Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh HB Sepuh
Rp 4.500.000| Kode | FR |
| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Leres
Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : HB Sepuh
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo
Deder/Handle : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh HB Sepuh
FILOSOFI KERIS JALAK SANGU TUMPENG

Jalak Sangu Tumpeng adalah nama dhapur, yaitu bentuk/ricikan bilah keris. Jadi Jalak Sangu Tumpeng berbeda pengertiannya dengan tangguh HB/Yogyakarta atau pamor. Dalam ilmu keris, bentuk bilah, pamor, dan tangguh merupakan aspek yang dibaca secara terpisah.
Nama Jalak Sangu Tumpeng dapat diurai:
Jalak → burung yang aktif mencari makanan
Sangu → bekal
Tumpeng → lambang syukur, kesejahteraan dan keselamatan
Jalak — rajin mencari penghidupan
Jalak dapat dimaknai sebagai gambaran manusia yang aktif, rajin, dan tidak hanya menunggu datangnya rezeki.
Filosofinya:
Rezeki harus dijemput dengan usaha.
Bukan sekadar berharap mendapatkan hasil, tetapi mempunyai kemauan untuk bekerja, bergerak, dan memanfaatkan kesempatan.
Sangu — bekal kehidupan
Sangu berarti bekal.
Bekal manusia bukan hanya uang.
Bekal yang jauh lebih penting adalah:
- ilmu,
- keterampilan,
- pengalaman,
- keberanian,
- kesabaran,
- kejujuran,
- dan budi pekerti.
Karena itu Jalak Sangu Tumpeng mengingatkan:
Sebelum berjalan jauh, siapkan bekalnya. Sebelum mengejar hasil, siapkan kemampuan.
Tumpeng — syukur dan kesejahteraan
Tumpeng mempunyai kedudukan penting dalam tradisi selamatan Jawa. Bentuk kerucutnya sering dimaknai sebagai arah kepada Tuhan, sedangkan penggunaannya dalam syukuran berkaitan dengan keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan.
Dengan demikian, bagian “Tumpeng” memberikan pesan:
Setelah mendapatkan hasil, jangan lupa bersyukur.
Jadi filosofi Jalak Sangu Tumpeng bukan hanya tentang mencari rezeki, tetapi juga tentang bagaimana memperoleh dan menggunakan rezeki dengan benar.
MAKNA JALAK SANGU TUMPENG SECARA UTUH
Jika ketiga kata disatukan:
Jalak
→ rajin berusaha
Sangu
→ memiliki bekal
Tumpeng
→ bersyukur atas hasil
Maka filosofinya:
“Jadilah manusia yang rajin mencari penghidupan, selalu mempersiapkan bekal ilmu dan kemampuan, serta senantiasa mensyukuri hasil yang diperoleh.”
Dan ada makna sosial yang sangat bagus:
Rezeki yang baik bukan hanya membuat diri sendiri sejahtera, tetapi juga membawa manfaat bagi keluarga dan orang di sekitarnya.
LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN KERIS HB?

HB biasanya digunakan untuk menyebut Hamengku Buwono, yaitu gelar para Sultan yang memerintah Kasultanan Yogyakarta.
Kasultanan Yogyakarta lahir setelah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, ketika Mataram dibagi antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I.
Jadi jika sebuah keris disebut:
“Keris HB”
kita harus mengetahui maksudnya terlebih dahulu. Bisa berarti:
- keris yang dikaitkan dengan lingkungan Kasultanan Yogyakarta;
- keris dari periode pemerintahan salah satu Hamengku Buwono;
- keris yang dibuat oleh empu keraton;
- atau keris yang secara tradisi dianggap sebagai pusaka milik/terkait dengan Sultan.
Tidak semua keris yang memiliki gaya Yogyakarta otomatis merupakan “keris milik HB”.
SEJARAH KERIS DI KASULTANAN YOGYAKARTA

Tradisi keris sendiri jauh lebih tua daripada berdirinya Kasultanan Yogyakarta.
Istilah keris telah ditemukan dalam prasasti Jawa abad ke-9, antara lain Prasasti Rukam dan Wukajana. Jadi sejarah keris sudah berlangsung berabad-abad sebelum berdirinya Yogyakarta pada 1755.
Setelah berdirinya Kasultanan Yogyakarta, tradisi keris kemudian berkembang dalam lingkungan keraton, abdi dalem, empu, dan masyarakat pendukung budaya keraton.
Keris menjadi bagian dari sistem simbol kerajaan.
Di lingkungan keraton, keris dapat berfungsi sebagai:
pusaka → kelengkapan busana → tanda kebesaran → tanda jabatan → simbol status.
MASA HAMENGKU BUWONO I

Setelah Perjanjian Giyanti, Sultan Hamengku Buwono I membangun pusat pemerintahan baru.
Keraton Yogyakarta kemudian berkembang menjadi pusat:
- pemerintahan,
- budaya,
- kesenian,
- keagamaan,
- dan tradisi perkerisan.
Pembangunan Keraton Yogyakarta berlangsung bertahap. Sumber sejarah mencatat bahwa setelah Giyanti, Sultan sementara tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang, kemudian pembangunan keraton diteruskan sampai Sultan pindah ke keraton pada 7 Oktober 1756.
Dalam lingkungan seperti inilah tradisi ageman dan pusaka keraton memperoleh kedudukan penting.
EMPU KERATON DAN TRADISI HB

Tradisi pembuatan keris tidak berhenti setelah berdirinya Keraton Yogyakarta.
Salah satu bukti penting berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Situs resmi Kraton Yogyakarta mencatat bahwa pada masa HB VII terdapat abdi dalem empu pembuat keris yang menghasilkan keris-keris bagus dan dikenal dengan keris tangguh Kaping Piton.
Ini menunjukkan bahwa pada lingkungan Kasultanan Yogyakarta, tradisi empu dan pembuatan keris memang terus hidup hingga periode yang lebih muda.
KERIS HB BUKAN HANYA SENJATA

