Beranda » Keris Sepuh » Keris Jalak Ngore Pamor Segoro Muncar
click image to preview activate zoom
Diskon
18%

Keris Jalak Ngore Pamor Segoro Muncar

Rp 6.555.000 Rp 8.000.000
Hemat Rp 1.445.000
Kode057
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Jalak Ngore Pamor Segoro Muncar

DHAPUR JALAK NGORE

Keris Jalak Ngore dipandang sebagai pusaka yang sarat dengan simbol kebahagiaan batin, kelancaran nafkah, serta kemampuan manusia melepaskan diri dari tekanan hidup dengan cara yang bijaksana. Dhapur ini tidak menonjolkan kegagahan agresif, melainkan menggambarkan laku hidup yang tekun, waspada, dan penuh kesadaran.

Bagi orang Jawa, burung (kukila) bukan sekadar hewan, melainkan perlambang pelipur lara—peneduh hati yang mampu meredam kejengkelan dan kegelisahan batin. Kicau burung dipercaya membawa rasa tentrem, menenangkan pikiran, serta menghadirkan kegembiraan sederhana. Oleh sebab itu, banyak simbol kebijaksanaan Jawa mengambil metafora burung sebagai cermin laku manusia.

Makna Jalak Ngore

Burung jalak dikenal luas sebagai burung peliharaan yang cerdas, peka terhadap lingkungan, setia pada pasangan, serta tidak serakah ketika mencari makan. Ia mengambil secukupnya, lalu kembali ke sarangnya. Dalam laku hidup, ini mencerminkan manusia yang bekerja keras untuk keluarga, namun tidak lupa pulang pada nilai-nilai rumah tangga, etika, dan keseimbangan batin.

Istilah ngore merujuk pada gerakan burung yang mengepakkan sayap sambil bersuara nyaring. Dalam tafsir Jawa, ngore dihubungkan dengan kata mudhar—mengurai, melepaskan, atau menyelesaikan satu per satu. Filosofinya sangat dalam: persoalan hidup tidak dihadapi dengan emosi, melainkan diurai perlahan melalui ketekunan, kesabaran, dan usaha berkesinambungan.

Dengan demikian, Jalak Ngore melambangkan manusia yang:

  • rajin bekerja tanpa putus asa
  • cermat membaca peluang
  • sabar menghadapi rintangan
  • tidak lupa tujuan utama: kesejahteraan keluarga dan ketenteraman jiwa

Jalak Ngore adalah pusaka bagi mereka yang percaya bahwa rezeki datang melalui laku, bukan sekadar harapan.

PAMOR SEGORO MUNCAR

Pamor Segoro Muncar secara harfiah berarti lautan yang memancar atau bergelora. Dalam kosmologi Jawa, laut adalah simbol sumber kehidupan, keluasan rezeki, dan ketidakterbatasan kemungkinan. Segoro Muncar menggambarkan dinamika kehidupan yang terus bergerak—kadang tenang, kadang bergelombang, namun selalu mengandung potensi.

Dalam dunia tosan aji, pamor ini dipercaya membawa tuah:

  • kelancaran usaha
  • keterbukaan jalan rezeki
  • kemudahan menjalin relasi
  • kemampuan bertahan dalam situasi sulit

Namun makna Segoro Muncar tidak berhenti pada materi. Laut yang luas mengajarkan kelapangan hati dan pikiran. Rezeki sering datang bukan dari kekuatan sendiri, melainkan dari hubungan baik, kepercayaan, dan kerja sama dengan sesama.

Makna meluaskan pergaulan dalam pamor ini bukan sekadar memperbanyak kenalan, melainkan menjalin relasi yang sehat, saling menguatkan, dan membawa manfaat bersama. Dari situlah pintu kesempatan terbuka, sering kali dari arah yang tidak disangka.

Segoro Muncar mengingatkan bahwa keberkahan hidup menuntut:

  • ketekunan
  • kebijaksanaan dalam bergaul
  • kerendahan hati
  • kesiapan menerima perubahan

Seperti samudra yang tak pernah berhenti bergerak, demikian pula manusia dalam ikhtiarnya menuju kesejahteraan lahir dan batin.

TANGGUH MATARAM HB (HAMENGKUBUWONO)

Keris Jalak Ngore bertangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) lahir dari periode sejarah yang penuh tekanan dan perubahan besar. Rentang masa ini mencakup pemerintahan HB I hingga HB V, ketika Kasultanan Yogyakarta harus menghadapi kolonialisme, intervensi politik, dan pembatasan kekuasaan militer.

Titik balik besar terjadi pada Oktober 1813, ketika Sultan HB III menandatangani perjanjian politik dengan Thomas Stamford Raffles. Sejak itu:

  • kekuatan militer kraton dipangkas
  • kepemilikan senjata diawasi ketat
  • pasukan kraton dibatasi fungsinya
  • peran militer berubah menjadi simbolik

Situasi semakin berat pasca Perang Diponegoro (1825–1830), yang mengguncang struktur sosial, ekonomi, dan budaya Jawa. Dalam kondisi ini, para empu tidak lagi berkarya untuk kebutuhan besar kraton, melainkan tetap menempa pusaka sebagai bentuk ketahanan budaya.

Banyak empu kemudian berkarya di luar benteng kraton, terutama di wilayah Gading Mataram (Bagelen dan Ngentho-entho). Dari sanalah lahir tosan aji dengan kualitas yang tetap tinggi, meskipun dibuat dalam keterbatasan bahan dan perlindungan politik.

Karakter Keris Tangguh Mataram HB

Tangguh Ngayogyakarta sering keliru disamakan dengan Mataram awal. Padahal secara tepat, ia merujuk pada era Kraton Hamengkubuwono, yang kerap disebut tangguh nem-neman (muda).

Ciri umumnya:

  • bentuk sederhana dan proporsional
  • dedeg tidak terlalu panjang
  • pawakan sembodo (sepadan)
  • tidak ngadal meteng seperti Surakarta
  • tidak berlebihan dalam garap

Kesannya lugu, lurus, sederhana, namun menyimpan aura wingit dan wibawa yang matang. Inilah karisma utama keris Mataram HB: kekuatan dalam kesederhanaan.

Kunjungi : Mengenal Tangguh Keris

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Keris Jalak Ngore Pamor Segoro Muncar

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 57 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja