Keris Sengkelat Luk 13 Mataram Sultan Agung TUS
Rp 20.000.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis: Keris Luk 13
Dhapur: Sengkelat ( Sekar Kacang Bungkem )
Pamor: Wos Wutah
Tangguh: Mataram Sultan Agung
Warangka: Gayaman Yogyakarta
Bahan Warangka: Kayu Timoho
Motif Warangka: Kendhit
Deder/Handle: Kayu Tayuman
Pendok: Slorok Tempel
Finishing Pendok: Kemalo
Mendak: Kendhit
Bahan Mendak: Perak dengan hiasan batu inten
Keris Sengkelat Luk 13 Mataram Sultan Agung TUS
Keris Sengkelat Luk 13 Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan pusaka yang memiliki karakter khas dalam khazanah tosan aji Jawa. Perpaduan dhapur Sengkelat, ricikan Sekar Kacang Bungkem, pamor Wos Wutah, serta busana keris bergaya Yogyakarta menghadirkan keindahan yang sarat dengan nilai seni dan filosofi tradisional.
Dhapur Sengkelat dikenal melalui bentuk bilah berluk yang memberikan karakter tegas dan berwibawa. Sementara itu, ricikan Sekar Kacang Bungkem menjadi salah satu unsur yang menarik untuk diapresiasi dari sisi detail garap dan pemaknaan simbolisnya.
Penyebutan tangguh Mataram Sultan Agung menghubungkan pusaka ini dengan salah satu periode penting dalam sejarah kebudayaan Jawa. Keterangan tersebut merupakan identitas koleksi yang idealnya didukung oleh pengamatan ciri bilah, karakter pengerjaan, dan kajian ahli perkerisan.
Lebih dari sekadar benda seni, keris dapat dipandang sebagai warisan budaya yang menyimpan nilai-nilai tentang pengendalian diri, kewibawaan, kebijaksanaan, dan keluhuran budi.
Filosofi Dhapur Sengkelat Luk 13
Dhapur Sengkelat dengan tiga belas luk memiliki bentuk bilah yang khas dan berkarakter. Dalam pemaknaan filosofis, lekukan pada bilah dapat direnungkan sebagai gambaran perjalanan hidup yang penuh dinamika dan membutuhkan keteguhan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Filosofi yang dapat dikaitkan dengan keris Sengkelat antara lain:
Keteguhan pendirian: melambangkan pentingnya memiliki prinsip dan tidak mudah goyah ketika menghadapi tantangan.
Kewibawaan: mengingatkan bahwa kehormatan dibangun melalui perilaku, ketegasan, dan tanggung jawab.
Kebijaksanaan: mengajarkan agar setiap keputusan diambil dengan pertimbangan yang matang.
Keseimbangan hidup: menjadi pengingat untuk menyelaraskan keberanian dengan kesabaran dan ketegasan dengan kebijaksanaan.
Nilai-nilai tersebut merupakan penafsiran filosofis yang dapat memperkaya apresiasi terhadap pusaka, bukan makna baku yang berlaku bagi setiap keris Sengkelat.
Filosofi Sekar Kacang Bungkem
Ricikan Sekar Kacang Bungkem merupakan unsur bentuk pada bagian gandik keris. Secara visual, sekar kacang dikenal melalui bentuk menyerupai sulur atau kecambah yang melengkung. Istilah bungkem dalam pemaknaan filosofis dapat dihubungkan dengan sikap menahan diri, menjaga lisan, dan tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan sesuatu.
Dalam ajaran kehidupan Jawa, seseorang yang benar-benar berwibawa tidak harus selalu menunjukkan kekuatan melalui perkataan. Ketenangan, kemampuan mendengarkan, serta kecermatan dalam bertindak justru menjadi bagian penting dari kedewasaan.
Makna filosofis Sekar Kacang Bungkem meliputi:
Menjaga lisan: berbicara seperlunya, menghindari perkataan yang menyakiti, dan mempertimbangkan akibat ucapan.
Pengendalian diri: tidak mudah terbawa emosi atau mengambil keputusan secara terburu-buru.
Ketenangan batin: menghadapi persoalan dengan pikiran jernih dan sikap yang terkendali.
Kewibawaan sejati: membangun rasa hormat melalui perilaku, bukan semata-mata melalui jabatan atau kekuasaan.
Dengan demikian, Sekar Kacang Bungkem dapat direnungkan sebagai simbol kebijaksanaan: semakin seseorang mampu mengendalikan dirinya, semakin besar peluangnya untuk bertindak secara tepat dan bertanggung jawab.
Filosofi Pamor Wos Wutah
Pamor Wos Wutah merupakan salah satu motif pamor yang dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Namanya sering dimaknai sebagai beras yang tumpah atau beras yang tersebar, sehingga secara simbolis dikaitkan dengan kemakmuran, kecukupan pangan, dan harapan akan rezeki.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, beras memiliki kedudukan penting sebagai lambang kebutuhan pokok dan keberlangsungan hidup. Oleh sebab itu, Wos Wutah dapat direnungkan sebagai pengingat agar manusia senantiasa bersyukur atas rezeki serta menggunakan hasil kerja dengan bijaksana.
Filosofi pamor ini dapat dikaitkan dengan beberapa nilai berikut:
Kemakmuran: simbol harapan akan kehidupan yang berkecukupan.
Kelancaran rezeki: pengingat untuk terus berusaha dan memanfaatkan kesempatan dengan baik.
Rasa syukur: mengajarkan pentingnya menghargai setiap hasil usaha.
Kedermawanan: mengingatkan agar keberhasilan tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi keluarga dan sesama.
Makna tersebut merupakan pemaknaan budaya dan tradisi, bukan jaminan bahwa pamor tertentu akan mendatangkan kekayaan secara otomatis.
Angsar dan Makna Spiritual Menurut Tradisi Jawa
Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Jawa, keris kerap dipandang sebagai pusaka yang mengandung nilai simbolis dan spiritual. Angsar atau tuah yang diyakini berkaitan dengan suatu keris dapat berbeda menurut tradisi, penafsiran, dan keyakinan masing-masing.
Secara filosofis, perpaduan Sengkelat Luk 13, Sekar Kacang Bungkem, dan pamor Wos Wutah dapat direnungkan melalui nilai-nilai berikut:
Kewibawaan dan kehormatan: menjaga martabat melalui perilaku yang santun, tegas, dan bertanggung jawab.
Kebijaksanaan dalam kepemimpinan: mempertimbangkan kepentingan bersama sebelum mengambil keputusan.
Kemakmuran dan kecukupan: menjadikan rezeki sebagai amanah yang perlu dikelola dengan baik.
Perlindungan keluarga: mengingatkan pentingnya doa, kehati-hatian, dan menjaga keharmonisan rumah tangga.
Kematangan spiritual: membiasakan diri untuk eling lan waspada, mawas diri, serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari tradisi dan keyakinan spiritual. Dalam kehidupan nyata, keselamatan, keberhasilan, dan kemakmuran tetap memerlukan usaha, doa, perilaku baik, serta tanggung jawab.
Keistimewaan Warangka dan Perlengkapan
Busana keris turut menentukan karakter dan keindahan sebuah pusaka. Pada koleksi ini, perpaduan warangka Gayaman Yogyakarta, kayu timoho bermotif Kendhit, deder kayu tayuman, serta pendok dan mendak berhias memberikan nuansa tradisional yang elegan.
Warangka Gayaman Yogyakarta – Kayu Timoho Motif Kendhit
Warangka Gayaman Yogyakarta memiliki bentuk yang mencerminkan karakter busana keris gaya Yogyakarta. Kayu timoho dengan motif Kendhit memberikan daya tarik visual tersendiri melalui karakter serat dan coraknya.
Deder atau Handle – Kayu Tayuman
Deder berbahan kayu tayuman melengkapi tampilan keris dengan karakter tradisional. Bagian pegangan ini menjadi unsur penting dalam keselarasan antara bilah dan warangka.
Pendok Slorok Tempel – Kemalo
Pendok Slorok Tempel dengan kemalo menambah aksen dekoratif pada warangka. Perpaduan ini memberikan kesan klasik yang memperkuat karakter busana keris.
Mendak Kendhit – Perak dengan Hiasan Batu Inten
Mendak Kendhit berbahan perak dengan hiasan batu inten memberikan sentuhan elegan pada bagian pertemuan deder dan bilah. Unsur ini memperkaya detail visual sekaligus melengkapi penampilan keseluruhan pusaka.
Keris Sengkelat Luk 13 Mataram Sultan Agung TUS
| Berat | 2000 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 5 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Filosofi Dhapur Carita Keprabon Nama Carita Keprabon dapat direnungkan sebagai carita atau cerita tentang keprabon, yaitu dunia kepemimpinan, kerajaan, dan tanggung jawab seorang penguasa. Secara filosofis, ia bukan sekadar menggambarkan kemegahan seorang raja, tetapi justru mengingatkan bahwa keprabon adalah amanah. Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang berada di tempat paling tinggi. Ia adalah orang yang… selengkapnya
Rp 23.500.000Keris Singo Barong Luk 13 Kinatah Emas merupakan pusaka dengan simbolisme yang sangat kuat. Perpaduan dhapur Singo Barong, Luk 13, dan kinatah emas dapat dimaknai sebagai lambang keberanian, kewibawaan, keteguhan, kepemimpinan, serta kemuliaan yang disertai tanggung jawab. Sementara itu, Mataram Senopaten merupakan periode penting dalam pembentukan Mataram Islam, terutama terkait Panembahan Senopati dan proses perubahan… selengkapnya
Rp 100.000.000Dhapur Carita Keprabon Keris Carita Keprabon adalah dhapur yang secara filosofi menggambarkan perjalanan kekuasaan, tata pemerintahan, dan amanah kepemimpinan. Kata carita berarti kisah atau perjalanan, sedangkan keprabon berarti istana, pemerintahan, atau kekuasaan sah. Makna mendalam dhapur ini: setiap pemimpin memiliki carita atau perjalanan hidup, kekuasaan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah, keprabon harus dijaga dengan kebijaksanaan,… selengkapnya
Rp 28.888.000 Rp 33.333.000Keris Carito Keprabon Luk 11 merupakan salah satu dhapur keris yang memiliki karakter simbolik kuat. Perpaduan dhapur Carito Keprabon, Luk 11, dan Pamor Pendaringan Kebak dapat dibaca sebagai perlambang perjalanan hidup, kepemimpinan, kecukupan rezeki, serta tanggung jawab menjaga kehidupan agar tetap seimbang. Secara tradisional, dhapur keris ditentukan oleh bentuk bilah, jumlah luk, dan ricikan yang… selengkapnya
Rp 35.500.000Keris Parungsari Luk 13 Pamor Udan Mas Tiban memiliki perpaduan simbolik yang kuat: Parungsari menggambarkan keindahan, keteguhan dan perjalanan hidup; luk 13 membawa makna kedewasaan menghadapi banyak liku kehidupan; sedangkan Udan Mas Tiban secara tradisional dikaitkan dengan datangnya rezeki dan keberkahan yang tidak disangka-sangka. Sementara Mataram Senopaten merupakan fase awal Kerajaan Mataram Islam di bawah… selengkapnya
Rp 6.500.000 Rp 8.000.000Keris Parungsari Luk 13 Pamor Dheling Mubyar merupakan pusaka yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pecinta tosan aji dan kolektor keris tradisional Jawa. Perpaduan dhapur Parungsari, bilah berluk tiga belas, ornamen kinatah kuningan sari, serta pamor yang disebut Pendaringan Kebak Meteor menghadirkan karakter visual yang kaya akan detail dan keunikan seni tempa. Keris ini… selengkapnya
Rp 25.555.000Filosofi Dhapur Sinom Nama Sinom memiliki hubungan yang indah dengan gambaran daun muda atau pucuk daun. Pucuk daun adalah lambang sesuatu yang sedang tumbuh. Ia masih muda, tetapi menyimpan potensi untuk menjadi bagian penting dari pohon yang besar. Karena itu, Sinom dapat dimaknai sebagai: pertumbuhan, harapan baru, semangat belajar, kesegaran pikiran, dan kemampuan memperbarui diri…. selengkapnya
Rp 16.666.000Filosofi Jalak Sangu Tumpeng Nama dhapur ini mengandung filosofi kehidupan yang cukup dalam. 1. Jalak — rajin mencari nafkah Burung jalak dikenal sebagai burung yang aktif mencari makanan dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan. Dalam simbolisme tradisional, jalak digunakan untuk menggambarkan manusia yang rajin bekerja, pandai membaca keadaan, dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, jalak… selengkapnya
*Harga Hubungi CSKeris Pamor Junjung Derajat Tangguh Tuban merupakan sebuah karya perkerisan yang menghadirkan perpaduan antara keindahan visual bilah dengan nilai filosofis yang mendalam. Nama Junjung Derajat mengandung doa dan pengharapan agar pemiliknya senantiasa memperoleh peningkatan dalam kehidupan, kemuliaan, kewibawaan, serta kemampuan untuk menjaga martabat diri dan keluarga. Dalam falsafah Jawa, derajat yang tinggi tidak hanya dimaknai… selengkapnya
Rp 17.777.000 Rp 19.500.000FILOSOFI KERIS BIMA RANGSANG LUK 17 Dalam pakem yang banyak dirujuk, Bima Rangsang memiliki luk 17, dengan ricikan antara lain kembang kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, dan sogokan rangkap. Beberapa tradisi juga mengenal Bima Rangsang dengan jumlah luk lebih tinggi. Yang menarik adalah arti namanya. Bima → Werkudara, tokoh Pandawa yang melambangkan… selengkapnya
*Harga Hubungi CS











JORAN TEGEK DAIWA HAMON PUTIH X WHITE
Keris Megantoro Luk 7 Kinatah Emas Mataram Amangkurat
Blawong Keris Isi 1 Ukir Gunungan Wayang Kayu Jati
Patung Buddha Kayu Jati
Keris Jalak Sangu Tumpeng
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.