Beranda » Keris Nom-Noman » Keris Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak PB IX
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak PB IX

Rp 25.555.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Nom-Noman

Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Tilam Sari
Pamor : Pedaringan Kebak
Tangguh : PB IX (Pakubuwana ke-9)
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Nagasari

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak PB IX

Filosofi Dhapur Tilam Sari

Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus. Sumber ensiklopedis perkerisan menyebut Tilam Sari memiliki ricikan antara lain gandik polos, tikel alis, pejetan, serta tingil atau greneng.

Nama Tilam Sari dapat direnungkan secara filosofis sebagai perlambang ketenteraman, keharmonisan, dan kehidupan yang tertata. Tilam dapat dikaitkan dengan tempat beristirahat atau pembaringan, sedangkan sari dapat dimaknai sebagai inti atau esensi.

Dari pemaknaan tersebut, Tilam Sari dapat menjadi simbol:

  • ketenteraman kehidupan,
  • keharmonisan keluarga,
  • kecukupan,
  • ketenangan batin,
  • serta kemampuan menikmati hasil kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Filosofinya bukan semata-mata tentang memperoleh sesuatu, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu menciptakan “pembaringan” yang tenteram bagi dirinya dan keluarganya.

Filosofi Pamor Pendaringan Kebak

Pendaringan Kebak secara simbolis memiliki makna yang sangat dekat dengan gagasan kecukupan dan kesejahteraan.

Istilah pendaringan dapat dikaitkan dengan tempat menyimpan bahan pangan atau persediaan kebutuhan hidup, sedangkan kebak berarti penuh.

Karena itu, Pendaringan Kebak dapat direnungkan sebagai simbol:

“Pendaringan yang selalu terisi—kehidupan yang berkecukupan, tidak kekurangan, dan mampu memberi manfaat.”

Dalam konteks filosofis, “penuh” tidak harus dimaknai sebagai kekayaan materi semata. Ia dapat berarti penuh rasa syukur, penuh ilmu, penuh tanggung jawab, dan penuh manfaat bagi sesama.

Makna Tilam Sari + Pendaringan Kebak

Ketika kedua unsur tersebut dipadukan, terdapat pesan filosofis yang kuat:

Tilam Sari → ketenteraman dan keharmonisan hidup.
Pendaringan Kebak → kecukupan dan persediaan kehidupan.

Sehingga dapat dirangkum:

“Membangun kehidupan yang tenteram, menjaga keharmonisan keluarga, mencukupkan kebutuhan dengan usaha yang baik, serta menjadikan keberlimpahan sebagai jalan untuk berbagi.”


Sejarah Pakubuwono IX

Pakubuwono IX (Pakubuwana IX) adalah Susuhunan Kasunanan Surakarta yang memerintah pada 1861–1893. Ia merupakan putra Pakubuwono VI dan menggantikan Pakubuwono VIII; setelah wafat pada 1893, kedudukannya diteruskan oleh Pakubuwono X.

Masa pemerintahannya berada pada periode ketika Kasunanan Surakarta telah memasuki abad ke-19, dalam lingkungan politik Jawa yang berada di bawah pengaruh kuat pemerintahan kolonial Belanda.

Pakubuwono IX juga dikenal dengan gelar anumerta Sinuhun Bangun Kedhaton, berkaitan dengan pembangunan dan pembenahan berbagai bagian kompleks Keraton Surakarta. Renovasi tersebut mencakup antara lain Siti Hinggil dan Panggung Sangga Buwana.

Dalam konteks kebudayaan keraton, keris tetap menjadi bagian penting dari tradisi tosan aji. Keris memiliki fungsi yang lebih luas daripada senjata: menjadi bagian dari busana, simbol kehormatan dan status, pusaka keluarga, serta artefak budaya yang diwariskan.

Tags: , , ,

Keris Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak PB IX

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 6 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja