Beranda » Keris Sepuh » Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru Tangguh Majapahit
click image to preview activate zoom
Edisi Terbatas

Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru Tangguh Majapahit

Rp 25.500.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis : Keris Leres
Dhapur : Yuyu Rumpung
Pamor : Ron Genduru
Tangguh : Majapahit
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho
Deder/Handle : Putri Kinurung, Bahan Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Parijatha, Bahan Kuningan

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru Tangguh Majapahit

Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru dapat dimaknai sebagai perlambang:

“Jadilah manusia yang cerdas membaca keadaan, lurus dalam prinsip, kuat dalam menghadapi kehidupan, berwibawa dalam memimpin, dan mampu menumbuhkan rezeki serta kesejahteraan untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya.”

Sedangkan hubungan dengan Majapahit memberikan konteks sejarah bahwa keris merupakan bagian dari tradisi budaya Jawa yang telah berkembang jauh sebelum dan kemudian semakin kuat pada masa Majapahit. Bukti relief Candi Sukuh memperlihatkan secara nyata aktivitas pembuatan keris dan pengolahan logam pada masa akhir Majapahit.


1. FILOSOFI DHAPUR YUYU RUMPUNG

Nama Yuyu Rumpung secara tradisional dikaitkan dengan gambaran yuyu/kepiting yang memiliki karakter khas: mampu bergerak menyamping, memiliki capit sebagai alat mempertahankan diri, dan mempunyai cangkang sebagai pelindung.

Dari gambaran tersebut dapat diambil filosofi:

Teguh tetapi tidak harus selalu berjalan lurus

Kehidupan manusia tidak selalu harus menghadapi masalah secara frontal. Ada kalanya seseorang perlu sabar, cermat, mencari jalan yang tepat, dan menghindari benturan yang tidak perlu.

Seperti yuyu yang dapat bergerak ke samping, filosofi Yuyu Rumpung dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk:

  • membaca keadaan,
  • mencari jalan keluar,
  • tidak gegabah,
  • mempertahankan prinsip,
  • dan melindungi diri serta keluarga.

Sementara capit yuyu dapat menjadi simbol kekuatan untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap berharga.

Karena itu, Yuyu Rumpung dapat dimaknai sebagai:

“Orang yang kuat tidak selalu harus menghadapi segala sesuatu dengan kekerasan; terkadang kecerdikan, kesabaran, dan kemampuan membaca keadaan justru menjadi kekuatan terbesar.”


2. FILOSOFI BENTUK KERIS LERES

Yuyu Rumpung termasuk kelompok dhapur leres, yaitu keris dengan bilah lurus. Sumber BPCB Yogyakarta memasukkan Yuyurumpung dalam daftar dhapur leres.

Bilah lurus dapat dimaknai sebagai simbol:

lurus niatnya — lurus pikirannya — lurus perkataannya — lurus tindakannya.

Artinya, seseorang boleh mempunyai strategi dan kecerdikan dalam menghadapi kehidupan, tetapi tujuan dan prinsip hidupnya tetap harus benar.

Inilah perpaduan menarik antara karakter Yuyu Rumpung dan bilah leres:

Cara boleh fleksibel, tetapi prinsip jangan mudah berubah.


3. FILOSOFI PAMOR RON GENDURU

Ron Genduru merupakan salah satu motif pamor yang dikenal dalam tradisi perkerisan. Secara visual, namanya dikaitkan dengan bentuk yang menyerupai daun genduru.

Sebuah kajian mengenai klasifikasi dan persepsi pamor menyebut Ron Genduru sebagai pamor yang termasuk pamor miring sekaligus pamor rekaan, dan dalam kepercayaan tradisional dikaitkan dengan kewibawaan serta rezeki.

Dalam sumber tradisional perkerisan, Ron Genduru juga sering dikaitkan dengan orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap banyak orang, misalnya pemimpin atau orang yang mengelola banyak bawahan.

Makna simbolisnya

Daun adalah simbol kehidupan.

Daun tumbuh dari batang, mendapatkan makanan dari alam, kemudian berkembang dan memberi manfaat.

Karena itu, Ron Genduru dapat direnungkan sebagai:

  • pertumbuhan kehidupan,
  • kemakmuran,
  • kewibawaan,
  • kelancaran usaha,
  • kemampuan mengayomi,
  • dan berkembangnya tanggung jawab.

4. YUYU RUMPUNG + RON GENDURU

Jika kedua unsur tersebut dibaca secara bersamaan, filosofinya menjadi semakin kuat.

Yuyu Rumpung

→ kecerdikan menghadapi keadaan.

Bilah Leres

→ kejujuran dan keteguhan prinsip.

Ron Genduru

→ kewibawaan, pertumbuhan, dan rezeki.

Maka keseluruhan filosofi keris ini dapat dirangkum:

“Menjadi manusia yang cerdas membaca keadaan, teguh memegang prinsip, berwibawa dalam pergaulan, serta mampu mengembangkan kehidupan dan rezeki dengan penuh tanggung jawab.”


5. FILOSOFI KEPEMIMPINAN

Pamor Ron Genduru secara tradisional sering dikaitkan dengan kewibawaan dan kepemimpinan.

Jika dikaitkan dengan Yuyu Rumpung, kepemimpinan yang ideal bukanlah kepemimpinan yang hanya mengandalkan kekuasaan.

Pemimpin harus memiliki tiga kemampuan:

Waskita

Mampu melihat keadaan dengan jernih.

Wicaksana

Tidak terburu-buru mengambil keputusan.

Wibawa

Dihormati bukan karena ditakuti, tetapi karena sikap dan keteladanannya.

Dengan demikian, keris ini dapat menjadi pengingat:

“Jabatan dapat membuat seseorang dihormati, tetapi sikaplah yang membuat seseorang benar-benar berwibawa.”


6. FILOSOFI REZEKI

Ron Genduru juga secara tradisional dikaitkan dengan kerezekian.

Tetapi filosofi rezeki yang lebih dalam bukan sekadar mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Rezeki dapat berupa:

  • kesehatan,
  • keluarga yang harmonis,
  • teman yang baik,
  • kesempatan usaha,
  • ilmu,
  • kepercayaan orang lain,
  • dan kehidupan yang tenteram.

Maka Ron Genduru dapat dijadikan simbol bahwa:

Rezeki yang baik adalah rezeki yang tumbuh, cukup untuk kehidupan, dan membawa manfaat bagi banyak orang.


7. SEJARAH KERIS MAJAPAHIT

Membicarakan keris Majapahit berarti membicarakan salah satu periode penting dalam perkembangan budaya keris di Nusantara.

Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 dan berkembang menjadi salah satu kekuatan politik besar di Nusantara. Pada masa Majapahit, seni logam dan tradisi pembuatan senjata berkembang dalam lingkungan masyarakat serta pusat-pusat kekuasaan.

Namun perlu dipahami bahwa keris sudah dikenal jauh sebelum Majapahit. Bukti tertulis mengenai istilah keris/kres telah ditemukan dalam prasasti Jawa Kuno sejak sekitar abad ke-9. Karena itu, Majapahit bukan “awal munculnya keris”, melainkan salah satu periode penting dalam perkembangan bentuk dan kebudayaan keris.


8. BUKTI EMPU PADA MASA MAJAPAHIT

Salah satu bukti visual paling menarik terdapat pada Candi Sukuh, yang berasal dari masa akhir Majapahit.

Relief Candi Sukuh menggambarkan aktivitas seorang empu yang sedang menempa logam, dengan tokoh lain yang berkaitan dengan pekerjaan pandai besi dan proses peniupan tungku. Relief tersebut juga memperlihatkan benda-benda hasil tempaan, termasuk keris.

Ini menjadi bukti penting bahwa tradisi perundagian dan pembuatan keris merupakan bagian dari kebudayaan Jawa pada masa Majapahit akhir.

Tags: , , ,

Keris Yuyu Rumpung Pamor Ron Genduru Tangguh Majapahit

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 12 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja