Beranda » Keris Sepuh » Keris Carang Soka Pamor Singkir Blambangan
click image to preview activate zoom

Keris Carang Soka Pamor Singkir Blambangan

KodePOND
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis : Keris Luk 9
Dhapur : Carang Soka
Pamor : Singkir (Adeg)
Tangguh : Blambangan
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Kemuning
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Selut Rujakwuni, Bahan Kuningan

Tentukan pilihan yang tersedia!
INFO HARGA
Silahkan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi harga produk ini.
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Carang Soka Pamor Singkir Blambangan

FILOSOFI KERIS CARANG SOKA

Dalam bahasa Jawa, carang berarti ranting/cabang kecil, sedangkan soka dapat merujuk pada tanaman bunga Soka/Asoka dan juga dikaitkan dengan makna sedih atau duka. Sumber kebudayaan Kabupaten Bantul mencatat Carang Soka sebagai dhapur dengan ricikan gandhik sekar kacang, pejetan, lambe gajah satu, sraweyan, dan ri pandhan.

Ada dua lapisan pemaknaan yang menarik.

1. Carang — ranting yang terus bercabang

Satu ranting mungkin terlihat kecil.

Tetapi ketika rantingnya banyak, pohon menjadi rimbun dan kuat.

Secara filosofis, ini menggambarkan bahwa kehidupan manusia dibangun dari banyak hal kecil:

  • usaha sedikit demi sedikit,
  • pengalaman,
  • keluarga,
  • persahabatan,
  • pengetahuan,
  • kesabaran,
  • dan kebajikan.

Tidak semuanya terlihat besar pada awalnya.

Tetapi apabila dipelihara, semuanya akan menjadi pohon kehidupan yang kuat.

2. Soka — duka yang dapat dilampaui

Soka mempunyai asosiasi dengan bunga Asoka dan dalam penafsiran tradisional juga berhubungan dengan kesedihan/duka. Ada sumber yang mengartikan Carang Soka sebagai ranting bunga Soka sekaligus memberikan pembacaan simbolis tentang duka.

Karena itu, Carang Soka dapat dimaknai:

Duka bukan akhir perjalanan; dari duka manusia dapat menumbuhkan kekuatan dan kebijaksanaan.

Ada pula pembacaan yang bersumber pada Serat Centhini, yaitu Carang Soka dimaknai sebagai kemauan yang terdapat pada kedua tangan, atau sesuatu yang akan diwujudkan melalui tindakan.

Ini memberikan filosofi yang lebih dalam:

Niat yang baik harus diwujudkan dengan perbuatan yang baik.


Filosofi Carang Soka yang paling dalam

Kalau ketiga makna tersebut disatukan:

Carang → pertumbuhan
Soka → duka/ujian
Tangan → tindakan

Maka pesan pusakanya dapat dirumuskan:

“Dalam menghadapi kesedihan dan ujian hidup, jangan berhenti pada keluh kesah. Tumbuhkan kekuatan, lalu wujudkan niat baik melalui tindakan.”

Ini filosofi yang sangat kuat.


SEJARAH KERAJAAN BLAMBANGAN

Blambangan merupakan kerajaan di ujung timur Jawa, yang wilayah historisnya berkaitan terutama dengan kawasan Banyuwangi dan Semenanjung Blambangan, serta wilayah-wilayah sekitarnya pada masa tertentu.

Yang sangat penting: Blambangan memiliki posisi istimewa dalam sejarah Jawa karena setelah kemunduran Majapahit, kerajaan ini menjadi salah satu pusat kekuatan Hindu yang bertahan di Jawa.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya bahkan menyebut Blambangan sebagai satu-satunya kerajaan Hindu yang masih bertahan di Jawa setelah keruntuhan Majapahit pada 1530-an.

Jadi Blambangan bukan sekadar kerajaan kecil yang muncul belakangan.

Ia merupakan salah satu mata rantai penting dari warisan politik dan budaya Jawa Timur pasca-Majapahit.


BLAMBANGAN DAN MAJAPAHIT

Blambangan mempunyai hubungan sejarah yang panjang dengan lingkungan politik Jawa Timur dan tradisi Majapahit.

Ketika kekuasaan Majapahit melemah, wilayah timur Jawa tidak serta-merta masuk ke dalam kekuasaan kerajaan Islam di Jawa.

Blambangan justru mampu mempertahankan identitas politik dan keagamaan Hindu untuk waktu yang panjang.

Inilah salah satu alasan mengapa budaya Blambangan kemudian mempunyai karakter yang berbeda dibandingkan pusat-pusat kebudayaan Jawa Tengah.

Pengaruh Jawa, Hindu-Bali, dan tradisi lokal Using kemudian bertemu di kawasan tersebut.


BLAMBANGAN VS MATARAM

Ini merupakan salah satu bagian paling menarik.

Mataram Islam berusaha memperluas kekuasaannya ke Jawa bagian timur.

Sumber sejarah mengenai kawasan Panarukan mencatat bahwa Sultan Agung akhirnya menguasai Panarukan sekitar 1639–1640, tetapi Blambangan tetap menjadi kekuatan yang sulit ditundukkan.

Penelitian tentang masyarakat Blambangan juga menunjukkan bahwa kawasan ini mengalami tarik-menarik kekuatan antara Mataram Islam dan kekuatan Bali sepanjang abad ke-17 hingga abad ke-18.

Karena letaknya di ujung timur Jawa, Blambangan menjadi semacam wilayah pertemuan tiga dunia budaya:

Jawa — Bali — Blambangan/Using

Dan inilah yang membuat sejarahnya sangat unik.


Mengapa Blambangan lama mempertahankan Hindu?

Islamisasi di Blambangan berjalan lebih lambat dibandingkan banyak wilayah Jawa lainnya.

Menurut sumber Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, sampai paruh awal abad ke-18, dua raja Blambangan yang kuat, Tawangalun dan Danureja, masih beragama Hindu. Pengaruh Islam dalam keluarga kerajaan semakin terlihat pada masa Pangeran Adipati Danuningrat/Pangeran Pati (1736–1764).

Artinya, ketika banyak kerajaan Jawa sudah berubah menjadi kerajaan Islam, Blambangan masih mempertahankan tradisi Hindu.

Inilah salah satu alasan kuat mengapa budaya Blambangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan Bali.


TAWANGALUN — TOKOH PENTING BLAMBANGAN

Salah satu nama terbesar dalam sejarah Blambangan adalah Prabu Tawangalun.

Pada masa pemerintahannya, Blambangan menjadi salah satu kekuatan penting di ujung timur Jawa.

Tradisi sejarah Blambangan menggambarkan masa Tawangalun sebagai periode penting dalam perkembangan kerajaan dan identitas masyarakat Blambangan.

Hubungan dengan Bali juga semakin kuat karena konflik dan persaingan politik di kawasan timur Jawa.


BLAMBANGAN DAN VOC

Memasuki abad ke-18, persoalan berubah.

Blambangan tidak hanya menghadapi kekuatan Mataram dan Bali, tetapi juga VOC.

Pada akhirnya VOC menggunakan konflik politik dan pergantian kekuasaan sebagai jalan untuk memperluas pengaruhnya di Blambangan.

Blambangan kemudian mengalami peperangan panjang.

Sumber sejarah bahkan mencatat bahwa perang di kawasan tersebut menyebabkan kehilangan penduduk dalam jumlah besar dan membuat banyak aspek kejayaan Blambangan lama-kelamaan terlupakan.

Kerajaan Blambangan akhirnya runtuh pada 1768.


LALU APA HUBUNGANNYA DENGAN KERIS CARANG SOKA?

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Carang Soka bukan otomatis “keris Blambangan”.

