Beranda » Keris Nom-Noman » Keris Tilam Sari PB Sepuh
click image to preview activate zoom
Diskon
16%
Terpopuler

Keris Tilam Sari PB Sepuh

Rp 15.555.000 Rp 18.500.000
Hemat Rp 2.945.000
Kode059
Stok Tersedia
Kategori Keris Nom-Noman
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Sari PB Sepuh

KERIS TILAM SARI

Keris Tilam Sari – Dalam pitutur lisan yang hidup di tengah masyarakat, disebutkan bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga pernah memberi wejangan bahwa pusaka pertama yang sebaiknya dimiliki seseorang adalah keris dhapur Tilam Upih, dan pasangannya adalah Tilam Sari.

Sunan Kalijaga memaknai Tilam Upih dan Tilam Sari sebagai pusaka yang setia mendampingi pemiliknya dalam suka maupun duka, dalam prihatin maupun jaya, menjadi pengingat agar manusia tidak lupa daratan ketika berada di puncak, dan tidak kehilangan arah ketika berada di dasar kehidupan.

FILOSOFI DHAPUR TILAM SARI

Dalam terminologi Jawa, tilam berarti alas tidur sederhana (tikar dari anyaman daun). Tilam melambangkan laku prihatin, tirakat, dan kesederhanaan, fase hidup ketika seseorang ditempa oleh kesulitan dan pengendalian diri.
Sementara sari berarti inti, kembang, atau esensi terbaik. Sebuah simbol kemuliaan hidup, keharuman nama, serta bakti kepada orang tua dan leluhur.

Dhapur Tilam Sari dengan demikian mengajarkan falsafah agung:

Kemuliaan tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari kesabaran, laku prihatin, dan doa yang tulus.

Tidak mengherankan bila pada masa lalu, orang tua Jawa sering memberikan keris Tilam Upih atau Tilam Sari kepada anaknya yang menikah. Pusaka ini menjadi wejangan bisu, pengingat bahwa tujuan hidup hanya bisa dicapai dengan usaha lahir, kesabaran batin, dan kedekatan kepada Tuhan.

HAKEKAT LAKU & DOA

Dalam ajaran leluhur, keberhasilan bukan semata karena bentuk tirakatnya, melainkan karena kesanggupan menjaga laku hidup:

  • Memelihara sikap positif
  • Menjauhi perbuatan tercela
  • Menata niat dan tujuan hidup

Doa menjadi kendaraan yang mempercepat, sementara laku menjaga arah. Keris Tilam Sari hadir sebagai sarana pengingat, bukan alat pemaksa nasib.

PAMOR TEJO KINURUNG

Pamor Tejo Kinurung dikenal sebagai pamor dengan keindahan struktural dan makna kepemimpinan yang dalam. Polanya membentuk bingkai cahaya dari pangkal hingga ujung bilah:

  • Garis horizontal di gonjo
  • Menyatu ke sor-soran
  • Memanjang lurus hingga pucuk bilah

Secara pakem, pamor ini merupakan perpaduan pamor Wengkon (bingkai pelindung) dan Sodo Lanang (garis lurus di tengah bilah).

Nama Tejo Kinurung bermakna:

  • Tejo: cahaya, pencerahan, nurani
  • Kinurung: dijaga, dilindungi, dipelihara

Maknanya adalah cahaya batin yang tidak dibiarkan padam oleh godaan dunia, namun juga tidak dipamerkan secara berlebihan.

Garis tengah pamor melambangkan keteguhan sikap dan pertumbuhan, seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk. Bingkai di tepi bilah menjadi simbol batas moral, penjaga agar kekuasaan dan wewenang tidak melenceng dari dharma.

PAMOR KEPERCAYAAN PEMANGKU AMANAH

Dalam catatan tradisi, pamor sejenis Tejo Kinurung pernah dipilih oleh Sunan Pakubuwono IV saat memesan pusaka luk 13 dhapur Parungsari kepada Mpu Brajaguna. Hal ini menunjukkan bahwa pamor ini sejak lama dipandang tepat bagi pemangku amanah negara dan kepemimpinan.

Secara tradisional, pamor ini diyakini cocok untuk:

  • Pemimpin dan pejabat publik
  • Aparat pemerintahan
  • Militer dan kepolisian
  • Tokoh masyarakat
  • Siapa pun yang mengemban tanggung jawab besar

Bukan sebagai jimat kekuasaan, melainkan sebagai gondelan batin agar tetap jujur, adil, dan sadar akan amanah.

TANGGUH PAKU BUWANA (PB) SEPUH – SURAKARTA

Keris ini bertangguh PB Sepuh, sebuah periode penting dalam sejarah perkerisan Surakarta (era PB IV – PB IX), dikenal sebagai masa penyempurnaan ulang pakem klasik. Empu-empu Surakarta pada masa ini memutrani gaya lama dengan ketelitian tinggi dan kualitas bahan terbaik.

Ciri Khas Tangguh PB Sepuh:

  • Warna besi abu-abu kehijauan
  • Rabaan halus, tanda pengerjaan matang
  • Bilah tebal dan gagah, kandungan baja tinggi
  • Pamor adem, hidup, tidak mencolok
  • Pawakan mbangkek (berpinggang khas Surakarta)
  • Ukuran lebih panjang dari standar (± 37 cm)
  • Ujung bilah mbuntut tuma
  • Bagian tengah melebar seperti daun pohung
  • Gonjo melengkung dengan tungkakan khas Solo

Keris-keris era ini sangat dihargai kolektor karena konsistensi mutu, kekuatan besi, dan karakter wibawa yang matang.

Kunjungi : Mengenal Tangguh Keris

Tags: , , , , , , ,

Keris Tilam Sari PB Sepuh

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 56 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja