Keris Parungsari Luk 13 Mataram Amangkurat
Rp 5.500.000| Stok | Tersedia |
| Kategori | Keris Sepuh |
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur : Parungsari
Pamor : Wos Wutah
Tangguh : Mataram Amangkurat
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Trembalo Iras
Keris Parungsari Luk 13 Mataram Amangkurat
Filosofi Keris Parungsari

Nama Parungsari dapat direnungkan secara simbolis sebagai gambaran keteguhan, keindahan, dan inti kehidupan. Dalam penghayatan terhadap keris, nama dhapur tidak selalu memiliki satu tafsir filosofis yang baku, sehingga pemaknaannya sebaiknya ditempatkan sebagai interpretasi budaya.
Parungsari dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki banyak sisi: ada perjuangan, pencapaian, tanggung jawab, sekaligus kebutuhan untuk menjaga keindahan budi dan ketenteraman batin.
Filosofi sederhananya:
“Menjalani kehidupan dengan keteguhan, mengambil sari dari setiap pengalaman, dan menjadikan perjalanan sebagai jalan menuju kematangan diri.”
Filosofi Luk 13

Luk 13 merupakan salah satu jumlah luk pada keris Jawa. Secara umum, luk keris Jawa berjumlah ganjil, seperti 1, 3, 5, 7, 9, 11, 13, dan seterusnya.
Secara filosofis, lekukan bilah dapat direnungkan sebagai gambaran liku-liku kehidupan. Jalan hidup tidak selalu lurus; seseorang akan melewati berbagai perubahan, ujian, keberhasilan, dan pengalaman.
Angka 13 dalam konteks ini dapat dijadikan simbol perjalanan yang panjang dan berlapis. Bukan angka yang harus dianggap memiliki kekuatan tertentu, melainkan sebuah pengingat bahwa kedewasaan lahir melalui proses.
“Semakin panjang perjalanan, semakin banyak pengalaman yang membentuk kebijaksanaan.”
Filosofi Pamor Wos Wutah

Wos Wutah merupakan salah satu nama pamor yang sangat dikenal dalam tradisi keris Jawa. Secara harfiah, wos berkaitan dengan beras/nasi, sedangkan wutah berarti tumpah atau berhamburan.
Dari makna tersebut lahir simbolisme tentang kemakmuran, kecukupan, dan rezeki yang tersebar.
Pamor Wos Wutah dapat direnungkan sebagai doa agar kehidupan memiliki kecukupan, tetapi sekaligus mengandung pesan bahwa rezeki hendaknya dikelola dengan bijaksana dan dibagikan kepada orang lain.
Bukan hanya banyaknya harta yang menjadi ukuran keberlimpahan, melainkan juga:
- kecukupan pangan,
- ketenteraman keluarga,
- kesehatan,
- ilmu,
- hubungan yang baik,
- serta kemampuan memberikan manfaat kepada sesama.
Dengan demikian:
Wos Wutah bukan sekadar simbol “banyak rezeki”, tetapi pengingat untuk mensyukuri, mengelola, dan membagikan keberlimpahan dengan bijaksana.
Sejarah Mataram Amangkurat

Untuk memahami konteks Mataram Amangkurat, perlu dibedakan antara sejarah kerajaan dan klaim bahwa sebuah keris tertentu benar-benar dibuat pada masa raja tertentu.
Amangkurat I merupakan putra dan penerus Sultan Agung, memerintah Mataram pada 1646–1677. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan ke Plered. Sumber arkeologi mencatat bahwa pembangunan atau persiapan Plered berkaitan dengan periode pemerintahannya, dan Plered kemudian menjadi pusat kerajaan Mataram.
Situs Kauman-Plered saat ini tercatat sebagai cagar budaya dan merupakan bagian dari tinggalan Mataram Islam abad ke-17 pada masa Amangkurat I.
Mataram pada Masa Amangkurat I
Masa Amangkurat I merupakan periode yang berbeda karakter dibanding masa Sultan Agung. Mataram menghadapi berbagai persoalan politik dan perubahan hubungan dengan kekuatan-kekuatan di Jawa.
Hubungan Mataram dengan VOC juga menjadi bagian penting dari konteks politik periode tersebut. Sumber sejarah mencatat adanya perjanjian antara Amangkurat I dan VOC serta kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan pesisir Jawa.
Pada paruh akhir pemerintahannya terjadi pemberontakan Trunajaya. Konflik tersebut berkembang hingga Plered dapat dikuasai pemberontak, dan Amangkurat I kemudian meninggalkan keraton. Setelah Amangkurat I wafat, kekuasaan diteruskan oleh Amangkurat II, yang kemudian membawa pusat pemerintahan ke Kartasura.
Tags: Amangkurat I, Filosofi Keris Parungsari, Keris Parungsari Luk 13 Mataram Amangkurat, Luk 13, Pamor Wos Wutah, Sejarah Mataram Amangkurat
Keris Parungsari Luk 13 Mataram Amangkurat
| Berat | 2500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 6 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sengkelat Luk 13 dengan pamor Segoro Muncar adalah salah satu pusaka yang sarat makna filosofis, spiritual, dan estetika tinggi dalam tradisi tosan aji Jawa. Mengacu pada tangguh Mataram era Sultan Agung, keris ini mencerminkan kekuatan kepemimpinan, kewibawaan, dan kelimpahan rezeki. Sejarah & Tangguh Pada masa Kerajaan Kesultanan Mataram, khususnya era Sultan Agung (abad ke-17),… selengkapnya
Rp 22.222.000 Rp 25.555.000Filosofi Dhapur Sengkelat Sengkelat merupakan salah satu dhapur keris luk 13 yang dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Secara filosofis, nama Sengkelat dapat direnungkan sebagai gambaran tentang keteguhan dan kesiapan menghadapi berbagai keadaan. Seorang manusia tidak akan selalu berada dalam keadaan mudah. Ada masa ketika ia harus mempertahankan pendirian, menghadapi tekanan, dan mengambil keputusan yang tidak… selengkapnya
Rp 12.555.000Keris Jalak Tilam Sari Pamor Pendaringan Kebak merupakan perpaduan yang menarik antara filosofi Jalak Tilam Sari yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, ketenteraman dan kecukupan, dengan Pamor Pendaringan Kebak yang secara simbolik menggambarkan tempat penyimpanan atau lumbung yang penuh. Dalam pembacaan keris, perlu dibedakan antara dhapur, pamor, dan tangguh: dhapur menjelaskan bentuk bilah, pamor menjelaskan pola… selengkapnya
Rp 15.555.000 Rp 17.555.000Dhapur Carita Keprabon Keris Carita Keprabon termasuk dhapur keris yang bernilai simbolik tinggi. Kata: Carita → kisah, perjalanan, riwayat Keprabon → kerajaan, istana, pusat kekuasaan Makna filosofisnya: pusaka yang melambangkan perjalanan hidup seorang pemimpin menuju puncak kekuasaan yang sah dan bermartabat. Dhapur ini sejak dahulu: identik dengan lingkungan keraton, sering dikaitkan dengan pejabat tinggi dan… selengkapnya
Rp 23.333.000 Rp 25.555.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Segoro Muncar Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan pusaka agung yang sarat makna bekal hidup, kemakmuran, dan kewibawaan kepemimpinan. Dhapur Jalak Sangu Tumpeng dikenal sebagai keris piandel para pemimpin, pejabat kerajaan, dan saudagar besar pada masa Mataram Islam. Di era Sultan Agung Hanyokrokusumo, keris dengan dhapur dan pamor seperti ini sering… selengkapnya
*Harga Hubungi CSFilosofi Dhapur Sepokal Sepokal secara tradisional dikenal sebagai salah satu dhapur keris dengan Luk 7. Dalam penafsiran simbolik, nama dan bentuknya dapat dikaitkan dengan watak yang kokoh, sigap, dan memiliki kesiapan menghadapi keadaan. Kata pokok sendiri dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami filosofi tersebut: sesuatu yang menjadi dasar atau inti. Maka Sepokal dapat direnungkan sebagai… selengkapnya
Rp 5.500.000Dhapur Keris Parungsari Keris Parungsari adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas yang memiliki karakter sangat anggun. Panjang bilah umumnya sedang dengan ricikan lengkap: Kembang kacang Lambe gajah dua (ciri pembeda utama dengan dhapur Sengkelat yang hanya satu) Sraweyan Sogokan rangkap Pejetan Greneng Menurut berbagai serat dan penuturan ahli keris, dhapur ini diasosiasikan… selengkapnya
Rp 21.111.000 Rp 24.277.650Dhapur Carita Keprabon Keris Carita Keprabon adalah dhapur yang secara filosofi menggambarkan perjalanan kekuasaan, tata pemerintahan, dan amanah kepemimpinan. Kata carita berarti kisah atau perjalanan, sedangkan keprabon berarti istana, pemerintahan, atau kekuasaan sah. Makna mendalam dhapur ini: setiap pemimpin memiliki carita atau perjalanan hidup, kekuasaan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah, keprabon harus dijaga dengan kebijaksanaan,… selengkapnya
Rp 28.888.000 Rp 33.333.000Jenis Pusaka : Luk 13 Dhapur : Sengkelat Pamor : Beras Wutah Akhyodiat Meteor Tangguh : Mataram Senopaten Deder : Yudhowinatan Bahan : Kemuning Bang Mendak : Kendit Seling Merah Bahan : Tembaga Permata Sintetis Warangka : Ladrang Surakarta Bahan : Kayu Trembalo Pendok : Blewah Cukit Pangeranan Bahan : Tembaga I. DHAPUR SENGKELAT –… selengkapnya
Rp 18.888.000 Rp 21.721.200KERIS TILAM UPIH Keris Tilam Upih – Dalam kisah tutur yang hidup di masyarakat Jawa, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan dawuh yang hingga kini menjadi pitutur luhur dalam dunia tosan aji: keris pertama yang sebaiknya dimiliki seseorang adalah Keris Tilam Upih. Sekilas, dawuh ini terasa janggal. Mengapa bukan keris-keris agung yang secara visual lebih memikat dan… selengkapnya
Rp 25.555.000 Rp 29.999.000







Hiasan Dinding Ukiran Perjamuan Kudus
Keris Parungsari Luk 13 Sedayu TUS
TEGEK SET KOLONG MUZHIMU ZZTPY WHITE PRO & BLUE
TEGEK SET KOLONG ORCA NAVARA 450 540
Minyak Keris Aroma Bunga Kantil Kraton Surakarta Premium
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.