Keris Jalak Nyucup Madu HB Sepuh
Rp 6.500.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Lurus
Dhapur : Jalak Nyucup Madu
Pamor : Wengkon Isen
Tangguh : HB
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho
Deder/Handle : Nunggak Semi, Bahan Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Bejen, Bahan Kuningan
Keris Jalak Nyucup Madu HB Sepuh
Filosofi Dhapur Jalak Nyucup Madu

Jalak Nyucup Madu termasuk dhapur keris lurus dengan ukuran bilah normal. Ciri yang lazim disebut antara lain gandhik polos, pejetan, tikel alis, sogokan depan yang pendek, serta greneng.
Namanya dapat direnungkan dari tiga kata:
Jalak — burung yang dalam simbol tradisional sering dikaitkan dengan kecerdasan dan kemampuan bergaul.
Nyucup — menyerap atau mengisap.
Madu — sesuatu yang manis dan bernilai.
Maka filosofi Jalak Nyucup Madu dapat dimaknai sebagai:
“Pandai menyerap sari kehidupan yang baik.”
Manusia hendaknya mampu mengambil pelajaran dari setiap pengalaman. Tidak semua yang ditemui harus ditiru, tetapi dari setiap peristiwa selalu ada sesuatu yang dapat dipetik sebagai pengetahuan.
Karena itu Jalak Nyucup Madu mengajarkan:
- cerdas membaca keadaan,
- pandai bergaul,
- mampu berkomunikasi dengan baik,
- mau belajar dari pengalaman,
- dan mencari rezeki melalui jalan yang baik.
Dalam penafsiran tradisional, Jalak Nyucup Madu juga dikaitkan dengan kemampuan membangun hubungan sosial dan mencari penghidupan tanpa merugikan pihak lain.
Makna “Nyucup Madu”
Ada filosofi yang lebih dalam pada kata madu.
Madu berasal dari sari bunga yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.
Begitu pula kehidupan.
Keberhasilan jarang datang sekaligus.
Ia merupakan kumpulan dari:
- pengalaman,
- ilmu,
- kerja keras,
- hubungan baik,
- kesabaran,
- dan doa.
Maka nyucup madu dapat menjadi perlambang seseorang yang pandai mengambil sari kebaikan dari kehidupan.
Bukan mengambil semuanya.
Bukan merusak sumbernya.
Tetapi mengambil secukupnya dan tetap menjaga sumber kehidupan.
Inilah yang kemudian melahirkan sebuah piwulang:
“Njupuk paedahe, aja ngrusak sumbering paedah.”
Ambillah manfaatnya, tetapi jangan merusak sumber manfaat tersebut.
Filosofi Pamor Wengkon Isen

Wengkon secara simbolik dapat dikaitkan dengan batas, pagar, atau wilayah yang dijaga. Sementara isen dapat direnungkan sebagai sesuatu yang mengisi.
Karena itu Wengkon Isen dapat dimaknai sebagai:
“Membatasi sekaligus mengisi.”
Dalam kehidupan, manusia membutuhkan batas.
Batas antara:
- hak dan kewajiban,
- kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain,
- keinginan dan keserakahan,
- keberanian dan kecerobohan,
- keterbukaan dan kehilangan prinsip.
Tanpa batas, sesuatu yang baik sekalipun dapat berubah menjadi berlebihan.
Karena itu Wengkon Isen dapat menjadi simbol pengendalian diri.
Salah satu sumber populer mengenai pamor Wengkon Isen juga menafsirkan wengkon sebagai pagar atau batas. Penafsiran seperti ini sebaiknya ditempatkan sebagai makna simbolik tradisional, bukan klaim perlindungan gaib yang terbukti secara ilmiah.
Wengkon Isen: Batas yang Harus Diisi
Ada makna yang menarik jika kata wengkon dan isen tidak dipisahkan.
Wengkon tanpa isen hanyalah batas kosong.
Isen tanpa wengkon dapat menjadi sesuatu yang tidak terarah.
Dalam kehidupan:
Batas memberikan arah, sedangkan isi memberikan makna.
Manusia harus tahu batas dirinya, tetapi batas tersebut harus diisi dengan:
ilmu, tata krama, tanggung jawab, kesetiaan, dan kebajikan.
Maka Wengkon Isen bukan hanya tentang menjaga diri dari sesuatu yang buruk, tetapi juga tentang mengisi diri dengan sesuatu yang baik.
Jalak Nyucup Madu + Wengkon Isen
Jika kedua unsur tersebut disatukan, muncul filosofi yang sangat kuat:
Jalak Nyucup Madu
→ pandai menyerap kebaikan dan mencari penghidupan.
Wengkon Isen
→ mampu menjaga batas dan mengisi kehidupan dengan nilai.
Maka:
“Pandai mengambil sari kehidupan, tetapi tetap tahu batas dalam menjalankannya.”
Inilah keseimbangan antara kepandaian dan pengendalian diri.
Seseorang boleh pandai mencari rezeki.
Boleh memiliki banyak relasi.
Boleh memiliki kedudukan.
Boleh mengejar cita-cita.
Tetapi semuanya harus memiliki wengkon—batas dan prinsip.
Sejarah Keris HB — Hamengku Buwana

Apabila “HB” yang dimaksud adalah tradisi keris Kasultanan Yogyakarta, maka pembahasannya berkaitan dengan lingkungan budaya Keraton Yogyakarta dan para Hamengku Buwana.
Kasultanan Yogyakarta berdiri setelah Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi Mataram menjadi dua pusat kekuasaan utama, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Tradisi keris kemudian terus hidup di lingkungan keraton dan masyarakat Yogyakarta.
Dalam budaya Jawa, keris bukan hanya senjata. Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta menjelaskan bahwa keris merupakan bagian penting dari kelengkapan budaya Jawa dan lingkungan kerajaan/keraton, termasuk sebagai benda pusaka serta perlengkapan upacara.
Keris juga memiliki hubungan erat dengan status sosial dan tata busana tradisional. Karena itu, dalam lingkungan keraton, keris dapat mempunyai fungsi simbolis yang berkaitan dengan kedudukan, kehormatan, dan identitas seseorang.
Tradisi Keris di Lingkungan Yogyakarta
Perkembangan keris Yogyakarta tidak terlepas dari keberlanjutan tradisi Mataram.
Keris mengalami perkembangan bentuk dan gaya sesuai lingkungan zaman serta daerah. Dalam terminologi perkerisan, perubahan gaya tersebut dikenal melalui konsep tangguh, yang digunakan untuk mengelompokkan gaya berdasarkan zaman dan daerah pembuatannya.
Karena itu, ketika kita menyebut keris HB, perlu hati-hati membedakan antara:
- keris yang benar-benar memiliki atribusi historis tertentu,
- keris yang dibuat pada lingkungan atau periode Kasultanan Yogyakarta,
- dan keris yang kemudian diberi penyebutan HB berdasarkan tradisi kolektor.
Nama HB saja belum cukup untuk menentukan usia atau asal sebuah bilah.
Tags: HB, Jalak Nyucup Madu, keris hb, Keris Jalak Nyucup Madu HB Sepuh, Pamor Wengkon Isen, Sejarah Keris HB
Keris Jalak Nyucup Madu HB Sepuh
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 5 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Parungsari Luk 13 dengan kinatah emas Panji Wilis dan pamor Beras Wutah merupakan pusaka berkelas tinggi yang memadukan keindahan visual, nilai sejarah, serta filosofi kemakmuran dan kewibawaan. Berlandaskan tangguh Mataram era Sultan Agung, keris ini mencerminkan karakter kepemimpinan yang matang, halus, namun berpengaruh kuat. Sejarah & Latar Tangguh Pada masa Kesultanan Mataram, khususnya era… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 28.888.000Keris Tilam Upih Pamor Lar Gangsir mempunyai perpaduan simbol yang menarik. Tilam Upih erat dengan filosofi ketenteraman, sandaran hidup, dan kesejahteraan keluarga, sedangkan Pamor Lar Gangsir secara tradisional dimaknai sebagai perlambang kelancaran jalan, kemampuan mencari peluang, dan kecerdikan menghadapi kehidupan. Sementara itu, Tuban merupakan salah satu kawasan penting di pesisir utara Jawa yang mempunyai sejarah… selengkapnya
Rp 30.000.000Jenis Pusaka : Luk 5 Dhapur Keris (bentuk keris) : Singo Barong Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat Warangka : Gayaman Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho Pendok : Bunton Jogja Motif Modang Bahan : Tembaga Lamen Filosofi Keris Singo Barong Keris Singo Barong merupakan salah satu pusaka paling… selengkapnya
Rp 33.333.000 Rp 35.555.000Keris Singo Barong Luk 13 Kinatah Emas merupakan pusaka dengan simbolisme yang sangat kuat. Perpaduan dhapur Singo Barong, Luk 13, dan kinatah emas dapat dimaknai sebagai lambang keberanian, kewibawaan, keteguhan, kepemimpinan, serta kemuliaan yang disertai tanggung jawab. Sementara itu, Mataram Senopaten merupakan periode penting dalam pembentukan Mataram Islam, terutama terkait Panembahan Senopati dan proses perubahan… selengkapnya
Rp 100.000.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Jalak Ngore Pamor: Ron Genduru Winengku Tangguh: Mataram Amangkurat Warangka: Gayaman Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras Filosofi Dhapur Jalak Ngore Dhapur Jalak Ngore dikenal sederhana namun sarat makna. Ricikannya meliputi: Gandik lugas Tikel alis Pejetan Greneng bersusun Burung jalak sejak lama menjadi simbol kejujuran, kejernihan hati, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Pesan… selengkapnya
*Harga Hubungi CSJenis: Keris Luk 7 Dhapur: Balebang Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Bali Sepuh Warangka: Bali Beblatungan, Bahan Kayu Timoho
Rp 9.000.000 Rp 12.000.000Jenis Pusaka : Lurus Dhapur : Kaladite Pamor : Pedaringan Kebak Tangguh : Mataram Sultan Agung Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Cemara Pendok : Blewahan Cukit Bahan : kuningan Filosofi Dhapur Kaladite Keris Kaladite merupakan salah satu pusaka yang dihormati dalam tradisi Tosan Aji. karena memuat ajaran mendalam tentang ketepatan membaca waktu, ketajaman… selengkapnya
Rp 12.500.000 Rp 14.375.000Jenis: Keris Luk 5 Dhapur: Kebo Kantong Pamor: Kulit Semangka Tangguh: Madiun Sepuh Warangka: Branggah Yogyakarta Bahan : Kayu Timoho
Rp 14.444.000 Rp 16.666.000Jenis: Keris Lurus Dhapur: Brojol Pamor: Brahma Watu Tangguh: Madura Sepuh ( Empu Koso ) Warangka: Gayaman Surakarta, Kayu Timoho
Rp 5.500.000Filosofi Keris Tilam Upih Tilam Upih secara sederhana dapat dimaknai dari kata tilam, yaitu alas/tempat berbaring, dan upih, yang merujuk pada pelepah pembungkus atau selubung dari bagian tanaman pinang/kelapa. Dalam tafsir budaya perkerisan, bentuknya yang lurus dan sederhana justru membawa filosofi yang dalam: ketenteraman, kesederhanaan, kerukunan, dan kebahagiaan keluarga. Tradisi perkerisan juga kerap menempatkan Tilam… selengkapnya
Rp 3.500.000 Rp 5.000.000








Keris Sabuk Inten Mataram Sultan Agung
Keris Tilam Upih Pamor Wos Wutah Tangguh Tuban
Keris Pasopati Tangguh Mangkubumen Garap Dalem
Keris Brojol Pamor Brahma Watu Tangguh Madura Sepuh
Hiasan Dinding Ukiran Perjamuan Kudus
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.