Beranda » Keris Sepuh » Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten
click image to preview activate zoom

Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten

Rp 23.500.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis Pusaka : Luk 11
Dhapur : Carita Keprabon
Pamor : Pulo Tirto
Tangguh : Mataram Sinopaten
Deder : Taman Ngabean
Bahan : Sono Keling
Mendak : Parijatha
Bahan : Perak
Warangka : Gayaman Yogyakarta
Bahan : Kayu Asem
Pendok : Bunton Cukid Lung Semen
bahan : Perak

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten

Filosofi Dhapur Carita Keprabon

Nama Carita Keprabon dapat direnungkan sebagai carita atau cerita tentang keprabon, yaitu dunia kepemimpinan, kerajaan, dan tanggung jawab seorang penguasa.

Secara filosofis, ia bukan sekadar menggambarkan kemegahan seorang raja, tetapi justru mengingatkan bahwa keprabon adalah amanah.

Seorang pemimpin bukan hanya seseorang yang berada di tempat paling tinggi. Ia adalah orang yang harus mampu:

  • mengambil keputusan,
  • melindungi yang dipimpin,
  • menjaga ketertiban,
  • mengendalikan diri,
  • serta mempertanggungjawabkan setiap tindakan.

“Keprabon bukan sekadar mahkota di kepala, melainkan amanah yang harus dijaga dengan hati.”

Karena itu, Carita Keprabon dapat dimaknai sebagai kisah tentang perjalanan seseorang dalam memikul tanggung jawab kepemimpinan.


Makna Luk 11

Luk 11 dapat dibaca sebagai simbol perjalanan yang panjang dan penuh perubahan.

Dalam pemaknaan simbolik Jawa, angka sebelas atau sewelas juga sering direnungkan melalui kata welas, yaitu kasih sayang.

Maka Luk 11 dapat diberikan makna:

kekuasaan harus disertai welas asih.

Seorang pemimpin yang hanya mengandalkan kekuatan akan mudah ditakuti, tetapi pemimpin yang memiliki welas asih akan lebih mudah dihormati.

Karena itu:

kekuatan + kebijaksanaan + welas asih = kewibawaan.

Lekukan pada bilah juga dapat direnungkan sebagai gambaran bahwa jalan seorang pemimpin tidak pernah sepenuhnya lurus dan mudah. Ada konflik, perubahan, pilihan sulit, dan ujian yang harus dihadapi.


Filosofi Pamor Pulo Tirto

Pulo Tirto dapat direnungkan melalui dua unsur kata:

Pulo → pulau, suatu tempat atau daratan yang berdiri sebagai ruang kehidupan.

Tirto → air, sumber kehidupan.

Air merupakan salah satu simbol paling kuat dalam kebudayaan Jawa. Air memberikan kehidupan, membersihkan, menghidupi tanaman, dan memungkinkan manusia bertahan.

Karena itu, Pulo Tirto secara filosofis dapat dimaknai sebagai:

“Tempat kehidupan yang dikelilingi dan disuburkan oleh sumber kehidupan.”

Pulo menggambarkan keteguhan dan tempat berpijak, sedangkan tirto menggambarkan keluwesan, kehidupan, dan keberlanjutan.

Keduanya mengajarkan keseimbangan:

teguh seperti pulau, tetapi mengalir seperti air.

Jangan terlalu keras hingga mudah patah, tetapi jangan pula terlalu lunak hingga kehilangan prinsip.


Makna Spiritual Pulo Tirto

Air mempunyai sifat yang menarik.

Ia dapat mengikuti bentuk wadah, tetapi tetap memiliki hakikat sebagai air.

Dari sini muncul sebuah piwulang:

“Mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.”

Seorang pemimpin juga membutuhkan sifat tersebut.

Ia harus mampu menyesuaikan kebijakan dengan keadaan, tetapi tidak boleh kehilangan prinsip, keadilan, dan tujuan yang benar.

Pulo Tirto juga dapat dimaknai sebagai harapan akan kehidupan yang subur, tenteram, dan berkecukupan.


Carita Keprabon dan Pulo Tirto

Jika kedua simbol tersebut disatukan:

Carita Keprabon → tanggung jawab seorang pemimpin.

Luk 11 → perjalanan kepemimpinan yang membutuhkan welas asih.

Pulo Tirto → kehidupan, keseimbangan, dan kemampuan beradaptasi.

Maka filosofi keseluruhannya:

“Seorang pemimpin harus memiliki tempat berpijak yang teguh, tetapi hati yang mengalir seperti air. Teguh dalam prinsip, lentur dalam menghadapi keadaan, dan selalu menjadikan kesejahteraan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawabnya.”


Sejarah Mataram Senopaten

https://images.openai.com/static-rsc-4/wE-Gl4FtjNsdFnFC_8xSaLYpRmc2_RKfOxjoaLYHQXvbeLBotUeKQtnrEkYiR_RnQR995e8qstZ2uNHt-AqPVdketAR7Ui1F1u2nlV8w3pR9snrK2zf49bTiFvC2f-7GoEs3vf_O839GD5XCOb4oosvVKc8LfzVIpEscBK4fSW8O1HTK8unZM6LRXXe7qMHz?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/a8vBgarUVUUUX7jMund-Jo0sM3NgnGvfyY-XDYZzvp0DQf5kz-MhvKnMk0YFPJ4ni8dq1lye7D3QQmRnRIYRcbCZqGTRTAIGv2sInCMdfXMP-e5EHRSSbVMVHQWWYjs4rGhyMnBGng1jSCgoiVh_Z10Zk0qgmoiYYGYByc-qN31DqE2AapN7WulSIp6J5m6u?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/mLQwRzvybEk2BxBhwx_N9zf3m_ovwglMphB6LM7iWXVso_X9QJ7PDWM6LWue-gy8uZZWLWJCAPIqBD-g-hC8kKIb2loHaMzJujem7owNb1FgSWNFN41cJAruM5TlHQ0-syLPNf6RhUIm8ZjpVyPJo2CPSKjLIZEhRpdOr9XV1GiFFOF53ZLazy5CV1FpfMnr?purpose=fullsize
Mataram Senopaten merujuk pada periode awal perkembangan Mataram Islam di bawah Panembahan Senopati atau Sutawijaya.

Kotagede menjadi pusat penting Mataram dan kemudian berkembang sebagai cikal bakal ibu kota Mataram Islam. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat kawasan Kotagede sebagai kawasan yang dibangun sejak pembukaan hutan Mentaok pada abad ke-16 dan kemudian berkembang sebagai pusat pemerintahan Mataram pada masa Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati adalah putra Ki Ageng Pemanahan, tokoh yang memperoleh tanah Mentaok dari Sultan Hadiwijaya/Pajang. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, Sutawijaya meneruskan kekuasaan di Mataram dan kemudian tampil sebagai tokoh utama dalam berdirinya Mataram sebagai kekuatan yang mandiri.

Masa pemerintahannya umumnya ditempatkan sekitar akhir abad ke-16 hingga 1601, dengan sumber-sumber sejarah memberikan variasi dalam penetapan tahun awal pemerintahannya.


Panembahan Senopati dan Pembangunan Mataram

Panembahan Senopati menghadapi tugas yang sangat besar: mengubah Mataram dari wilayah yang masih berkembang menjadi kerajaan yang memiliki kekuatan politik sendiri.

Ia memperluas pengaruh Mataram ke berbagai wilayah Jawa. Sumber sejarah mencatat perkembangan kekuasaan Mataram ke kawasan sekitar Bengawan Solo dan Jawa Timur, termasuk Madiun, Kediri, Ponorogo, Jagaraga, serta wilayah lainnya; Mataram juga memperluas pengaruh ke sebagian Jawa Barat.

Pada masa tersebut, Kotagede menjadi pusat pemerintahan. Kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat politik, tetapi juga berkembang sebagai ruang kehidupan masyarakat, keagamaan, perdagangan, dan kebudayaan Mataram awal.

Panembahan Senopati wafat pada 1601 dan dimakamkan di Kotagede. Ia kemudian digantikan putranya, Raden Mas Jolang, yang bergelar Panembahan Hanyakrawati.


Senopati sebagai Pemimpin

Salah satu hal menarik dari sejarah Senopati adalah bagaimana Mataram harus membangun kekuatan sekaligus memperoleh legitimasi.

Ia tidak hanya menghadapi kekuatan politik dari Pajang, tetapi juga berbagai wilayah yang memiliki kepentingan sendiri.

Dalam perkembangan pemerintahannya, Mataram juga membangun kehidupan keagamaan. Kajian UIN Sunan Kalijaga mencatat bahwa Panembahan Senopati mengangkat wali-wali Kadilangu sebagai penasihat dan pembimbing serta mengembangkan lembaga dan tata kehidupan keagamaan di kerajaan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kerajaan tidak semata-mata berupa kekuatan militer, tetapi juga mencakup politik, pemerintahan, agama, dan tata sosial.

Tags: , , , ,

Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 18 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja