Keris Regol Karno Tinanding Mataram
| Kode | TAG |
| Stok | Habis |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Leres
Dhapur : Regol Karna Tinanding
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Mataram
Warangka : Ladrang Yogyakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Krajan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton Slorok, Bahan Tembaga
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Keris Regol Karno Tinanding Mataram
Filosofi Keris Regol Karno Tinanding
Karno Tinanding atau Karno Tanding secara tradisional dimaknai sebagai sesuatu yang berhadapan atau bertanding. Dalam tradisi pewayangan, nama Karno juga mengingatkan pada Adipati Karna, tokoh Mahabharata yang terkenal dengan keberanian, kesetiaan, harga diri, dan keteguhan memegang amanah.
Dalam tradisi perkerisan, Karno Tinanding sering diberi filosofi:
manusia harus berani menghadapi lawan terbesar dalam hidupnya, yaitu dirinya sendiri.
Bukan sekadar keberanian untuk berperang, tetapi keberanian untuk menghadapi:
kesombongan,
hawa nafsu,
keraguan,
rasa takut,
ambisi,
dan godaan kekuasaan.
Karena itu, makna yang lebih dalam dari Karno Tinanding adalah pertempuran batin untuk menjadi manusia yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Sumber tradisi perkerisan juga mengaitkan Karno Tinanding dengan kewibawaan, keberanian, ketegasan, kesetiaan, tanggung jawab, dan jiwa kesatria.
Makna “Regol”
Kata regol dalam lingkungan budaya Jawa berkaitan dengan pintu gerbang atau akses menuju suatu lingkungan penting.
Jika istilah Regol Karno Tinanding dibaca secara filosofis, ia dapat dimaknai sebagai:
regol = pintu masuk
Karno Tinanding = perjuangan/pertarungan
Sehingga secara simbolis dapat ditafsirkan sebagai:
“Gerbang menuju keberanian untuk menghadapi ujian dan pertarungan kehidupan.”
Ini adalah tafsir filosofis, bukan terjemahan sejarah yang pasti mengenai asal-usul nama dhapur.
Hubungannya dengan Mataram
Di sinilah keris ini menjadi menarik.
Mataram Islam muncul pada akhir abad ke-16, setelah Ki Ageng Pemanahan memperoleh wilayah Mentaok dari Pajang. Sutawijaya kemudian menjadi tokoh utama berdirinya Mataram dan dikenal sebagai Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat awal Mataram berada di Kotagede.
Panembahan Senopati bukan hanya membangun kerajaan, tetapi juga menghadapi berbagai kekuatan politik di Jawa. Pada masa pemerintahannya, Mataram melakukan ekspansi ke berbagai wilayah seperti Kedu, Bagelen, Pajang, Madiun, dan wilayah lainnya.
Setelah Senopati wafat pada 1601, kekuasaan diteruskan oleh putranya, Mas Jolang/Panembahan Hanyakrawati. Kemudian pada 1613–1645, Mataram mencapai puncak kejayaan di bawah Sultan Agung.
Filosofi Karno Tinanding jika dikaitkan dengan Mataram
Ada kesesuaian simbolis yang sangat kuat.
Mataram pada masa awal merupakan kerajaan yang sedang membangun kekuatan dan menghadapi banyak lawan.
Panembahan Senopati harus menghadapi kekuatan Pajang dan berbagai daerah yang belum mengakui kekuasaan Mataram. Setelah itu, perjuangan dilanjutkan oleh para penerusnya. Pada masa Sultan Agung, Mataram bahkan menjadi kekuatan politik terbesar di Jawa dan melakukan perlawanan terhadap VOC, termasuk dua ekspedisi ke Batavia.
Maka secara filosofis, Karno Tinanding sangat cocok dengan gambaran jiwa kesatria Mataram:
berani menghadapi lawan → tetapi tidak kehilangan kendali diri.
memiliki kekuasaan → tetapi harus mampu memikul tanggung jawab.
menang dalam pertarungan → tetapi kemenangan terbesar adalah kemenangan atas hawa nafsu sendiri.
Apakah keris ini benar-benar dari zaman Mataram?
Ini bagian yang sangat penting.
Dari foto saja, saya tidak akan menyatakan:
“Ini pasti keris Mataram Sultan Agung.”
atau
“Ini pasti dibuat oleh empu kerajaan Mataram.”
Untuk menentukan tangguh Mataram, diperlukan pemeriksaan jauh lebih lengkap: bentuk keseluruhan bilah, ricikan, bahan, karakter pamor, teknik garap, ukuran, sor-soran, gandik, pejetan/sogokan, greneng, pesi, serta kondisi bilah setelah warangan.
Nama “sepuh”, “Mataram”, atau “langka” dalam penamaan kolektor juga tidak otomatis merupakan bukti umur.
Tetapi secara tradisi budaya, menghubungkan dhapur Karno Tinanding dengan nilai-nilai kesatria Mataram merupakan interpretasi yang masuk akal.
Karakter visual keris pada foto

Dari foto ini saya melihat beberapa hal yang menarik:
1. Bilah lurus dan sangat panjang
Memberikan kesan tegas, lurus, dan tidak berlebihan.
2. Sor-soran cukup kuat
Bagian bawah bilah memiliki detail ricikan yang membuat karakter keris terlihat lebih agresif dibanding keris lurus yang sangat sederhana.
3. Pamor memanjang mengikuti bilah
Pola pamor yang memanjang memberikan kesan aliran energi dari sor-soran menuju pucuk.
4. Proporsi bilah ramping
Secara estetika memberikan kesan tegas, tajam, dan berwibawa.
Karena itu, bila dipandang secara simbolis, keris ini lebih cocok dibaca sebagai pusaka yang membawa pesan keteguhan, keberanian, disiplin dan pengendalian diri, bukan sekadar simbol kekerasan.
Makna filosofinya
Saya akan merangkum filosofi Regol Karno Tinanding menjadi lima tingkatan:
① Regol — Gerbang
Setiap perjalanan besar dimulai dengan melewati sebuah pintu.
Makna: berani mengambil langkah.
② Karno — Kesatria
Menggambarkan keberanian, harga diri dan kesetiaan terhadap amanah.
Makna: jangan mengkhianati prinsip.
③ Tinanding — Menghadapi
Hidup selalu mempunyai lawan, ujian dan persoalan.
Makna: jangan lari dari masalah.
④ Pertarungan terbesar — melawan diri sendiri
Musuh terberat bukan selalu orang lain.
Makna: taklukkan kesombongan, kemarahan dan hawa nafsu.
⑤ Kemenangan — menjadi manusia yang mampu memegang amanah
Kekuatan tanpa pengendalian akan menjadi kehancuran.
Makna: semakin besar kekuasaan, semakin besar tanggung jawab.
Tags: Filosofi Keris Regol Karno Tinanding, Keris Regol Karno Tinanding Mataram, Makna Regol
Keris Regol Karno Tinanding Mataram
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 33 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Dhapur Panji Anom — Simbol Perjuangan Kesatria Muda Keris Panji Anom (Panji Nom) adalah salah satu dhapur lurus yang sejak masa lampau hingga kini tetap dicari oleh para pecinta dan kolektor keris. Secara visual, bilahnya lurus dengan karakter sedikit membungkuk alus, panjang sedang, dan permukaan bilah nggigir sapi, menandakan besi yang padat, matang, dan berisi…. selengkapnya
*Harga Hubungi CSKERIS DHAPUR BUTO IJO Keris Buto Ijo dalam jagat perkerisan bukan sekadar bentuk artistik, melainkan manifestasi simbolik watak kekuatan besar. Kekuatan yang bila dikendalikan akan menjadi pelindung, namun bila dilepas dapat berubah menjadi kehancuran. Keris ini hadir dengan karakter keras, wingit, dan berwibawa, mencerminkan fase awal kebangkitan Mataram Islam yang masih berakar kuat pada tradisi… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo merupakan perpaduan yang menarik antara dhapur Tilam Upih yang sederhana dan lurus dengan pamor Jung Isi Dunyo yang dalam tradisi perkerisan sering dikaitkan dengan kelimpahan rezeki. Dalam salah satu kajian populer, Jung Isi Dunyo digolongkan sebagai pamor tiban dan dipercaya memiliki tuah yang baik untuk kerezekian. Sementara Tuban… selengkapnya
Rp 4.500.000 Rp 6.000.000Keris Pamor Junjung Derajat Tangguh Tuban merupakan sebuah karya perkerisan yang menghadirkan perpaduan antara keindahan visual bilah dengan nilai filosofis yang mendalam. Nama Junjung Derajat mengandung doa dan pengharapan agar pemiliknya senantiasa memperoleh peningkatan dalam kehidupan, kemuliaan, kewibawaan, serta kemampuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Dalam falsafah Jawa, derajat yang tinggi tidak hanya dimaknai… selengkapnya
Rp 17.777.000 Rp 19.500.000KERIS TILAM UPIH Keris Tilam Upih – Dalam kisah tutur yang hidup di masyarakat Jawa, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan dawuh yang hingga kini menjadi pitutur luhur dalam dunia tosan aji: keris pertama yang sebaiknya dimiliki seseorang adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, dawuh ini terasa janggal. Mengapa bukan keris-keris agung yang secara visual lebih memikat dan… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.999.000Keris Bethok Naga Siluman merupakan pusaka yang memiliki karakter unik: bilah lurus dengan ornamen naga siluman bertatah emas, memadukan kekuatan simbolik, nilai estetika tinggi, serta warisan budaya dari masa Kesultanan Mataram pada era pemerintahan Amangkurat I. Pusaka jenis ini sering dianggap sebagai keris ageman (keris kebesaran) karena keindahan tatah emas serta karakter bilahnya yang kuat… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFILOSOFI KERIS TILAM UPIH Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang relatif sederhana. Ciri pokoknya adalah gandhik polos, pejetan, dan tikel alis. Dalam literatur kebudayaan keris, bentuk dhapur ditentukan terutama oleh kombinasi bilah dan ricikan, sedangkan tangguh digunakan untuk membaca gaya/periode pengerjaan. Nama Tilam Upih mempunyai makna simbolis yang sangat kuat. Tilam =… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis Pusaka : Luk 11 Dhapur : Carito Keprabon Pamor : Pulo Tirto Ceprit Tangguh : Mataram Sinopaten Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan : Kayu Asem Pendok : Bunton Cukit Lung Semen Bahan : Perak
Rp 15.500.000 Rp 17.825.000Jenis Pusaka : Lurus Dhapur : Kaladite Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Cemara Pendok : Blewahan Cukit Bahan : kuningan Filosofi Dhapur Kaladite Keris Kaladite merupakan salah satu pusaka yang dihormati dalam tradisi Tosan Aji. karena memuat ajaran mendalam tentang ketepatan membaca waktu, ketajaman… selengkapnya
Rp 12.500.000 Rp 14.375.000









MASTERPIECE ! KERIS BALI DHAPUR JERUJI LUK 15 KINATAH EMAS ORI
Keris Sempana Luk 9 Segaluh
Keris Sabuk Inten Luk 11 HB Sepuh
Keris Carang Soka Luk 9 Tangguh Blambangan
TEGEK SET KOLONG ZOOM ORCA MAHAMERU
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.