Dalam perkembangan budaya keraton, fungsi keris semakin luas.
Keris menjadi ageman, yaitu benda yang dikenakan sebagai bagian dari tata busana dan identitas seseorang.
Bagi bangsawan atau pejabat keraton, keris dapat menjadi bagian dari tanda kedudukan dan kebesaran. Sumber Direktorat Pelindungan Kebudayaan menyebut bahwa dalam lingkungan keraton, keris mempunyai kedudukan sebagai tanda kebesaran, tanda jabatan, tanda pangkat, sekaligus kelengkapan pakaian resmi.
Maka keris HB mempunyai dua dimensi:
PUSAKA
menyimpan nilai sejarah, penghormatan dan tradisi.
AGEMAN
menjadi bagian dari identitas dan tata kehidupan keraton.
HAMENGKU BUWONO VIII & IX
Tradisi keraton kemudian berlanjut pada masa Sultan berikutnya.
Pada masa HB VIII, pembangunan dan penyempurnaan berbagai bagian Keraton Yogyakarta mencapai perkembangan penting. Salah satu contohnya adalah pembangunan kembali Siti Hinggil dalam bentuk megah pada masa pemerintahannya.
Kemudian HB IX naik takhta pada 18 Maret 1940.
Pada masa HB IX, kedudukan keraton memasuki periode yang sangat berbeda karena bersentuhan langsung dengan masa pendudukan Jepang dan kemudian Republik Indonesia.
Menariknya, dalam pidato pertamanya sebagai Sultan, HB IX menekankan keinginannya untuk mempertemukan unsur Barat dan Timur tanpa kehilangan kepribadian Jawa. Ini sangat relevan dengan filosofi keraton:
tradisi boleh berkembang, tetapi jati diri jangan hilang.
JALAK SANGU TUMPENG + FILOSOFI HB
Kalau Jalak Sangu Tumpeng ditempatkan dalam konteks budaya Keraton Yogyakarta, filosofinya menjadi semakin menarik.
JALAK
Manusia harus aktif dan rajin.
SANGU
Seorang pemimpin harus mempunyai bekal ilmu dan kemampuan.
TUMPENG
Kekuasaan dan keberhasilan harus disertai rasa syukur.
KERIS HB
Kekuasaan harus dibarengi tanggung jawab dan kehormatan.
Maka dapat dirumuskan:
“Seorang manusia harus rajin berusaha, memiliki bekal ilmu dan kebijaksanaan, memperoleh hasil dengan cara yang baik, kemudian menggunakan hasil tersebut untuk kesejahteraan dan manfaat bagi sesama.”
Tags: FILOSOFI KERIS JALAK SANGU TUMPENG, Jalak Sangu Tumpeng, keris hb, Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh HB Sepuh, Makna Jalak Sangu Tumpeng
Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh HB Sepuh
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 14 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Carito Buntolo Luk 15 Keris Carito Buntolo Luk 15, pusaka era Mataram Amangkurat yang semakin langka dan jarang muncul ke permukaan. Bilahnya keleng hitam pekat, auranya dingin. Pertanda pusaka berjiwa kuat dan tidak sembarangan memilih pemilik. Begitu Anda memegangnya, getaran wibawanya langsung terasa. Ini adalah keris untuk orang yang ingin dihormati, disegani, dan tidak… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih secara sederhana dapat dimaknai dari kata tilam, yaitu alas/tempat berbaring, dan upih, yang merujuk pada pelepah pembungkus atau selubung dari bagian tanaman pinang/kelapa. Dalam tafsir budaya perkerisan, bentuknya yang lurus dan sederhana justru membawa filosofi yang dalam: ketenteraman, kesederhanaan, kerukunan, dan kebahagiaan keluarga. Tradisi perkerisan juga kerap menempatkan Tilam… selengkapnya
Rp 3.500.000 Rp 5.000.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Jalak Tilam Sari Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Mataram Amangkurat Warangka: Gayaman Surakarta Bahan : Kayu Timoho Pendok : Bunton Lamen Motif : Alas-Alasan Bahan : Tembaga Dhapur Jalak Tilam Sari Jalak Tilam Sari adalah salah satu dhapur keris lurus yang dikenal anggun dan sarat makna. Dhapur ini memiliki beberapa ricikan khas… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDAPUR SAMBADA Keris Sambada berasal dari kata sambadya: cukup, terpenuhi, genap. Dhapur Sambada termasuk salah satu pakem luk 3 klasik dengan ricikan: Sekar kacang pogog Jalen Lambe gajah 1 Sogokan tipis Greneng Tikel alis (umumnya halus) Membawa doa agar pemiliknya mencapai: Kecukupan dalam rezeki (cukup tetapi tidak berlebih) Keseimbangan dalam sikap Kemampuan mengambil keputusan dengan… selengkapnya
Rp 18.500.000 Rp 21.275.000Keris Tilam Sari Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban adalah pusaka klasik yang dikenal berkarakter halus, berwibawa, dan penuh pesona. Keris ini mencerminkan keseimbangan antara keindahan rupa, kedalaman makna, dan keteduhan karakter, sehingga sejak dahulu sering dikaitkan dengan figur pemimpin, bangsawan, dan pribadi berpengaruh. Dhapur Tilam Sari sendiri melambangkan alas keindahan dan kenyamanan, menandakan pusaka yang… selengkapnya
*Harga Hubungi CSDhapur Sabuk Inten Keris Sabuk Inten merupakan salah satu dhapur keris paling populer dan berwibawa dalam tradisi Jawa. Nama Sabuk (ikat pinggang) dan Inten (berlian) mengandung makna: ikatan kehormatan, pengendalian diri, kemuliaan dan keteguhan hati. Secara filosofis, Sabuk Inten melambangkan: pemimpin yang mampu mengikat kekuatan lahir dan batin secara seimbang. Keris Sabuk Inten sering diasosiasikan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFILOSOFI KERIS TILAM UPIH Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang relatif sederhana. Ciri pokoknya adalah gandhik polos, pejetan, dan tikel alis. Dalam literatur kebudayaan keris, bentuk dhapur ditentukan terutama oleh kombinasi bilah dan ricikan, sedangkan tangguh digunakan untuk membaca gaya/periode pengerjaan. Nama Tilam Upih mempunyai makna simbolis yang sangat kuat. Tilam =… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Sepang Pamor Wos Wutah melambangkan manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan kebijaksanaan. Sepang mengajarkan pentingnya mengetahui batas, menentukan pilihan, dan berdiri teguh pada prinsip. Wos Wutah melambangkan kecukupan serta keberlimpahan rezeki yang harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Dalam bingkai sejarah Kesultanan Cirebon, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai ajaran untuk membangun kehidupan… selengkapnya
Rp 17.777.000Keris Sengkelat Luk 13 dengan pamor Segoro Muncar adalah salah satu pusaka yang sarat makna filosofis, spiritual, dan estetika tinggi dalam tradisi tosan aji Jawa. Mengacu pada tangguh Mataram era Sultan Agung, keris ini mencerminkan kekuatan kepemimpinan, kewibawaan, dan kelimpahan rezeki. Sejarah & Tangguh Pada masa Kerajaan Kesultanan Mataram, khususnya era Sultan Agung (abad ke-17),… selengkapnya
Rp 22.222.000 Rp 25.555.000Jenis Pusaka : Luk 7 Dhapur : Megantoro Pamor : Wos Wutah Ceprit Tangguh : Majapahit Deder : Yudhowinatan Bahan : Trembalo Mendak : Kendit Seling Merah Bahan : Tembaga Permata Sintetis Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Cendana Wangi Pendok : Blewah Cukit Pangeranan Bahan : Tembaga DHAPUR KERIS MEGANTORO Keris Megantoro atau… selengkapnya
Rp 35.555.000 Rp 38.888.000








TEGEK SET KOLONG ORCA NAVARA 450 540
Keris Balebang Luk 7 Tangguh Bali Abad XVIII Sepuh
Keris Carubuk Mataram Sultan Agung
Hiasan Dinding Relief Seni Alam
Keris Brojol Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Sepuh
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.