Beranda » Keris Sepuh » Keris Kolomunyeng Mataram Amangkurat
click image to preview activate zoom

Keris Kolomunyeng Mataram Amangkurat

Rp 15.555.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Sepuh

Jenis Pusaka : Keris Lurus
Dhapur : Kolomunyeng
Pamor : Adeg Wengkon
Tangguh : Mataram Amangkurat
Deder : Yudhowinatan
Bahan Deder : Kemuning
Mendak : Kendit
Bahan Mendak : Kemuning Cor
Warangka : Ladrang Surakarta Iras
Bahan Warangka : Trembalo
Pendok : Blewah Polos
Bahan Pendok : Mamas
Panjang Bilah : 35,2 cm
panjang Gonjo : 9,3 cm
Panjang Pesi : 6 cm

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Kolomunyeng Mataram Amangkurat

Filosofi Dhapur Kolomunyeng

Nama Kolomunyeng dapat direnungkan sebagai gambaran sesuatu yang bergerak, hidup, dan mempunyai daya untuk menghadapi keadaan.

Dalam pemaknaan simbolik, nama tersebut dapat dijadikan ajaran agar manusia tidak menjadi pribadi yang mudah menyerah atau diam ketika menghadapi perubahan.

Kehidupan selalu bergerak. Keadaan ekonomi berubah, hubungan berubah, kekuasaan berubah, dan zaman berubah.

Maka Kolomunyeng dapat dimaknai sebagai:

“Tetap hidup dan bergerak menghadapi perubahan, tetapi jangan kehilangan arah.”

Gerak tidak berarti tergesa-gesa. Justru diperlukan kecermatan membaca keadaan sebelum mengambil langkah.


Filosofi Pamor Adeg Wengkon

Pamor Adeg Wengkon dapat direnungkan melalui dua unsur:

Adeg → berdiri, tegak, atau mempunyai pendirian.

Wengkon → wilayah, batas, kawasan yang berada dalam suatu lingkup perlindungan.

Dari sini muncul makna simbolik:

“Berdiri teguh untuk menjaga batas dan wilayah tanggung jawab.”

Adeg Wengkon dapat menjadi perlambang keteguhan prinsip sekaligus kemampuan menjaga sesuatu yang menjadi amanah.

Dalam kehidupan pribadi, “wengkon” tidak harus berarti wilayah secara fisik. Ia dapat berupa:

  • keluarga,
  • kehormatan,
  • kepercayaan,
  • prinsip,
  • pekerjaan,
  • persahabatan,
  • dan tanggung jawab.

Sementara adeg mengajarkan agar seseorang tetap berdiri teguh ketika menghadapi tekanan.


Makna Adeg Wengkon dalam Kehidupan

Ada perbedaan antara teguh pendirian dan keras kepala.

Teguh pendirian berarti mempunyai prinsip tetapi masih mau mendengar dan mempertimbangkan kebenaran.

Keras kepala berarti mempertahankan kehendak meskipun sudah jelas keliru.

Karena itu, Adeg Wengkon dapat menjadi piwulang:

“Teguhlah dalam prinsip, tetapi jangan menutup pintu terhadap kebijaksanaan.”

Inilah bentuk keteguhan yang matang.


Kolomunyeng dan Adeg Wengkon

Jika kedua unsur tersebut dibaca bersama:

Kolomunyeng → bergerak menghadapi perubahan.

Adeg → tetap tegak dalam prinsip.

Wengkon → menjaga wilayah tanggung jawab.

Maka terdapat keseimbangan:

“Bergerak mengikuti perubahan zaman, tetapi tetap tegak menjaga nilai.”

Manusia yang baik bukan manusia yang selalu kaku mempertahankan masa lalu, tetapi juga bukan manusia yang mengikuti semua perubahan tanpa prinsip.

Ia harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.


Sejarah Mataram Amangkurat I

Amangkurat I merupakan putra Sultan Agung dan menjadi penguasa Mataram setelah wafatnya ayahnya. Ia memerintah pada 1646–1677. Sumber sejarah lokal dan akademik mencatat bahwa pada masa pemerintahannya Mataram mengalami perubahan besar, termasuk pemindahan pusat kerajaan dari Karta ke Plered.

Plered kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan baru. Pembangunannya menggunakan batu bata dan dilengkapi berbagai fasilitas kerajaan, termasuk benteng, masjid, serta jaringan air. Catatan sejarah Plered menunjukkan bahwa pembangunan tersebut berlangsung bertahap selama pemerintahan Amangkurat I.


Plered sebagai Pusat Mataram

Pemindahan pusat pemerintahan ke Plered merupakan salah satu ciri penting masa Amangkurat I.

Keraton Plered dibangun dengan karakter yang berbeda dari Karta. Kompleksnya dikelilingi tembok dan memiliki berbagai bangunan serta sistem perairan. Plered bahkan mempunyai kawasan air yang dikenal dalam sumber-sumber sejarah sebagai Segarayasa.

Secara filosofis, pembangunan Plered menunjukkan keinginan Amangkurat I untuk menciptakan pusat kekuasaan yang kuat dan terpusat.

Namun kekuatan fisik sebuah keraton ternyata tidak otomatis menjamin kestabilan politik.


Amangkurat I dan Konsolidasi Kekuasaan

Salah satu karakter utama pemerintahan Amangkurat I adalah usaha memusatkan kekuasaan di tangan raja.

Kajian sejarah mengenai pemerintahannya mencatat adanya upaya konsolidasi administrasi dan keuangan sekaligus penumpasan berbagai bentuk perlawanan. Kebijakan tersebut justru menimbulkan berbagai konflik dengan keluarga kerajaan, bangsawan, dan kelompok-kelompok lain.

Di sinilah sejarah Amangkurat memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan filosofi Adeg Wengkon.

Kekuatan diperlukan untuk menjaga kerajaan, tetapi kekuatan tanpa keseimbangan dan kebijaksanaan dapat menimbulkan perlawanan.


Konflik dan Pemberontakan Trunajaya

Pada masa akhir pemerintahan Amangkurat I, Mataram menghadapi pemberontakan Trunajaya.

Pemberontakan tersebut berkembang menjadi ancaman besar bagi kerajaan. Pada 1677, pasukan Trunajaya berhasil menguasai Keraton Plered sehingga Amangkurat I terpaksa meninggalkan pusat kerajaan.

Amangkurat I kemudian melarikan diri ke arah barat untuk mencari bantuan. Ia wafat pada 1677 dalam perjalanan dan dimakamkan di Tegalarum. Setelah itu, putranya Amangkurat II melanjutkan perjuangan mempertahankan kekuasaan Mataram.

Peristiwa jatuhnya Plered menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Mataram.

Tags: , , , , ,

Keris Kolomunyeng Mataram Amangkurat

Berat 2500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 21 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja