Beranda » Keris Kuno » Keris Sempaner Pamor Junjung Derajat
click image to preview activate zoom

Keris Sempaner Pamor Junjung Derajat

Rp 7.555.000
Stok Tersedia
Kategori Keris Kuno

Jenis pusaka : Keris Lurus
Dhapur : Sempaner
Pamor : Junjung Derajat
Tangguh : Pajajaran
Deder : Banaran
Bahan : Tulang
Mendak : Parijatha
Bahan : Kuningan
Warangka : Gayaman Wulan Tumanggal
Bahan : Kayu Cendana Wangi
Pendok : Bunton Lung Cukid
Bahan : Mamas
Panjang bilah : 32 cm
Panjang gonjo : 8,2 cm
Panjang bilah : 6,5 cm

Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan yang lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Sempaner Pamor Junjung Derajat

Filosofi Dhapur Sempaner

Nama Sempaner dapat direnungkan sebagai gambaran tentang keteguhan, ketepatan arah, dan kemampuan menempatkan diri dalam perjalanan kehidupan.

Secara filosofis, Sempaner dapat dijadikan pengingat bahwa manusia harus mengetahui ke mana tujuan hidupnya diarahkan.

Seseorang yang memiliki tujuan tetapi tidak memiliki keteguhan akan mudah berubah mengikuti keadaan.

Sebaliknya, orang yang teguh tetapi tidak memiliki tujuan hanya akan berjalan tanpa arah.

“Teguh dalam langkah, jelas dalam tujuan, dan bersih dalam niat.”

Inilah salah satu pesan yang dapat direnungkan dari nama Sempaner.


Filosofi Pamor Junjung Derajat

Junjung Derajat merupakan salah satu nama pamor yang secara simbolik sangat jelas maknanya.

Junjung berarti mengangkat atau meninggikan.

Derajat berkaitan dengan martabat, kedudukan, kehormatan, dan kualitas diri.

Maka Junjung Derajat dapat dimaknai sebagai:

“Mengangkat harkat dan martabat menuju keadaan yang lebih baik.”

Namun makna “derajat” tidak seharusnya hanya dipahami sebagai jabatan atau kekayaan.

Derajat yang lebih tinggi justru dapat berarti:

  • semakin matang dalam berpikir,
  • semakin baik dalam berbudi,
  • semakin luas dalam ilmu,
  • semakin bertanggung jawab,
  • semakin mampu mengendalikan diri.

Dengan demikian, pamor Junjung Derajat mengajarkan bahwa kenaikan derajat lahir harus diikuti peningkatan derajat batin.


Junjung Derajat Bukan Sekadar Kekayaan

Ada perbedaan antara naik kedudukan dan naik derajat.

Seseorang dapat naik jabatan, tetapi belum tentu naik kualitas dirinya.

Seseorang dapat menjadi kaya, tetapi belum tentu menjadi mulia.

Seseorang dapat memiliki banyak pengikut, tetapi belum tentu memiliki kewibawaan.

Karena itu:

“Derajat sejati bukan seberapa tinggi manusia ditempatkan oleh dunia, tetapi seberapa tinggi ia mampu menjaga budi pekertinya.”

Pamor Junjung Derajat dapat menjadi pengingat agar keberhasilan tidak melahirkan kesombongan.


Sempaner dan Junjung Derajat

Jika kedua unsur tersebut disatukan:

Sempaner → keteguhan arah dan perjalanan hidup.

Junjung Derajat → peningkatan martabat dan kualitas diri.

Maka filosofi keseluruhannya:

“Naiklah derajatmu melalui laku, bukan hanya melalui kedudukan.”

Artinya, setiap pencapaian harus diperoleh dengan proses yang benar.

Ilmu diperoleh dengan belajar.
Kekayaan diperoleh dengan usaha.
Kewibawaan diperoleh dengan keteladanan.
Kepercayaan diperoleh dengan kejujuran.


Sejarah Kerajaan Pajajaran

https://images.openai.com/static-rsc-4/hD3b2LYk-LfPlrMmIZFgFkXsXwt1OAZXGbsC3wsw1tE2Kp4TZ2SVlMG5QNsZTJgh6OBNcxMXDoiDgRNZbYBGfPIWpYYSJrmg1EBE4u1w0JNPmjYWk_RDXFy8FRcnZEByjpa4D2QCqVuZI-0iJ4TmTybwO9-f-ngwygkJyqzc1deGUiFaex5P5cZU1EM_sIOG?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/w_TLy3s_uLlYS2nJh0KjuzlCXqhXzRI540j4EzU5XYGiH_GM05WoeBjxbh8xJFyE_6fugDmuMG2D6r8B2cvFwKhCDYM3DmLkvr7BmmpJ1jtkcG03yINO5rs3zOI5BakIb8-NiHkkPZJapha0OBp8QYt3mf-iPaB4AlVbEvw-yvf8gVSPMJMSIujziCSHHpnb?purpose=fullsize
https://images.openai.com/static-rsc-4/mK-kHO6Vwc69hI8jW1tNdP9bgEg5fmrP899CZpM8uT2lLCkp8ltpjiSGPvAwQNMm6VvaH9k4XaKvlTINYVIbWL-2Z69usaizpdT96P2hXS5q1MAFqHmHDD4rvctqpql2K0cK-Fsc0oVZ7xmVjHCNUQbWvHAzt6lC6o6OcD2UvDeewunia7Z6Dj_rSWFTK5bc?purpose=fullsize
Kerajaan Sunda/Pajajaran merupakan salah satu kerajaan penting dalam sejarah Jawa Barat. Dalam sumber-sumber sejarah, kerajaan ini dikenal sebagai Kerajaan Sunda, sementara nama Pajajaran kemudian sangat populer dalam tradisi dan historiografi masyarakat Sunda.

Pusat pemerintahannya berada di kawasan Pakuan, yang secara umum diidentifikasi dengan wilayah Bogor sekarang.

Salah satu sumber terpenting untuk memahami sejarah Pakuan adalah Prasasti Batutulis, yang dibuat pada masa Prabu Surawisesa untuk mengenang ayahnya, Sri Baduga Maharaja.


Sri Baduga Maharaja / Prabu Siliwangi

Salah satu raja paling terkenal dalam tradisi Pajajaran adalah Sri Baduga Maharaja, yang dalam tradisi Sunda populer dikenal sebagai Prabu Siliwangi.

Masa pemerintahannya ditempatkan pada 1482–1521.

Pada masa Sri Baduga, Pakuan berkembang sebagai pusat pemerintahan Sunda. Prasasti Batutulis memberikan gambaran mengenai pembangunan dan perhatian raja terhadap berbagai fasilitas kerajaan.

Tradisi sejarah Sunda menggambarkan Sri Baduga sebagai sosok raja yang mempunyai perhatian terhadap:

  • tata pemerintahan,
  • pertahanan,
  • kehidupan masyarakat,
  • keagamaan,
  • serta pembangunan kawasan kerajaan.

Karena itu, sosok Sri Baduga kemudian menjadi simbol kepemimpinan yang kuat tetapi tetap berakar pada tata kehidupan masyarakat.


Pajajaran dan Pakuan

Pakuan bukan sekadar tempat kedudukan raja.

Ia merupakan pusat kehidupan politik dan kebudayaan Sunda.

Kawasan kerajaan memiliki hubungan dengan wilayah pertanian, perdagangan, serta jalur hubungan antardaerah.

Pajajaran juga mempunyai hubungan perdagangan dengan kawasan pesisir. Hubungan dengan pelabuhan-pelabuhan Sunda, termasuk Sunda Kalapa, membuat kerajaan mempunyai posisi penting dalam jaringan perdagangan Nusantara.

Namun memasuki abad ke-16, perubahan politik di pesisir Jawa semakin kuat. Munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Demak dan kemudian kekuatan Banten membawa perubahan besar terhadap keseimbangan politik di Jawa bagian barat.


Masa Akhir Pajajaran

Pada abad ke-16, Pajajaran menghadapi tekanan politik yang semakin besar.

Banten berkembang menjadi kekuatan penting di wilayah barat Jawa. Sunda Kalapa kemudian berada di bawah pengaruh kekuatan baru tersebut.

Peristiwa penting terjadi pada 1527, ketika Sunda Kalapa jatuh ke tangan pasukan yang dipimpin Fatahillah menurut tradisi sejarah yang berkembang kemudian. Nama Sunda Kalapa kemudian dikenal sebagai Jayakarta.

Pajajaran sendiri masih bertahan hingga abad ke-16 dan mengalami berbagai perkembangan politik sebelum akhirnya berakhir sekitar 1579, ketika Pakuan jatuh kepada kekuatan Banten pada masa Maulana Yusuf.

Dengan berakhirnya Pakuan, berakhirlah kekuasaan Pajajaran sebagai kerajaan besar yang berdiri sendiri.

Tags: , , , ,

Keris Sempaner Pamor Junjung Derajat

Berat 2000 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 16 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait
Sidebar
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

Chat via Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Sejarah Keris
● online
Sejarah Keris
● online
Halo, perkenalkan saya Sejarah Keris
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja