka, “kalam” dapat direnungkan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan alat tulis atau pena, sedangkan “sani” dapat dipahami sebagai unsur yang memperindah atau menyempurnakan. Dari sini Kalamisani dapat dijadikan simbol bahwa kata-kata dan pikiran mempunyai kekuatan. Seseorang… selengkapnya
Rp 4.555.000Filosofi Dhapur Tilam Sari Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus. Sumber ensiklopedis perkerisan menyebut Tilam Sari memiliki ricikan antara lain gandik polos, tikel alis, pejetan, serta tingil atau greneng. Nama Tilam Sari dapat direnungkan secara filosofis sebagai perlambang ketenteraman, keharmonisan, dan kehidupan yang tertata. Tilam dapat dikaitkan dengan tempat beristirahat atau pembaringan, sedangkan… selengkapnya
Rp 25.555.000Jenis : Keris Luk 9 Dhapur : Panimbal Pamor : Untu Walang Tangguh : Mataram Kartasura Warangka: Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Sinom Robyong Sinom dalam kebudayaan Jawa berkaitan dengan daun muda atau pucuk yang sedang tumbuh. Pucuk daun merupakan lambang yang sangat indah tentang kehidupan: tumbuh, berkembang, belajar, dan menuju kematangan. Sementara Robyong dapat direnungkan sebagai sesuatu yang berkembang dengan penuh ornamen atau keberagaman. Karena itu, Sinom Robyong dapat dimaknai sebagai: pertumbuhan kehidupan, perkembangan… selengkapnya
Rp 15.500.000Jenis Pusaka: Keris Lurus Dhapur: Jalak Sangu Tumpeng Pamor: Wahyu Tumurun Tangguh: HB V Panjang Bilah: 36 cm Warangka: Gayaman Jogjakarta Kayu Liwung Deder: Kayu tayuman kuno Mendak: Widhengan, kuningan sepuh emas Pendok: Slorok Templek Kemalo DHAPUR JALAK SANGU TUMPENG – SIMBOL REZEKI, BEKAL HIDUP & LURUSNYA TUJUAN Keris Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Keris Lurus Dhapur : Jalak Tilam Sari Pamor : Tejo Kinurung Tangguh : HB V Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu : Cendana Wangi Pendok : Blewah Polosan Bahan : Tembaga Dhapur Keris Jalak Tilam Sari Jalak Tilam Sari adalah salah satu dhapur keris lurus yang memiliki bentuk elegan serta kaya… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Jalak Tilam Sari Keris Jalak Tilam Sari merupakan salah satu dhapur lurus yang sangat disukai di lingkungan keraton karena memadukan kecerdasan (jalak) dengan keteduhan dan keindahan batin (tilam sari). Makna simbolik: Jalak → kecerdasan, kewaspadaan, ketangkasan berpikir Tilam → alas istirahat, kenyamanan, perlindungan Sari → inti keindahan, nilai luhur Secara filosofis: melambangkan pribadi cerdas… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Pasopati Keris Pasopati merupakan salah satu dhapur keris lurus yang paling sakral dan berwibawa. Nama Pasopati diambil dari senjata pusaka Prabu Arjuna dalam epos Mahabharata, melambangkan: keteguhan tekad, keberanian yang terkendali, keputusan yang tepat dan adil, kemenangan yang diraih dengan kebijaksanaan. Dalam pakem Jawa, keris Pasopati sering dimaknai sebagai: pusaka pamutus perkara—penegas keputusan dan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Keris Jalak Ngore KERIS JALAK NGORE, adalah salah satu bentuk dhapur keris lurus. Keris ini memakai gandik polos, pejetan, tikel alis, sraweyan dan greneng. Menurut mitos/dongeng keris Jalak Ngore pertama kali dibabar oleh Empu Anjani pada masa pemerintahan Prabu Pamekas dari Pajajaran pada tahun Jawa 1248. Filosofi Jalak Ngore atau jalak yang sedang mengurai… selengkapnya
Rp 12.555.000 Rp 14.438.250Filosofi Dhapur Jalak Tilam Sari Jalak Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus. Secara bentuk, Jalak Tilam Sari memiliki kemiripan dengan Tilam Sari, tetapi memiliki tingil pada bagian ujung bawah gonjo. Nama Jalak membawa simbol burung yang aktif mencari makan dan hidup dekat dengan lingkungan manusia. Dalam pemaknaan tradisional, Jalak dapat direnungkan sebagai simbol… selengkapnya
Rp 15.555.000







TEGEK LEMANDA XP 450 RELIX NUSANTARA
Keris Sepang Pamor Wos Wutah Kasultanan Cirebon
Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran
TEGEK JUXING ZOOM RUAS PENDEK 40 CM
Keris Pasopati PB IX Garap Dalem
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.