Carang Soka adalah dhapur, sedangkan Blambangan adalah konteks sejarah/tangguh atau atribusi wilayah.

Bentuk Carang Soka sendiri mempunyai tradisi yang jauh lebih luas. Salah satu sumber kebudayaan bahkan mencatat legenda bahwa dhapur Carang Soka dibuat pada masa Jenggala, sehingga jelas bahwa nama dhapur ini tidak secara eksklusif berasal dari Blambangan.

Jadi kalau sebuah pusaka disebut:

“Keris Carang Soka Tangguh Blambangan”

maka secara konsep dapat dibaca:

Dhapur: Carang Soka
Tangguh/atribusi: Blambangan
Konteks budaya: Jawa Timur bagian timur, dengan pengaruh Jawa-Hindu-Bali
Filosofi: pertumbuhan, ketabahan, tindakan, dan kemampuan mengatasi kesedihan.


Ada beberapa hal yang menarik secara visual.

1. Luk 9

Bilah terlihat memiliki sembilan luk.

Dalam tradisi perkerisan Jawa, luk sembilan sering diberi nuansa filosofis yang berhubungan dengan kesempurnaan, kematangan dan kedalaman spiritual. Namun angka luk sendiri tidak cukup untuk menentukan tangguh.

2. Pamor sangat memanjang

Pamor pada bilah Anda terlihat seperti garis-garis panjang yang mengikuti alur luk, kemudian berkumpul kuat menuju sor-soran.

Secara estetika ini memberikan kesan:

aliran yang terus bergerak dan tidak terputus.

3. Sor-soran besar

Bagian bawah bilah tampak cukup lebar dan kaya pamor.

Ini membuat karakter visualnya terasa berat di bawah tetapi kemudian memanjang dan meruncing ke atas.

Secara simbolis bisa dibaca:

akar kuat → perjalanan panjang → tujuan yang semakin tajam.

4. Gonjo iras

Sesuai keterangan yang menyertai foto, pusaka ini disebut gonjo iras.

Gonjo iras berarti gonjo menyatu dengan bilah, bukan komponen gonjo yang terpisah.

Secara simbolis, gonjo iras sering dibaca sebagai:

kesatuan yang tidak mudah dipisahkan.

Jika dikaitkan dengan filosofi Carang Soka:

akar dan batang harus tetap menyatu agar ranting dapat tumbuh.


PAMOR SINGKIR

Jika benar pamornya Singkir, istilah tersebut secara tradisional membawa gagasan menyingkirkan atau menjauhkan sesuatu yang tidak baik.

Namun perlu saya tekankan: nama pamor tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan foto, karena beberapa pola dapat terlihat sangat mirip setelah proses warangan dan pencahayaan tertentu.

Jika atribusi Pamor Singkir memang benar, filosofi simbolisnya sangat cocok dengan Carang Soka:

duka, gangguan dan hal buruk tidak dijadikan tempat berhenti; semuanya disingkirkan agar kehidupan dapat kembali tumbuh.


MAKNA CARANG SOKA BLAMBANGAN

Jika seluruh unsur pusaka ini disatukan:

CARANG
→ kehidupan terus tumbuh.

SOKA
→ kesedihan dan ujian hidup.

LUK 9
→ kedalaman dan kematangan.

PAMOR SINGKIR
→ menjauhkan hal-hal yang menghambat.

GONJO IRAS
→ kesatuan dan keteguhan.

BLAMBANGAN
→ ketahanan mempertahankan identitas di tengah tekanan kekuatan yang lebih besar.

Maka filosofi keseluruhannya menjadi sangat kuat:

“Tetaplah tumbuh meskipun diterpa kesulitan. Kesedihan bukan alasan untuk berhenti. Pertahankan jati diri, singkirkan segala penghalang, dan wujudkan niat baik melalui tindakan.”

Tags: , , , , , ,

Keris Carang Soka Pamor Singkir Blambangan

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 28 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja